JURNAL SUMBAR| Painan – Di tengah apatisme terhadap wakil rakyat, tiga nama mencuat dari Pesisir Selatan: Novermal, Teguh Dehalsa, dan Iel Fauzi Anwar. Mereka bukan sekadar duduk manis di DPRD, tapi tampil di lapangan, terpantau publik, dan dinilai langsung oleh warga.
Dari 72.000 data digital, mereka memperoleh skor tertinggi dalam pemetaan persepsi publik: Novermal (99/100 dari 26.000 suara), Teguh Dehalsa (98 dari 27.000), dan Iel Fauzi Anwar (97 dari 18.000).
Penilaian tersebut berdasarkan tren pemberitaan lokal, komentar netizen, aktivitas medsos, hingga respon terhadap aksi nyata mereka.
Novermal tampil beda. Ia satu-satunya yang berani melaporkan pembalakan liar di Jalan Bayang–Sarik–Alahan Panjang ke aparat, lengkap dengan dokumentasi.
Ia juga getol mengawal pengawasan pesisir Air Haji dari pukat harimau dan mendorong Perda CSR agar korporasi tidak sekadar manis di proposal, tapi nyata menyumbang untuk daerah.
Teguh Dehalsa mendorong keterbukaan dana desa, membentuk tim pendamping keuangan nagari, serta membina desa wisata mandiri tanpa pencitraan. Ia aktif di lapangan, dari konflik tapal batas hingga pelatihan UMKM lokal. Tidak banyak bicara di media, tapi kerjanya terasa.
Iel Fauzi Anwar tegas soal transparansi. Ia menekan walinagari agar membuka rincian APBDes secara publik. Dalam isu lingkungan, ia membentuk Forum Warga Anti Perambahan dan ikut memantau distribusi kayu malam hari di Silaut dan Tapan. Ia pilih berisik demi rakyat.
Mereka bukan sempurna, tapi tiga ini membuktikan: di antara ratusan yang diam, masih ada yang bertindak.*