Gerakan Rekonsiliasi Indonesia Jadi Momentum Mengikatkan Persatuan dan Kesatuan

363

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan rasa persatuan. Karena persatuan menjadi kunci menjaga bangsa Indonesia tetap utuh.

Pendiri GMRI Eko Sriyanto Galgendu menyatakan bahwa, rekonsiliasi ini bentuk keinginan bersama dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan mencoba merangkul semua pihak tanpa membeda-bedakan suku, ras atau agama.

“Kita mencoba mengetuk pintu hati mereka akan pentingnya satu ikatakan kebangsaan. Kami yakinkan mereka akan tanah dan air yang melahirkan,” kata Eko Galgendu di kawasan Gajah Mada, Jakarta Barat, Senin (26/10).

Eko mengatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menguatkan ikatan kebangsaan. Kemudian dia bertemu dengan sejumlah pemuka agama demi terwujudnya Gerakan Rekonsiliasi Indonesia.

“Kami jelaskan kepada mereka bahwa kondisi sekarang ini sangat memerlukan ikatakan kebangsaan.  Gingga suatu saat saya bertemu dengan Bhante Dammasubho Mahathera,” jelas Eko.

Berkat kegigihan dan semangatnya Eko berhasil meyakinkan para pemuka agama untuk melanjutkan Gerakan Rekonsliasi tersebut.

“Saya kemudian bisa mengetuk hatinya, meyakinkan kepada beliau. Walau saya tahu beliau sebagai pemuka agama Budha pastinya tidak kemudian sederhana ketika memahaminya,” imbuhnya.

Pelaksanaan Rekonsiliasi Indonesia ini dapat terjadi setelah melewati proses panjang, yang berawal dari sebuah renungan suci yang dilakukan di kawasan Siti Inggil, Desa Bejijong, Trowulan Mojokerto.

“Sebenarnya proses yang terjadi hari ini merupakan suatu rangkaian dari peristiwa. Semuanya berawal dari renungan suci sumpah palapa,” tutur Eko.

Kala itu telah berproses kurang lebih 2 tahun. Mereka bersama-sama tepatnya pada bulan September beberapa tahun lalu melakukan renungan suci tersebut.

“Kami selenggarakan renungan suci sumpah palapa tempatnya di Mojokerto, yang dipercaya sebagai situs pendiri kerjaan Majapahit,” cetusnya.

Dikatakanjya kebangsaan harus terus diikatkan, dieratkan, dijadikan satu, dilekatkan. Maka pada saat ini menggunakan lambang Gerakan Rekonsiliasi Indonesia.

“Di dalam spirit kebangsaan itu ada ideologi negara yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Jadi kunci dan tegaknya berdirinya negara ini adalah Pancasila,” ucap Eko.

Budayawan Jaya Suprana mengenang ketika berbincang dengan Presiden Indonesia keempat, Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Tentang kampanye pluralismenya mengizinkan perayaan Imlek secara terbuka.

“Kalau bukan atas perjuangan atau prakarsa Gus Dur mustahil hari Raya Imlek di masa Orba resmi dilarang. Itu ternyata dapat dikembalikan pada semula yaitu dirayakan oleh bangsa Indonesia,” ujar Jaya Supraya melalui keterangan video.

Hal ini adalah suatu peristiwa kebudayaan dan peradaban yang sangat beragam untuk bangsa Indonesia. Untuk membutikan Bhineka Tunggal Ika bukan sekedar slogan, tapi menjadi falsapah bangsa Indonesia.

“Gus Dur waktu berpesan cintailah tanah, air dan udara di atas segala-galanya,” imbuh Jaya Suprana.

Dalam kesempatan itu, Jaya Suprana mengapresiasi Gerakan Rekonsiliasi Indonesia untuk menumbuhkan semangat kebangsaan. Seperti yang telah dilakukan para pendiri bangsa terdahulu.

“Saya sampaikan selamat kepada anda semua yang melaksanakan pertemuan hari ini. Untuk membangun semangat kebangsaan kita adalah bangsa Indonesia dan kita cinta Indonesia,” pungkasnya.

Senada, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti mendukung Gerakan Rekonsiliasi Indonesia. Pernyataan sikap warga keturunan Tionghoa sebagai putra-putri Indonesia buah hasil gerakan moral ini.

“Rekonsiliasi Indonesia ini bertujuan untuk memperkuat keberadaan Indonesia menjadi satu wadah, yang kuat guna menuju tujuan bangsa sesuai dengan pembukaan UUD 1945,” tegas Rosarita Niken.

Turut hadir dalam kegiatan itu, diantaranya Mantan Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, Irjen Purn Polisi Budi Setiawan, Mayjen Purn TNI Adi Sudaryanto, Mayjen TNI Purn Sugeng, tokoh Muslim Tionghoa Yusuf Hamka dan pemuka agama laainnya.

Adapun pernyataan sikap warga keturunan Tionghoa sebagai putera-puteri bangsa Indonesia sebagai berikut.

1. Fakta Tanah Air

Sudah hampir 700 tahun, sejak dinaungi dan diarahkan oleh Laksamana Cheng Ho untuk pindah Tanah Air di Indonesia

2. Fakta Sejarah

Sejak hampir 700 tahun lalu memiliki satu ikatan, satu tujuan, satu kehormatan, martabat dan cota-cita dan tujuan bersama sebagai putera-puteri Indonesia.

3. Fakta Tradisi

Sudah hampir 700 tahun kami memiliki tradisi (Turun menurun darah) di Tanah Air dan Tanah Tumpah Darah Indonesia.

4. Fakta Kepemimpinan

Sudah hampir 700 tahun kami dilindungi, dijaga dan diberi kepercayaan oleh Pemimpin Bangsa Indonesia

5. Fakta Kehormatatan dan Kewibawaan

Sudah hampir 700 tahun kehormatan dan kewibawaan kami dijaga oleh Bangsa Indonesia. (Rilis/DEY)