Jalan Panjang Jernihkan Batanghari, Dari Festival Pamalayu Hingga Graha BNPB

163

JURNAL SUMBAR | Jakarta- Begitu pentingkah Sungai Batanghari bagi Kabupaten Dharmasraya ? Tentu saja iya. Jika tidak, mengapa Bupati Sutan Riska sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi di kabupaten berjuluk Ranah Cati Nan Tigo sampai demikian besar perhatiannya. Pemimpin yang giat menjuluk dana Jakarta ini sampai rela menempuh jalan berliku, terjal dan panjang, asal Batanghari bisa kembali jernih, sejuk, aman dan indah seperti kondisi sepuluh tahun silam.

Memulihkan Batanghari seperti sediakala dipastikan bukan pekerjaan yang mudah. Pasalnya, kerusakan sungai Batanghari ditengarai disebabkan oleh berbagai aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Pertama disebabkan maraknya penambangan emas menggunakan mercury dan kedua disebabkan penebangan hutan yang masiv di daerah aliran sungai yang melintasi delapan kabupaten dan kota di Pulau Sumatera ini.

Penelitian oleh pakar perairan IPB Bogor makin meyakinkan bahwa kontribusi penambangan emas menggunakan mercuri menjadi penyebab paling dahsyad rusaknya Batanghari. Penanbangan itu juga telah menyebabkan habitat perairan rusak berat lantaran pengerukan sedimen di dasar dan tebing sungai. Tempat tinggal ikan khas air tawar endemik Batanghari hancur dan menyebabkan merosotnya populasi dan jenis ikan di Batanghari.

Sementara penebangan hutan di areal DAS Batanghari telah menyebabkan tingkat erosi yang kian parah. Sumber sumber air berkurang drastis. Ini bisa dilihat dari adanya banjir saat hujan dan surut saat kemarau. Padahal, 10 tahun silam, debit Batanghari lumayan stabil dalam kisaran 250 m3/dt. Tapi kini, Batanghari akan mengganas saat hujan mengguyur dan mengecil saat kemarau.

Akankah Sutan Riska mampu menyelesaikan persoalan Batanghari yang melibatkan masyarakat di delapan kabupaten dan kota di Pulau Sumatera, termasuk masyarakat yang menebangi hutan dan masyarakat yang melakukan penambangan dengan mercury dan alat yang merusak lingkungan. Mungkinkah seorang kepala daerah melakukan upaya yang melibatkan banyak daerah.

Sutan Riska yang sudah berpengalaman memerintah selama empat tahun, tampaknya punya langkah taktis dan strategis. Pertama Sutan Riska membuat diplomasi dengsn Festival Pamalayu, dimana pada intinya adalah bagaimana membangkitkan semangat kemaritiman di Sungai Batanghari sebagai jalur perdagangan rempah di masa lalu. Diplomasi ini cukup manjur, tak lama kemudian Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko turun ke Dharmasraya. Menyusul Moeldoko juga ikut ke Dharmasraya Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo. Kehadiran kedua sosok jenderal ini memberikan harapan baru bagi Sutan Riska.

Namun, Bupati termuda di Indnesia itu belum puas. Dia akan membangun kerjasama terkait lingkungan hidup di Batanghari dengan delapan kabupaten dan kota di Provinsi Sumbar dan Jambi. Draf kerjasama kini sudah didiskusikan dengan Pemprov Sumbar. Dalam tawaran kerjasama itu, selain pemuluhan lingkungan Dharmasraya juga menawarkan kerjasama budaya dan pariwisata. Diharapkan Pemprov Sumbar akan menyambungkan dengan Pemprov Jambi dan kemudian ke kabupaten dan kota seiliran Batanghari. Kerjasama ini kemudian akan menjadi kekuatan baru bagi Sutan Riska untuk memancing Presiden ikut menyelesaikan Batanghari.

“Karena ini menyangkut hajat hidup dua provinsi, tentu Bapak Presiden Jokowi bisa ikut serta menyelesaikan. Kongkritnya, kita ingin lahir Keputusan Presiden tentang Pemulihan Lingkungan Sungai Batanghari,” kata Sutan Riska.humas
editor;saptarius