Hadapi Ancaman Wabah,  Indohun Gelar Pelatihan Investigasi di Payakumbuh

JURNAL SUMBAR | Payakumbuh – Guna memperkuat respons terhadap wabah penyakit zoonosis di tingkat Kabupaten/Kota. Indonesia One Healt University Network (INDOHUN)  menggelar pelatihan terpadu investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB)/Wabah di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Tuah Sakato, Payakumbuh sejak Senin-Jumat (1-5/7/2019).

Kordinator Indohun, Prof.drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, PHd mengatakan patihan terpadu ini akan memperkuat kesiapsiagaan Indonesia terhadap ancaman wabah penyakit.

“Ancaman KLB/Wabah yang lintas wilayah dan sulit diprediksi membutuhkan penanganan lintas sektoral dan lintas kementrian di seluruh Provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Indohun siap mendukung pelaksanaan pelatihan ini dengan menyediakan sumber daya terbaik,” ujarnya dalam acara penutupan kegiatan tersebut, Jumat (5/7) sore.

Sementara itu,  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar,  Hj. Merry Yuliesday menyebutkan, guna mendukung hal ini pemprov sumbar siap bekerjasama  lintas sektor untuk mengatasi ancaman wabah dengan dilatihnya 32 petugas epidemiologi.

“Sumatera Barat masih menghadapi ancaman penyakit  zeonosis seperti rabies dan avien influenza. Sebagai salah satu provinsi pemasok daging ayam dan sapi terbesar di sumatera, hal ini menuntut kesiapan kita  dalam menghadapi ancaman munculnya KLB/Wabah,” ungkapnya.

Dikatakannya, pelatihan ini melibatkan institusi lintas sektor yang menggaris bawahi kolaborasi dan kordinasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan dan keaehatan lingkungan.

“Pelatihan ini diinisiasi Indohun dengan melibatkan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK)  Ciloto,  BBPKH Cinagara,  Kemenko PMK, Kementrian kesehatan,  pertanian,  kementrian dalam negeri serta suport dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID),” ungkapnya

Sedangkan,  Asisten Deputi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Kemenko PMK, Meida Octarina mengatakan bahwa koodinasi lintas sektoral dalam penguatan kapasistas petugas epidemuologi lapangan perlu mendapat perhatian serius.

Menurutnya,  untuk mencegah dan menghadapi wabah penyakit menular ini tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja.  “Mudah-mudahan pelatihan ini dapat menjadi percontohan bagi daerah lain dalam upaya memperkuat kesiapan daerah dalam mengatasi ancaman bencana non alan seperti KLB/Wabah,” ungkapnya.

Senada,  kepala Badan PPSDM Kementtian Kesehatan, Usman Sumantri menyebutkan pelatihan dengan metode ini sangat diperlukan dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan standar pelayanan Minimal/SPM sub urusan bencana  non-alam.  Sehingga tersedia tenaga kesehatan berbasis TIM dilapangan dalam menangani KLB/Wabah.

Sementara itu,  walikota Payakumbuh Riza Falepi ketika dimintai keterangannya mengaku sangat senang  menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan pelatihan ini. “Patihan akan dapat memingkatkan kompetensi petugas epidemiologi lapangan di daerah sehingga ketahanan kesehatan di daerah dapat semakin diperkuat,” tutupnya. (RD)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.