Bedah Batanghari Dalam Peringatan Hari Kemaritiman Nasional

122

JURNAL SUMBAR | Dharmasraya – Sungai Batanghari memang legendaris. Bukan saja panjang luasannya, namun sejarahnya juga begitu kesohor dan moncreng. Sungai tua dalam sejarah itu kini sedang sakit parah. Airnya keruh dan lingkungannya rusak. Celakanya, logam berat mercuri tengah memperpuruk Batanghari. Buntutnya warga menjerit dan masalah besar diprediksi bakal menjadi bencana kemanusiaan luar biasa.

Itulah sebabnya, melalui Festival Pamalayu yang salah satu agendanya adalah Arung Pamalayu sambil memperingati hari kemaritiman nasional, Pemkab Dharmasraya bersama aktifis kemasyarakatan ingin mengetengahkan sungai Batanghari untuk diperbincangkan dalam skala nasional. Apalagi, sejumlah pembesar negara bakal hadir dalam forum yang dinamai Talkshow Kemaritiman dan bakal digelar 23 September 2019. Diharapkan, setelah diperbincangkan secara nasional, masalah sungai Batanghari segera mendapat solusi secara nasional.

Seperti dikemukakan Staf Ahli Kemenko Kemaritiman, Dr. Ir. Tukul Rameyo Adi dalam diskusi dengan Pemkab Dharmasraya Kamis 12/9/19 malam di Rumah Dinas, upaya Pemkab Dharmasraya untuk mengangkat persoalan yang membelit Sungai Batanghari merupakan langkah yang tepat. Hanya saja, Pemkab Dharmasraya harus melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kedua lembaga negara itu punya program kongkrit untuk memperbaiki lingkungan sungai.

Lebih jauh Tukul mengemukakan, langkah selanjutnya Pemkab Dharmasraya bisa melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak. Lembaga itu juga konsern dengan persoalan anak akibat adanya cemaran sungai yang berdampak pada asupan gizi anak anak dan lain sebagainya. “Saya pikir ini momentum untuk melibatkan pemerintah pusat dalam menangani sungai Batanghari,” kata Tukul.

Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan punya tekad kuat mengemukakan kejayaan Sungai Batanghari, baik sebagai jalur ekonomi perdagangan, maupun sebagai penyangga lngkungan yang berkualitas dan juga sebagai sebuah warisan lingkungan yang lestari. Itulah sebabnya, Festival Pamalayu dengan rentang terpanjang di Indonesia itu, memasukkan agenda Arung Pamalayu untuk mengembalikan kejayaan Sungai Batanghari.humas
editor; saptarius