Catatan Webinar MDN-G: Peluang Investasi di Sumbar Butuh Koordinasi Tokoh Ranah dan Rantau

458

JURNAL SUMBAR | Jakarta — Bulan lalu, tepatnya Sabtu 28 November 2020, pukul 13:00-16:00 kembali MDN-G (Minang Diaspora Network–Global) kembalibekerjasama dengan Universitas YARSI mengadakan vicon Curah Pendapat (brainstorming) dan Dialog melalui Zoom dengan Topik: “Peluang dan Tantangan Investasi di Sumbar”. Topik hari ini tidak kalah menarik dari topik topik sebelumnya: “Diplomat Minang Dulu, Sekarang dan Masa yang akan Datang”* (07 November 2020) dan “Akselerasi Wirausahawan dengan Kolaborasi dan Inovasi” (31 Oktober 2020) serta beberapa webinar sebelumnya.

Bertindak sebagai moderator Rektor Universitas Yarsi, Prof. dr. Fasli Jalal, Sp.GK., PhD.

Kali ini dalam catatan ringan saya coba memaparkan.

Seperti biasanya Fasli sebagai moderator di seminar maupun webinar, ada nuansa keakraban dan badunsanak yang dibangun, begitu akrab dan mengenal lebih jauh profil dan kiprah para panelis, communication skill yang luar biasa, sangat humble dan full senyum beliau menempatkan beliau sebagai moderator yang dengan sabar, professional dan proporsional membuat webinar ini begitu hidup dan semua ikut aktif.

Bahkan kepada panelis seusia anandanya, Fasli dengan bangga dan santunnya memanggil uda seperti mas di Jawa. Yang lebih membuat vicon ini lebih hidup karena dialog panelis dengan moderator yang saling mengisi dan tepat pada setiap sesinya.

Dalam pengantarnya “Moderator tetap” Fasli menyampaikan bahwa ada pendapat sebagian pengusaha bahwa berinvestasi di Sumbar relatif kurang menarik dan kurang menguntungkan karena berbagai faktor seperti tanah ulayat, gempa Bumi dan faktor-faktor lainnya, sementara pelaku bisnis melihat potensi Sumbar sebagai daerah investasi yang sangat menjanjikan, banyak potensi Sumbar yang belum dieksplore, menunggu investasi yang sangat menjanjikan.

Walau sedang pandemi Covid-19 bukan mengurangi kegiatan, dengan virtual yang sudah beberapa kali diadakan oleh MDN-G dengan Universitas Yarsi ini bisa menjangkau lebih luas lagi, hari itu bisa menjangkau sampai ke pelosok di Sumbar dan malah Diaspora Minang di Yunani, dimana ada pak Dubes RI untuk Yunani hadir untuk brainstorming investasi apa yang bisa di Sumatera Barat serta koreksi, kritisi serta dukungan apa yang bisa disampaikan ke pemprov Sumbar, Pemerintah kabupaten/ kota di Sumbar sesuai kebutuhan dan sesuai dengan daerah itu.

Dengan investasi di Sumbar tentu akan meningkatkan daya serap tenagakerja, meningkatkan produktivitas serta meningkatkan perekonomian Sumatera Barat.

Hari itu para panelis mencoba mendiskusikan dengan mengundang pelbagai tokoh dengan pelbagai latarbelakang, pelaku usaha, pengusaha sukses Supramu yang sudah membangun pembangkit listrik Energi Baru terbarukan, Alirman Sori, anggota DPD, Eri Cas, akademisi juga panelis lainnya yang sudah banyak berbuat untuk Sumatera barat, dengan brainstorming itu mendapatkan persepsi sudut pandang dari panelis siang ini yang nantinya mengerucut ke action apa yang bisa kita buat untuk Sumatera Barat dari segi investasi mudah mudahan menggelinding ke sector lain.

“Investasi di Sumbar mungkin beda dengan investasi di Negeri lain, kalau di Sumbar ada filosofi urang awak, “saketek samo diraso, banyak samo dimakan”, artinya pemerataan itu penting buat kebersamaan”.

Demikian point yang bisa saya tangkap dari pengantar Uda Fas, demikian beliau dipanggil di FMM.

Sedikit saya mencoba mengutip pengantar di undangan panitia:

“Selain tantangan dan peluang yang ada di era normal, tentu saja perlu juga dipikirkan tantangan dan peluang investasi yang ada di Era New Normal Pasca Pandemi Covid 19 ini.

Untuk itu muncul beberapa pertanyaan yang akan kita diskusikan dalan webinar kali ini.
Pertama, Bagaimana perkembangan dan dinamika investasi di Sumbar dimasa lalu, sekarang dan masa yang akan datang?

Kedua, apa saja faktor-faktor yang menghambat investasi masuk ke Sumbar dan ketiga, apa saja daya tarik dan insentif yang diberikan kepada investor untuk mau berinvestasi di Sumbar?
. Keempat, bagaimana peran Pemerintah Pusat dan Provinsi serta perantau Minang dalam dan luar negeri dalam mempromosikan investasi ke Sumatera Barat?

Kelima, bagaimana peluang dan tantangan investasi di Era New Normal pasca Covid 19 ini?

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka perlu diundang narasumber yang berkompeten dibidang tersebut serta mengundang calon gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin Sumbar kedepannya.

Demikian ditulis oleh host sebelum moderator mempersilahkan panelis untuk brainstroming, Fasli mempersilahkan Direktur Eksekutif Minang Diaspora Network-Global, Burmalis Ilyas yang dengan setia selalu hadir full time di setiap webinar untuk memberikan sambutan beliau.

Sambutan Direktur Eksekutif Minang Diaspora Network-Global

Burmalis Ilyas, M.Si, MA dari Sekretariat MDN-G Jalan Dempo Kebayoran Baru, Jakarta mengucapkan terima kasih kepada semua panelis yang telah memenuhi undangan MDN-G dan Universitas Yarsi untuk bisa sama sama berdiskusi membicarakan tentang peluang investasi di Sumbar, kita coba brainstorming kendala apa saja yang kita dapatkan ketika berinvestasi di Sumbar, kita tahu Sumbar ini sama dengan Jepang, lahannya sempit, SDA terbatas sementara SDM nya berlimpah, bagaimana peran pemerintah daerah dan pusat dalam mengembangkan investasi di Sumbar, semua itu bisa kita dapatkan siang ini dari panelis dengan pelbagai sudut pandang beliau sesuai peran dan latarbelakang beliau.

Lebih lanjut terima kasih dan apresiasi kepada Supramu yang sudah memenuhi undangan ini, Supramu sudah berbuat banyak untuk Sumbar dengan berinvestasi dalam bidang Energi Baru dan Terbarukan (Geothermal) di Kabupaten Solok Selatan, diminta berbagi pengalaman dan advise dalam menanam investasi di Sumbar, apa saja kendala, begitu pula kepada Dr Alirman Sori sebagai senator Sumbar, bisa memberikan peran sebagai anggota DPD RI, hubungan Pusat dan daerah, kepada 3 calon wakil gubernur, terima kasih di kesibukan dalam sosialisasi dan kampanye bersedia memenuhi undangan ini, kita akan dengar program beliau yang juga hubungan dengan visi misi beliau sebagai cawagub, kepada Bapak Maswar Dedi. M.Si (Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Prov Sumbar) kita bisa dengan kemudahan apa yang bisa beliau berikan untuk mendorong tercintanya iklim usaha yang baik dalam menarik investor n sebanyak mungkin ke Sumbar.

Kepada Dr Ir Erigas Eka Putra MSi (Direktur Nagari Development Center Univ Andalas) dengan program Nagari Tageh beliau, bagaimana beliau yang juga akademisi mendorong dan mengoptimalkan peran dan energi nagari dalam setiap derap langkah pembangunan di Sumatera Barat.

Last but not least di webinar kali ini kita akan sama mendengar potensi dan peluang apa yang bisa kita gali di kampuag kito Sumatera Barat.

Hasil hasil ini webinar ini nantinya peran MDN-G mempromosikan secara luas kepada Diaspora Minang serta pelaku bisnis di seluruh dunia dengan harapan investasi yang masuk ke Sumbar akan saling menguntungkan baik bagi investor maupun bagi masyarakat Sumatera Barat itu sendiri.

Luar biasa, kata pak Fasli mengomentasi sambutan pak Burma, terima kasih. Untuk lebih tertibnya webinar ini sedikit beliau mengulas aturan main webinar ini, pertama masing masing panelis mempersentasikan gagasan dan pendapat beliau selama 10 menit, hari ini ada 10 panelis, dan nanti kembali lagi kepada panelis selama 5 menit menambahkan dan memberikan tanggapan, participant bisa mengajukan pertanyaan melalui chat yang disediakan.

Webinar siang itu rencananya akan dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc. gelar Datuak Rajo Bandaro Basa, tapi sudah menyampaikan bahwa pada jam 13:00-an ini beliau ada acara, beliau akan ikut di akhir acara, akan ada pergeseran agenda, kita “aturable” saja.

Sebagai pembicara pertama Fasli mempersilahkan Supramu Santoso, MBA Orang Semenda Minang yang sudah berinvestasi di bidang Panas Bumi di Solok Selatan, mari sama kita dengar pengalaman panjang beliau.

Pak Supramu Santoso memulai dengan salam.

Assalaamualaikum wr.wb. dan terima kasih sudah diundang di acara yang sangat bagus ini. Senang sekali bisa bergabung dengan Diaspora Minang,
“Saya urang Sumando tapi sudah merasa urang Minang”. Kata pak Supramu yang memiliki rumah Gadang di Biaro, Agam

Waktu 10 menit memang terasa sangat pendek, tapi beliau akan coba pointya pointnya saja.

Sedikit pak Supramu menyinggung tentang potensi Sumatera Barat. Sumbar sangat ¬bless dengan alamnya yang sangat indah, letaknya yang dekat dengan Singapura dan Malaysia. Alam yang indah dan letaknya ini sangat potensi untuk investasi ditambah dengan yang lainnya misalnya potensi energy panas bumi di Solok Selatan, Agam dan Pasaman.

Tadi moderator mengatakan bahwa Sumbar tidak ada SDA batubara, sebetulnya ada posistifnya, dengan adanya perusahaan batubara akan membuat keindahan sumbar compang camping., keindahan alam dan tujuan wisata Sumbar yang luar biasa ini akan rusak.

Siapapun pasti mengakui dan kagum dengan keindahan alam Sumbar, ketika saya melewati danau Maninjau, danau Singkarak, saya membayangkan floating boat di tengah danau, ketika kita melihat gunung Merapi, Singgalang atau barisan perbukitan, saya bayangkan alangkah indahnya kalau ada Cable Car yang terentang dan saling terhubung.

Kita juga melihat parawisata di Sumbar yang sangat potensial dengan masyarakatnya yang religious, masyarakat yang memegang adat istiadat yang kuat, sungguh besar potensi parawisata Sumatera Barat dan ada ¬multiflier effect yang luar biasa dalam perencanaan yang komprehensif bagi masyarakat Sumbar.

Kalau boleh izin saya melihat, adanya pertumbuhan kedai yang kurang terurus, maaf bukan menggusur tapi membuat tata ruang yang baik dan estetika yang indah, juga adanya penambangan liar yang kadang membahayakan bagi penambang itu sendiri, semua bisa menjadikan objek parawisata Sumbar tergerus.

Perlu planning yang komprehensif pemda dengan pelaku parawisata dan masyarakat.

Selanjutnya pak Supramu sharing tentang pengalaman beliau membangun PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) di Solok Selatan, Sumatera Barat.

Sumbar punya sumber energy yang luar biasa, yaitu Energy panas bumi cukup besar ada 1700 megawat, energy air 1000 MW, energy surya, danau bisa dikembangkan menjadi surya panel, untuk pengelolaan ini kebijakannnya dari pemerintah pusat, untuk panas bumi pembeli tunggalnya adalah PLN.
Kendala pembangunan panas bumi secara umum adalah keberadaannya di hutan lindung, acceptance masyarakat terhadap pembangunan panas bumi.
Di Sumbar ada 17 titik panas bumi, baru berproduksi 50 MW, kandala lainnya di gunung Talang tidak bisa masuk, selain harga jual panas bumi itu sendiri.

Lebih lanjut pak Supramu pendiri dan direktur utama PT Supreme Energy yang membawahi tiga PLTP yaitu Supreme Energy Muara Laboh, Supreme Energy Rajabasa WKP Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Supreme Energy Rantau Dedap WKP Rantau Dedap di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam, Provinsi Simatera Selatan menyampaikan bahwa untuk pekerjaan pans bumi ini kalau lancar membutuhkan waktu 8 tahun, Supreme Energy perlu waktu 12 tahun dari awal sampai berproduksi, awal kegiatan eksplorasi di Solok Selatan dimulai tahun 2008, baru bisa berproduksi Desember 2019, membuat studi untuk ikut tender saja butuh waktu 2 tahun, 4 tahun baru perjanjian dengan PLN, 6 tahun itu baru persiapan, pak Supramu yang punya networking yang luas dengan kementerian ESDM baru bisa 12 tahun berproduksi, bisa dibayangkan bagi investor dari luar yang baru mulai.

Beberapa kegiatan awal yang dilakukan pak Supramu adalah, sebelum mulai dieksplorasi, pak Supramu mengajak 50 orang tokoh Sulsel kunjungan ke geothermal di Jawa Barat, seperti Geothermal Chevron, beliau menyaksikan sendiri PLTP ini ramah lingkungan, tidak ada pencemaran, apalagi gempa yang disebabkan oleh PLTP.

Untuk infastruktur, Supreme Energy membangun jalan sepanjang 30 KM, kemudian investasi awal yang harus dikeluarkan, seperti kegiatan pengeboran sumur, sebelum pengeboran saja Supreme Energy sudah mengeluarkan USD 3 Juta, untuk mendrill sumur itu beberpa kali kendala, bor sumur pertama berhasil, sumur ke 2,3,4 dan 5 gagal, dry dry, satu bor sumur saja mengeluarkan USD 30 Juta. Ada 6 sumur, berhasil?, belum masih dry dry., dari 6 sumur itu dihasilkan 80 MW dari 220 MW yang tersedia atau sepertiganya, tahun 2014 selesai eksplorasi dengan 80 MW, sekarang sudah mengalir.

Biaya keseluruhan dengan 6 sumur yang sudah dikucurkan PT Supreme Energy USD.580 Juta atau Rp. 9 T. Alhamdulillah sukses berproduksi tahun 2019.

Hubungan yang erat dengan masyarakat Supreme Energy membangun stadion dan ruang pertemuaan di Solsel dengan dana Rp. 30 M. ini filosofi beliau sebagai good citizen, dari 150 Ha tanah yang terpakai Supreme Energy merehabilitasi tanah seluas 250 HA ini komitmen beliau untuk environmental.
Supreme Energy senang sekali bisa berinvestasi di Solses dengan pembangkit panas bumi ini, mohon doa semoga sukses, kata pak Supramu.

Setelah pak Supramu, moderator mempersilahkan panelis dari Padang, pak Dr. Ir. Eri Gas Ekaputra, MS (Direktur Nagari Development Center Univ Andalas), pertama pak Eri sangat apresiasi dengan usaha pak Supramu yang sudah investasi di Solsel yang sudah tepat sasaran,

Menurut pak Eri ada 3 potensi Sumbar yang bisa dijual, Parawisata, Energi panas bumi dan produksi pangan, potensi sumber daya air belum tersentuh. Pak Eri sekarang sedang mengembangkan “Nagari Tageh”, yang maksudnya tangguh dan fleksibel. Objek dari nagari tageh itu untuk ekonomi, pendidikan, dan penanggulangan bencana.

Ada perbedaan persoalan nagari di Sumbar dengan desa di luar Sumbar, kalau di luar Sumbar ada bantuan desa tertinggal, kalau kita nagari ditinggalkan.

Sekarang beliau memberikan pemahaman kepada nagari tentang pemahaman investasi tanah ulayat, masyarakat diikutkan atau bagian dari program yang dikerjakan, jangan ada konflik antara mamak dengan kemenakan untuk persoalan ganti rugi tanah, untuk itu perlu nagari diikutkan dalam pemilikan, misalnya pemilikan saham, ikut dalam pengelolaan project tersebut.

Kalau selama ini nagari hanya sebagai penonton, sekarang setiap kepala suku diberi tabungan dari kerjasama tanah yang digunakan investor.

Kita tahu 80% tanah di Sumbar adalah milik ulayat, tujuan awal dulu dari nenek moyang kita mewariskan tanah ulayat supaya tidak ada anak cucunya yang jatuh miskin.

Pak Eri pernah memberikan masukan dan berdiskusi dengan menteri PU Basuki bagaimana untuk jalan Tol nagari atau pemilik tanah diberi saham, bukan dibeli tanahnya.

Lebih jauh kata pak Eri orang Minang egaliter, harus jelas nilai manfaat dari investasi itu dan itu melibatkan nagari, kalau hanya CSR itu kurang tepat, karena CSR biasanya hanya sekali.

Setelah pak Eri Gas, pak Fasli mempersilahakn pak Alirman Sori, anggota DPD RI, Senator dari Sumatera Barat.
Bapak Dr. H. Alirman Sori, S.H., M.Hum., M.M. sebagai wakil daerah mengapresiasi pak Supramu yang sudah berinvestasi di Sumbar, begitu pula hibah dari Supreme Energy sebuah GOR dengan fasilitas international, bukan saja kebanggaan Solok Selatan, tapi juga kebanggaan Sumbar.

Untuk masalah tanah, memang tanah di Sumbar 80% adalah tanah ulayat, tapi itu bukan penghalang, tidak ada masalah sepanjang kita bisa bermusyawarah, “baiyo batido”, harus ada unsur keterbukaan. Jangan tinggal meninggalkan, semua diajak baiyo batido.

Jangan ada biliak biliak ketek, bangun komunikasi yng baik antara pemda dengan masyarakat. Kuncinya itu tadi baiyo batido, artinya dibicarakan dengan baik.

Ke depan untuk 923 nagari, 178 kecamatan, 12 kabupaten 7 Kota di sumbar, pemerintah kab kota memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan investasi yang bermanfaat di Sumbar , cara kita meyakinkan masyarakat adalah dengan manajemen terbuka.

Ada 5 hal untuk Pemulihan Ekonomi Sosial (PES)

1. Mengakselarasi bantuan sosial
-sosial.
2. Akselerasi belanja daerah kab/ kota secra bersama sama

3. Digitalisasi prawisata, kita membangun secara bersama, tidak parsial
4. Optimalisasi bantuan kredit
. Kajian skema subsidi usaha parawisata.

Demikian yang disampaikan pak Alirman dalam waktu 10 menit, selanjutnya prof Fasli mempersilahkan para cawagub, pertama kepada Pak Indra Catri, tapi setelah kita melihat komunikasi moderator dengan baliau bahwa beliau sedang dalam perjalanan dan signal kurang bagus, pak Fasli mempersilahkan cawagub yang bisa akses dengan internet, pak Fasli mempersilahkan pak Audy Joynery.

Pak Ir. Audy Joinaldy, S.Pt, M.Sc, M.M, IPM, ASEAN.Eng sedikit merevisi bahwa beliau bukan dari birokrat, beliau satu satunya Cawagub yang bukan dari birokrat, beliau murni dari swasta.

Bicara peluang investasi ke depan, akan terjadi perubahan yang signifikan dan dinamika investasi dan ini erat kaitannya dengan pandemi covid-19, kedepan almost bisnis akan terikat dengan digitalisasi, seperti digital farming, di pandemi ini bisnis digital bangkit 400%, ini opportunity investment mengarah ke digital.

Peluang UMKM yaitu di bidang ekonomi kreatif dan ekonomi digital yang berbasis UMKM bisa bangkit.

Di Sumbar ada 500 UMKM, bisnis parawisata akan menciptakan ketahanan ekonomi, ada resilensi, masa pandemic ini konsumsi pangan meningkat cukup tajam, biasanya memproduksi buah buahan, ternak. Tahun 2021 ini kita focus kepada turis domestic ke Sumbar.

Selanjutnya moderator mempersilhkan pak Maswar Dedi. M.Si (Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Prov Sumbar)
Pak Kadis mensosialisasikan tentang kemudahan urusan perizinan di Sumbar dimana in dan outnya cukup satu pintu di kantor PMPTSP, untuk masalah tanah ulayat sudah ada perda no. 6 tahun 2018 dan Pergub no 1 tahun 2011.

Tentang masalah tanah ulayat beliau sangat setuju yang disampaikan panelis sebelumnya pak Eri gas dan pak Alirman Sori, kunci suksesnya adalah sosialisasi ke stakeholder, dalam hal ini masyarakat tempatan, nagari.

Juga perlu fasiltasi tata ruang, RT RW , beitu pula dengan UU No. 11 tahun 2020, setiap daerah punya IPTR.

Bicara masalah infrastruktur yang kurang baik, dimana pak Supramu membangun jalan sepanjang 30 KM, perlu kita pikirkan bersama infrastruktur kaitannya dengan potensi investasi di bidang pembangkit listrik mikto hidro, tenaga air,

“Peluang investasi di sektor pertambangan dan energi di Sumbar terbuka lebar bagi investor yang berminat,” ujar beliau.

Misalnya saja, investasi pada energi panas bumi (Geothermal) di Kab. Solok, Agam, dan Pasaman. Selain itu, investasi Pembangkit Listrik Tenaga Mini dan Mikro Hidro. “Kita juga buka peluang untuk investasi Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Biogas dari Limbah Cair Sawit di Dharmasraya,”.

Tak hanya itu, investor juga ditawarkan investasi pada Industri Pemurnian dan Pengilangan Minyak Bumi di Pasaman Barat.

Soal pengurusan perizinan, di era New Normal ini, DPMPTSP Sumbar meluncurkan Sistem SIPPASTI-19.

Beliau meluncurkan Sistem Pelayanan Perizinan Menuju Tatanan Baru, Produktif dan aman Covid-19 atau SIPPASTI – 19.
Melalui SIPPASTI – 19pengurusan izin tidak perlu dilakukan dengan datang ke kantor DPMPTSP Provinsi Sumatera Barat.

cukup dilakukan di rumah saja secara online

, Pak Fasli sangat apresiate dengan kebijakan pak Kadis membuat satu system yang mudah diakses untuk setiap perizinan befrusaha di Sumbar.

 

Selanjutnya moderator mepersilahkan Bapak Indra Catri yang juga dalam perjalanan dalam rangka sosialisasi program ikut pilkada Gub..
Bapak Dr. Ir. H. Indra Catri, M.S.P. gelar Datuak Malako Nan Putiah menyampaikan bahwa investasi ini penting untuk menumbuhkembangkan ekonomi di Sumbar sesuai kondisi yang ada sekarang.

Ada 6 investasi yang bisa dilakukan di Sumbar:
1. Investasi di bidang pangan, khususnya ekspor, orientasi ekspor buah dan produk yang bermutu
2. Potensi parawisata, turis resort, misalnya resort di danau Maninjau
3. Investasi teknlogi informasi digital, digital ekonomi
4. Jasa ekspedisi, terintegrasi antara ranah dan di rantau.
5. E-Comerce, UMKM melalui Ecomerce, insentif pelatihan
6. Investasi di bidang kesehatan, termasuk memproduksi Alkes dan APD, seperti pembuatan masker, APD dsbnya.

Mengembangkan klinik dan RS yang sesuai dengan situasi kekinian.

Pak Indra Catri mohon maaf karena signal kurang bagus, dan izin tidak bisa mengikuti sesi selanjutnya karena situasi dalam perjalanan di pelososk nagari.

Pak Fasli bisa memaklumi karena semua Cawagub sedang di daerah malah diluar jangkauan satelit.
Selanjutnya pak Fasli mempersilahkan Dr. Sari Lenggogeni, SE., MM Direktur Pusat Studi Pariwisata Unand, sebagai pakar parawisata, beliau mengajak kita untuk menganalisis setiap dampak dari investasi parawisata di Sumbar ini kaitannya dengan usaha pemerintah dalam mengelurkan budgeting, berapa dampak expanded job opportunity di Sumbar, berapa demand dan supplynya, berapa budget yang dikeluarkan pemerintah untuk parawisata, sesuai nggak dengan ekpektasi pemerintah., jangan sampai “besar pasak dari pado tiang”.

Jangan seperti menara gading.

Di 19 kabupten kota Sumatera Barat semua bisa dibinis parawisatakan, bisnis market , kita bicara dari hulu sampai ke hilir, mulai dari wisatawan turun dari pesawat di bandara terus ke pasar UMKM resilience UMKM, kita mapping potensi di 19 kab kota secara digilatalisasi, pperlu comparison tidak perlu dengan studi banding ke luar negeri. Berapa job opportunity yang leverage bagi msyarakat., berapa event, cost dan dampak yang dihasilkan. Secara shorterm, medium dan long term. Kata ibu Sari dengan semangat dan terstruktur.

Untuk daerah yang telah memahami karakteristik masyarakatnya tentang sustainable tourism akan mendapatkan benefit dari parawisata.
Begitu pula untuk sister city yang sudah dilakukan apa sudah dilakukan destination management integration. Kata ibu Sari yang sering mengisi seminar parawisata di Indonesia dan luar negeri serta telah banyak menulis di media tentang parawisata di Sumbar.

Bapak Dr. H. Genius Umar, S.Sos., M.Si yang juga calon Wagub sumbar bicara parawisata itu yang penting adalah infrastruktur jalan ke destinasi parawisata, ada perhatian khusus dari pemerintah untuk perbaikan jalan negara.
Beliau juga mengulas panjang lebar potensi investasi parawisata di setiap kabupten / kota di Sumbar.

Selanjutnya bapak Fas mempersilahkan pak Salman Subakat, CEO PT Paragon Technology Indonesia.
Sedikit terjadi dialog dengan pak Salman, “Bagaimana uda Salman melihat investor di Sumbar dalam kacamata uda Salman sebagai pengusaha?”
Pak Salman yang sangat humble dan hati hati dalam berucap, sangat memilih kata kata yang tepat dan tidak mengusik orang lain menjawab pertanyaan pak Fasli bahwa beliau mengikuti yang disampaiakan bapak panelis sebelumnya, bahwa ekosistem sangat tepat, berbisnis di Sumbar dengan kearifan lokal apa yang bisa dibuat untuk sumbar, beliau punya passion pengembangan UMKM, potensi UMKM luar biasa.

Pendidikan yang bagus lahir dari entrepreneur yang bagus, semakin banyak putra daerah pulang kampuang membangun kampuang sangat baik buat investasi di Sumbar, beliau mencoba membenchmark Sumbar dengan Banyuwangi, ketika beliau diajak mendirikan hotel di Banyuwangi, istilahnya pagi jalan di pantai, sorehanrinya izin pendirian hotel sudah keluar, begitu besar perhatian pemerintah menarik investor ke Banyuwangi dengan memberikan kemudahan kemudahan.

Ketika moderator menanyakan peluang apa yang bisa dikembangkan di Sumbar, pak Salman mengistilahkan pengusaha itu punya 100 masalah dengan 1000 solusinya, ekosistem sudah jadi, perlu dukungan dari pemerintah untuk kemudahan berusaha. Perlu Leadership berlandaskan kebutuhan, investor bisa memotivasi talent Minang .

Selanjutnya pak Fasli kembali ke pak Supramu untuk sesi kedua.

Dalam waktu yang pendek ini Pak Supramu menambahkan pengalaman beliau berusaha di Sumbar dan luar Sumbar, beliau punya usaha di Sumbar dan Sumsel, masing masing investasi USD 550 juta dan di Sumsel USD 750 Juta, beliau merasakan jauh lebih bagus iklim berusaha di Sumbar, baik itu kerjasama dengan pemerintah, accenptance masyarakat, mupun hubungan dengan stakeholder.

Beliau mengusulkan kepada Sumbar kabupaten dan kota, buatlah Grand Strategi pembangunan Sumbar yang sesuai dengan budaya, environmental dan kharasteristik setiap daerah, jadi strategi itu bukan dibuat ketika investor mau masuk, tapi jauh sebelum investor masuk Sumbar sudah punya grand strategy bisnis.

Kalau mengundang investor, investment itu kompetitive, ada 3 hal yang diharapkan oleh investor itu ketika mulai berusaha:
1. Kepastian hukum
2. Kemudahan berusaha termasuk perizinan dsbnya, serta
3. Longterm Security

Mengenai pembicaraan tanah ulayat yang didiskusikan tadi, apa yang disampaikan panelis tadi sudah sangat bagus, tutup pak Supramu dengan senyum ramah beliau.

 

Saya sempat on off karena ada tamu, untuk pemaparan pak Andrinof saya nggak mendengarkan, Alhamdulillah beliau bersedia mengirimkan point point yng beliau sampaikan.

Berikut yang disampaikan pak Andrinof A Chaniago, maaf saya copas utuh saja.

MEMBICARAKAN PELUANG INVESTASI DI SUMBAR
Tujuan meningkatkan investasi tentulah untuk menciptakan sumber PAD bagi Provinsi dan Kabupaten/Kota, untuk membuka lapangan kerja, dan meningkatkan penghasilan bagi masyarakat.

Lakukan, atau sempurnakan dulu identifikasi dan pemetaan potensi ekonomi secara optimal. Jangan dari ide spontan. Sehingga, dari hasil identifikasi dan pemetaan yg benar itu tampak yg betul-betul perlu diprioritaskan.

Saya sarankan buat identifikasi dan pemetaan sektor dan lokasi (wilayah). Setelah itu munculkan lagi pemetaan berdasarkan skala usaha.

Daftar sektor prioritas yang sering dimunculkan perlu ditinjau lagi. Jangan-gangan Sektor Jasa Pendidikan penting masuk peluang investasi. Walau efek langsung ke penerimaan PAD kecil, tetapi sektor pendidikan mengungkit banyak sektor lain.

Misalnya perdagangan, sewa rumah, usaha kuliner, dll. Sumbar punya keunggulan bersaing karena imej sebagai provinsi dengan tingkat literasi tinggi.

Setelah identifikasi dan pemetaan yang lebih tajam tadi, baru buat Daftar Inisiatif-inisiatif strategisnya.

Tentu saja dengan memperhatikan sumberdaya yang sudah dimiliki, dan tantangan yang sedang dan akan dihadapi.

Sebagai catatan, untuk Sektor Pariwisata sudah ada Identifikasi dan Pemetaan yang bagus yang disumbangkan oleh para pakar di Sumbar. Tinggal lakukan untuk sektor-sektor lain, dan utk lokasi-lokasi potensial.

Setelah itu, sandingkan dan susun menjadi Puzzle.

Jika berdasarkan skala usaha kita menganggap penting memprioritaskan usaha skala mikro, kecil dan menengah, tunjukkan sikap konsisten kita mulai dari isi kebijakan hingga eksekusi.

Ketika saya kembali ke laptop, yang bicara adalah pak Asril Encik,
beliau menyampaiakan lima hal terakait investasi di Sumbar, yaitu SDA, SDM, Produsen kompetitif, Infrstruktur dan Regulasi

. Setelah pak Asril, pak Fasli mempersilahkan pak Ismet Fanani, beliau adalah akademisi yang sudah 40 tahun di Sydney Australia.
Sewaktu Prof Ismet fanani biacra, mohon maaf sy off dari webinar, kemudian dilanjut ibu Shanti L. Poesposutjipto.

Beliau pertama ke Sumbar tahun 1976, beliau kagum dengan indahnya pemandangan, view Sumbar, sejak itu beliau sering bawa teman teman dari Eropah berwisata ke Sumbar, menginap dan makan di rumah beliau di Bukittinggi
.

Sumbar sungguh beruntung, asset sudah ada, untuk pemandu wisata jangan hanya pandai bahasa Inggris, tapi juga tahu sejarah dari tempat wisata, bisa menceritakan setiap daerah dan bangunan yang dilalui.

Sumbar itu ideal sekali ada rendang, durian yang digemari wisatawan, menyaksikan eko tourism semua sudah ada, alamnya indah, bagus, jalan bagus, senang sekali bisa membawa teman teman wisata ke Sumbar denagn mengelilingi semua kota dan daerah wisata di sumbar, tutup ibu Shanti.

Setelah semua panelis selesai bicara, pak Fasli mempersilahkan kembali ke panelis yang pertama, beliau mempersilahkan pak Alirman Sori memberikan komentar dari webinar hari ini.

Pak Alirman Sori langsung saja dengan semangat empat lima mengusulkan dibentuk tim perumus, beliau bersedia memfasilatasi tempat, pak Fasli langsung menangkap, satu gagasan yang baik, ada ibu Sari, pak Andrinof, pak Ari dan bapak yang lainnya, nanti bisa dirumuskan strategi potensi investasi ke Sumbar.

Pak Maswar Dedi beliau mengkorelasikan investasi ini dengan UU Ciptakerja tahun 2020, beliau sebagai Kadis siap memberikan pencerahan strategi investasi di Sumbar.

Selanjutnya pak Audy menyampaikan bahwa membangun Sumbar tidak bisa sendiri, perlu stakeholder juga pengaruh besar dari perantau sumbar. “mari kita bangun ranah Sumbar ini secara bersama sama”, kata pak Audy.

Terkait dengan pilkada Sumbar, jadikanlah ini pilkada sebagai Pilkada badunsanak, jangan gara gara Pilkada kita pecah berdunsanak, kita bersinergi membangun Sumbar, kita sosialisasikan program kerja kita, selanjutnya biarkan rakyat Sumbar memilih dengan cerdas.

Selanjutnya Pak Genius berpendapat bahwa meningkatkan investasi sangat diperlukan:
1. kita perbaiki infrastruktur, jalan negara dibaguskan,
2. kemudahan regulasi termasuk untuk PMA
3. menawarkan peluang investasi dengan jelas, ada social engineering , masyarakat base tourism

Pak Dubes Ferry Adamhar dr Yunani, beliau menginfokan bahwa Yunani adalah pemilik kapal di dunia sebanyak 25%, ini juga satu infomasi bagus buat negara kita.

Beliau mendukung masuknya investasi ke Sumbar, “Mari sama sama kita memberikan kontribusi buat lancarnya investasi ke Sumbar, tutup beliau dengan senyum cerah dari ruang kerja beliau di Yunani.

Selanjutnya pak Fasli minta komentar pak Mesra. Pak Mesra yang juga anggoita DPRD Sumbar menyampaikan bahwa urusan pembebasan tanah ulayat bukanlah hal yang susah, diperlukan kepiawaian kita bermusyawarah dengan pemilik, dulu pak Januar Muin sukses dalam membangun PLTA yang menggunakan tanah ulayat, begitu pula waktu pemerintah membangun jalan sepanjang 25 Km ke Tabing, semua tidak ada masalah, yang penting caronyo tu.

Hadir dalam vicon ini Sekretaris Wali Nagari di Harau, pak Fasli ingin mendengar bagaimana pandangan beliau sebagai Sekretaris Wali Nagari.

Sekretaris nagari setuju dengan pembangunan infrastrutur itu penting buat menarik invenstor, untuk masalah tanah ulayat juga nggak terlalu masalah, yang penting bagaimana pemilik tanah itu diikutsertakan, adanya saling menguntungkan.

Terakhir Pak Iwan Prayitno sebagai Gubernur Sumbar beliau sangat mendukung apa yang sudah disampaikan panelis dalam webinar hari ini, terima kasih atas semua pertisipasi dan suksesnya webinar dengan topik inevestasi di sumbar hari ini.

Tepat kam 16:00 webinar Topik: “Peluang dan Tantangan Investasi di Sumbar” selesai dengan sukses, pak Fasli mengharapkan gagasan membentuk team perumus dari pak Alirman bisa difollow up dengan baik.

Jakarta, 28 November 2020. (Elthaf)