“Rindu Banda Sapuluah”, Novel Berbahasa Minangkabau Karya Guru Besar FBS UNP

582

JURNAL SUMBAR | Padang — Guru Besar FBS Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Ermanto, S.Pd. M.Hum dengan nama pena Ermanto Tolantang terbitkan novel berbahasa Minangkabau. Novel yang ketiga dihasilkan oleh Wakil Dekan I FBS ini berjudul “Rindu Banda Sapuluah” dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Tunggal Jakarta pada bulan Juli 2019. Novel ini menyusul novel pertama yang berjudul “Tujuh Cinta Si Anak Kampung” terbut tahun 2014 dan novel kedua berjudul “Sansai” terbit tahun 2018.

“Secara teknis novel ini adalah sama dengan novel berbahasa Indonesia lainnya, hanya saja novel ini menggunakan bahasa Minangkabau,” jelas Ermanto, Guru Besar Linguistik Universitas Negeri Padang.

Ermanto Tolantang menjelaskan bahwa proses penulisan novel ini sama dengan proses penulisan kedua novel terdahulu yakni ditulis secara bersambung melalui media sosial hampir selama dua bulan dan setelah itu langsung diproses oleh penerbit.

“Jadi dalam proses penulisan novel ini selalu terjadi dialog dan diapresiasi secara langsung oleh para pembaca. Proses penulisan novel seperti ini tentu berbeda dengan proses penulisan cerita bersambung melalui media cetak yang tidak terjadi dialog pembaca dengab penulis atau proses penulisan novel yang langsung diterbitkan,” jelas Ermanto Tolantang.

Menurut Ermanto dosen FBS UNP ini, novel ini bercerita tentang keteguhan dan motivasi anak muda Minangkabau Banda Sapuluah (Pesisir Selatan) untuk merantau dan ingin berhasil secara ekonomi walaupun meninggalkan sang kekasih di kampung. Ermanto menambahkan di dalam novel “Rindu Banda Sapuluah” ini juga dibicarakan persoalan adat pemilihan datuk dengan segala macam politik kampung dan semangat pengabdian perantau untuk membangun serta menjayakan daerah Banda Sapuluah.

Ketika ditanya target karya novel berikutnya yang akan dihasilkan, Ermanto Tolantang menjelaskan akan segera menyelesaikan novel berjudul “Luka Renjana” yang belum siap. Novel “Luka Renjana” jelas Ermanto juga dihasilkan melalui proses penulisan secara bersambung melalui media sosia dan selalu terjadi dialog pembaca dengan pengarang. (Agusmardi/Humas UNP)