Catatan Webinar: Jejak Sejarah Para Diplomat Ulung Indonesia Berasal Dari Minangkabau

208

JURNAL SUMBAR | Padang – Menarik sekali sebentar tadi mengikuti sharing pengalaman dan sugesti-sugesti dari para diplomat Indonesia asal Minangkabau, baik yang masih aktif sekarang maupun yang sudah pensiun.

Forum yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Fasli Jalal dan difasilitasi oleh Ketua Minang Diaspora Network Burmalis Ilyas ini juga mengungkap diplomat-dioplomat Indonesia asal Minangkabau para periode awal (pembentukan NKRI dan penduniaan negara muda yang baru bebas dari penjajahan itu), sebutlah umpamanya Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, H. Agus Salim, Zairin Zain, Baginda Dahlan Abdoellah, Nazir Pamoentjak, dll.

Dari forum itu terungkap pula bahwa sumbangan etnis Minangkabau terhadap dunia diplomasi Indonesia sungguh besar, bahkan tampak tak sebanding dengan jumlah populasi etnis ini yang hanya mencapai kira-kira 3% saja dari total jumlah penduduk Indonesia.

Sepanjang sejarah Indonesia modern sebagai sebuah negara berdaulat, putra-putri Minangkabau telah memainkan peran penting di forum internasional untuk memajukan, menjayakan, dan mengharumkan nama Republik Indonesia.

Jika dihitung secara kuantitatif, mungkin jumlah putra-putri Minangkabau yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka di jalur diplomatik untuk kejayaan Indonesia sudah ratusan jumlahnya, baik di tingkat duta (di Zaman RIS), duta besar, konsul, ataupun level di bawahnya.

Sekarang saja, dalam perhitungan sekilas, putra-putri Minangkabau menduduki posisi duta besar dan konsul di tidak kurang dari selusin negara di dunia.

Dalam forum tadi, ikut berbicara dan berbagi pengalaman mantan-mantan diplomat Indonesia asal Minangkabau (kebanyakan duta besar) dan mereka yang masih aktif (yang sedang menjabat sekarang), seperti Prof. Dr. Hasjim Djalal (mantan Dubes RI untuk Kanada, Jerman, dan PBB), His Excellency (H.E.) Wisber Loeis (mantan Dubes RI untuk Jepang dan PBB), H.E. Dr. Ibrahim Yusuf (mantan Dubes RI untuk United Arab Emirate dan Thailand), H.E. Komjen Pol Ahwil Loethan (mantan Dubes RI untuk Meksiko, Honduras, Panama dan Costa Rica), H.E. Yusra Khan (mantan Dubes RI untuk Meksiko, Belize, El-Savador dan Guatemala), H.E. Prof. Dr. Komjen Polisi Iza Fadri (Duta Besar RI untuk Myanmar), H.E. Mayerfas (Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda), H.E. Ferry Adamhar (Duta Besaar RI untuk Yunani), H.E. Al-Busyra Basnur (Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika), dan H.E. Denny Abdi (Duta Besar RI untuk Vietnam). Ikut juga dalam urun rembuk tadi Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Yuliandri.

Dalam forum tadi juga terungkap ‘rahasia’ kesuksesan orang Minangkabau menjadi diplomat. Cukup nyata bahwa hal itu antara lain dimungkinkan oleh beberapa nilai budaya dan prinsip hidup orang Minangkabau serta keahlian mereka dalam bersilat lidah (tongue fu) yang tersedia melalui kekayaan linguistik bahasa ibu mereka.

Hanya saja, ada beberapa pergeseran yang terjadi, terutama dalam soal kekuatan mental dan kesehatan yang perlu menjadi perhatian bagi generasi Minangkabau kini yang ingin membangun karir di dunia diplomasi.

Memang kalau dilihat secara umum, generasi muda Minangkabau sekarang (dan Indonesia pada umumnya) agak manja dan kurang ‘tahan banting’. Ada yang pergi sekolah ke Jawa saja dari Padang diantar oleh orang tuanya, dengan sekarung bareh Solok segala.

Dulu, banyak anak Minangkabau pergi ke rantau nan jauh (termasuk hamba) hanya dibekali oleh doa sang Bunda saja. Oleh sebab itu dikenal ungkapan yang sangat tersemat di setiap hati perantau Minang: “Kok lai mujua Bundo malapeh, ayam ka pulang ka pautan.”

Menurut hemat saya, sudah saatnya untuk menyusun sebuah laborious work tentang Diplomat-diplomat Indonesia Asal Minangkabau, supaya jejak sejarah dan kiprah mereka tidak lipur oleh hujan dan panas waktu, dan supaya dapat dikesan dan diketahui oleh generasi Indonesia (Minang khususnya) kini dan pada masa yang akan datang. (Suryadi/Doesen Leiden University Belanda)