Kecanduan Tanpa Asap

Reflektif tentang Candu Digital yang Menggerus Moral Bangsa

oleh. Jon Hendri
DUNIA kini berjalan tanpa batas, dan layar menjadi jendela kehidupan baru.Namun di balik kilau cahaya digital, terselip racun yang tak berbau — candu modern yang tak menampakkan bentuknya, tapi sanggup melumpuhkan kesadaran manusia: judi online.

Permainan ini bukan lagi sekadar hiburan; ia telah menjelma menjadi candu yang menjerat pelan-pelan. Ia tidak meninggalkan bekas di kulit, tidak membuat mata merah, tidak mengundang kecurigaan.Namun efeknya lebih dalam dari sekadar narkoba: ia membunuh dari dalam — perlahan, senyap, tapi pasti.

Racun Halus yang Berwajah Hiburan

Iklan-iklan judi online kini berseliweran di ponsel kita.Kalimatnya manis, nadanya ringan, seolah menawarkan kesenangan sederhana: main sedikit, menang banyak. Namun di balik itu, tersimpan jebakan psikologis yang mematikan. Satu kali menang, timbul rasa percaya diri. Sekali kalah, muncul hasrat untuk mencoba lagi. Dan ketika semuanya habis, yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa malu yang tak berujung. Seorang tokoh masyarakat berkata lirih.

“Kalau narkoba menghancurkan tubuh, judi online menghancurkan jiwa.”
Perbedaannya sederhana: narkoba menodai mata,sedangkan judi online memadamkan cahaya hati.

Normalisasi Dosa di Ruang Digital
Yang paling mengkhawatirkan dari candu ini bukan hanya jumlah uang yang hilang, tetapi kesadaran yang ikut lenyap. Masyarakat mulai terbiasa melihat perjudian digital sebagai hal wajar. Anak muda memandangnya sebagai hiburan, bukan pelanggaran.
Bahkan sebagian orang tua menutup mata, selama tak ada keributan di rumah. Inilah bentuk baru dari kehancuran moral yang tenang. Tanpa kekerasan, tanpa jeritan, tanpa berita besar.

Ilustrasi.ist

Ia merayap pelan, seperti kabut yang menelan cahaya di pagi hari.

Ketika Iman Diuji oleh Layar
Teknologi seharusnya memudahkan hidup,namun bagi sebagian orang, ia justru mempercepat jalan menuju keterpurukan. Layar ponsel kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin yang memantulkan isi hati manusia. Jika di dalamnya ada kejujuran, ia akan membawa manfaat. Namun bila yang tumbuh adalah kerakusan, layar itu berubah menjadi medan dosa. “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara berlebihan, karena para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
(QS. Al-Isra: 26–27) Ayat itu kini terasa seperti tamparan lembut bagi kita semua.
Karena di era digital, pemborosan tak lagi soal belanja,
tetapi juga tentang waktu dan iman yang hilang tanpa terasa.

Menyalakan Kembali Kesadaran
Bangsa ini tidak akan selamat hanya dengan memblokir situs. Yang dibutuhkan jauh lebih dalam: kesadaran spiritual dan pendidikan moral yang hidup kembali. Teknologi boleh berkembang, tapi hati manusia harus tetap berpijak pada nilai. Orang tua perlu kembali hadir, bukan sekadar di rumah, tapi di kehidupan digital anak-anaknya. Guru perlu mengajarkan bukan hanya rumus, tapi juga makna kejujuran. Dan pemerintah harus berani berdiri di depan, bukan sekadar menindak, tapi menuntun. Karena perjudian, dalam bentuk apa pun,
adalah musuh dari masa depan.
Penutup: Menolak Gelap yang Tanpa Asap
Candu ini tak terlihat, tapi menghancurkan. Tak berbau, tapi mematikan. Dan selama kita menganggapnya sepele, maka ia akan tumbuh menjadi budaya yang sulit diberantas. Mari jaga diri, keluarga, dan generasi dari racun tanpa asap ini. Sebab bangsa yang kehilangan kesadarannya, tak butuh penjajah untuk kalah —ia akan runtuh oleh jarinya sendiri.
Penulis adalah pegawai KPPN Sijunjung Jon Hendri
( Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan lembaga tempat penulis bekerja, Pemerhati Sosial dan Nilai Moral di Era Digital)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.