HUT INS Kayu Tanam Ke-94, Semarak dengan Webinar Nasional 300 Peserta

101

JURNAL SUMBAR | Padang — Direktur Eksekutif Minang Diaspora Network-Global (Jaringan Perantau Minang Sedunia), Burnalis Ilyas bersama Prof Fasli Djalal, Rektor Universitas Yarsi menginisasi Webinar Nasional dalam rangka ulang tahun Ruang Pendidik INS Kayutanam yang ke 94 , Sabtu (31/10/2020)

Webinar Nasional itu bertajuk “Akselerasi Wirausahawan dengan Kolaborasi dan Inovasi” yang hostnya adalah duet milineal Minang Vika dan Suci Hendrina

.Namun untuk menyemarak Webinar Nasional ini tak tanggung-tangung juga menghadirkan Pensyarah Senior University Malaysia Serawak Dr. Indra Utama.

“INS maknanya menurut saya adalah akronim Ingat Nasib Sendiri dan kemudian bertukar menjadi Indonesich-Nederlandsche School dan sekarang Institut Nasional Sjafei,” ujar Indra mengawali hantaran katanya, Sabtu (31/10 pagi.

Menurutnya, lembaga yang didirikan oleh Engku Mohammad Sjafei sekarang sangat berkembang dan menghasilkan alumni yang hebat hebat, seperti menteri Koperasi, MenteriKesehatan, Jenderal, Dubes Profesor, doktor, pengusaha dan Seniman serta berbagai profesi lainnya .

Profil INS itu disampaikan secara langsung dalam webinar ini oleh Dr. Indra Utama, yang juga salah seorang alumni INS.

INS yang menurut Indra adalah akronim Ingat Nasib Sendiri dan kemudian bertukar menjadi Indonesich-Nederlandsche School dan sekarang Institut Nasional Sjafei.

Sementara itu Burnalis mengungkapkan, yang menarik webinar kali ini seperti dialog, diskusi saja, tanpa ada makalah power point, bersifat spontan, nara sumber berkisah mengalir seperti apa adanya.

”Saya melihat tiada hari bagi pak Fasli tanpa Webinar, saya ingin setiap webinar beliau hadir, tapi masih banyak bolong bolongnya,” ujar Burnalis dalam percakapannya.

Sedangkan Fasli Djalal sebagai nara sumber pertama memberikan kesempatan kepada Dr (Hc) Nurhyati Subarkat, founder owner dan CEO dari PT Paragon Technology and Innovation yang menghasilkan produk merek Wardah Kosmetik.

“Berbicara profil ibu Nurhayati nggak terlalu susah, cukup buka mak Google, sudah terbuka sosok ibu Nurhayati yang luar biasa ini. Tapi hari ini ada yang khusus beliau sampaikan di webinar disesuaikan dengan topic dan pemirsa,” ujar Fasli yang juga berkapasitas sebagai moderator dalam Webinar ini.

Dengan kepiawainya Fasli membuat webinar dari awal sampai akhir selalu hidup dan tidak ada rasa bosan, kuncinya Fasli cukup mengenal semua narasumber, dari profile, back groud bisnis kiprahnya, hampir pada setiap pengantar di setiap sesi, bahkan Fasli seperti akrab sekali dengan narasumber dan materi yang dibawakan mereka. Sehingga acara belaiu selalu ditunggu tunggu karena besar sekali manfaatnya.

Dijelaskan Fasli, Nurhayati sama saja dengan ibu ibu lainnya, memulai bisnis dari nol dan bukan meneruskan bisnis orang tua, setelah menamatkan kuliah di Farmasi ITB, ingin sekali menjadi dosen, keinginan itu tidak tercapai dan akhirnya mendirikan bisnis kosmetik ini.

Nurhayati pada kesempatan itu mengungkapkan bahwa dalam binsis kata kuncinya ialah kolaborasi, inovasi, lima karakter yang disampaikan yaitu: Ketekunan, Kepedulian, Karehan hati, Belajar dan Inovasi.

Nurhayati yang dari kecil, sekolah dan kuliah ini sudah memakai baju kuruang memberikan tips, sebagai wirausaha jangan pernah patah semangat, dalam berbisnis ini biasa jatuh bangun.

“Saya pernah tempat usaha terbakar habis, pernah kena terpaan 98 dan sebagainya, tapi saya tidak menyerah dan meminta pertolongan kepada Allah dengan khusuk, alhamdulilalh Allah menunjukkan jalan dan kemudahan bagi beliau yang mungkin seperti mukjizat,” ungkapnya.

Karena waktu yang terbatas, Nurhayati berpesan bangun kolaborasi senior deagan Yunior untuk bisnis.

Selanjutnya tampil nara sumber lainnya H. Yasmar, H. Yasmar, pemilik Budiman Swalayan di Bukittinggi.

Tampil layaknya seorang sekh, dengan jenggot tebal dan panjang serta memakai baju gamis.

Yasmar berbagi bercerita bagaimana memulai usahanya, mulai pengalaman berbisnis di kampuang sampai memiliki 14 swalayan di Bukittinggi dibeberkannya.

H. Yasmar memulai bisnis dari kedai kontrakan yang kecil di pasar bawah, Bukittinggi. Salah satu unsur keperyaan yang pernah dirasakannya adalah ketika membutuh mobil untuk berdagang mau bulan puasa, dengan menjual mobil seharga Rp, 35 Juta, tapi ia bisa membeli barang seharga Rp1 Miliar.

Resepnya, dengan gamblang Yasmar mengatakan bahwa kunci berbisnis itu adalah trust, kepercayaan, dan pendelegasian.
“Berani mendelagasikan kepada orang lain, berani menghire tenaga professional dan memberikan kewenangan yang lebih, rubah pandangan yang salah yang istilah percaya kepada anak buto mato ciek, picayo ka urang lain buto duo mato.

Di akhir sharingnya, Yasmar menyampaiakan jangan mengkambinghitamkan modal, “Tidak selalu modal sebagai awal untuk berbisnis. Dengan banyak berinteraksi, bersilaturahim akan ada saja modal yang datang, percayalah,” katanya menutup.

Selanjutnya Nara sumber Elsa Maharani, pengusaha Milineal dari ranah Minang, ketika orang memasukkan barang ke Sumbar, Elsa merubah semua itu, Elsa mengekspor barang dari Sumbar ke Hongkong, Dubai, semua provinsi dari Aceh sampai NTB.

Elsa berkisah, awalnya Elsa adalah importir baju dari China, lama lama dia mulai berfikir, kenapa nggak dia yang jadi eksportir, membuat produk sendiri, memberdayakan tenaga kerja di kampuang halaman, mulailah dia membuka usaha dengan nama Maharani Hijab. Elsa membuka kampung jahitan.

“Dengan berserah diri kepada Allah, di setaip habis shalat saya berdoa untuk kemudahan dan kesuksesan usaha dan saya bertekad bahwa usaha ini bisa menguntungkan orang lain dan sebagai amal jariah.
, “ungkap Elsa

Ketika Fasli bertanya bagaimana cara memotivasi tenaga kerja di Sumbar?. Elsa menjawab bahwa dia membangun system.

“Bukan gue gaji lu buat lu bekerja, tapi kiat bekerja dari hati ke hati, pendekatan sosial lebih penting, keuntungan dibagi dengan karyawan, waktu pandemi dikasi infus, niat awal mendirikan Maharani ini untuk membantu masyarakat, amal jariah kita yang bekerja, ibadah kita untuk akhirat,” ujarnya.

Apa saran Elsa untuk sesame milenial Sumbar?
Saran Elsa, “Kemauan, modal utama itu bukan uang tapi kemauan, punya kemauan untuk berbagi dengan orang lain, mulai saja dulu usaha itu, halangan itu adalah untuk naik kelas.

Pengalaman pahit Elsa pernah waktu mengorder kain ada 5 rol kain yang cacat, kemudian berserah diri kepada Allah, bulan depan diganti Allah dengn rezeki yang tidak disangka sangka, banyak order yang masuk.

Jilbab ini pelakunya banyak, bagaimana bersaing dengan competitor, pertanyaan Prof Fasli selanjutnya?

Apa saran Elsa untuk sesame milenial Sumbar?

Dijawabnya, dunia fashion itu perubahannya cepat sekali, langkah awal , Sebelum mnegeluarkan produk, adakan riset pasar, nggak usah muluk muluk model dan bahannya, berdasarkan riset itu baru didapat kebutuhan pasar, membuat sampling, uji kelayakan produk. Sebelum launching riset bisa menghabiskan waktu satu bulan

“Bagi milineal kalau mau usaha, jangan takut gagal, laluilah kegagalan itu dengan baik, nanti akan ditemui hasilnya, penemu listrik Thomas Alf Edison 999 kali gagal, Elsa bisa 99 kali gagal, jangan patah semangat, tetap kut dan gigih serta berserah diri kepada Allah, mulai sajalah dulu, latar belakang ilmu tidak menetukan, kemauanlah yang lebih berperan.

Sesi selanjutnya Fasli sedikit bercerita tentang sejarah INS, bagaimana M. Sjafei mendirikan lembaga pendidikan ini, untuk lebih mantapnya, Ia mempersilahkan Dr. Dr. Indra Utama bercerita tentang 94 tahun INS.

Menurut Indra, bagaimana INS punya model pendidikan yang teruji dari zaman Belanda, sejak tahun 1926. ia menyampaikan bagimana pendidikan di INS melahirkan manusia manusia yang tangguh, semua anak punya talenta dan siap untuk berkarya sendiri.

Selanjutnya Fasli meminta nasehat dan saran dari tokoh Minang, Basril Jabar.

“Bagi saya adalah tokoh Minang yang tidak pernah lelah memikirkan Minangkabau, saya tak pernah meragukan SDM urang Minang,” ujar Basril yang berusia 77 tahun ini sembari menawarkan potensi ekonomi ranah minang, agro industry dan industri kreatif. Dulu pernah konglomerat Minang membuat perusahaan korporat, ada yang gagal, kegagalan ini sering disebut sebut, dianggap orang minang tidak bisa bekerja sama pada hal banyak sekali orang Minang yang sukses,”ungkapknya

Lebih lanjut Basril yang akrab disapa Da Bas itu mengulas bagaimana mensinkronkan kehebatan orang Minang membangun minang, ini perlu digarap oleh putra Minang sendiri dengan mengikutsertakan orang minang,

Tahun 1986, Basril pernah membuat koperasi, modal awal Rp30 Juta sekarang sudah punya modal 30 M.

“Kita bisa bersatu, pameo orang Minang tidak bersatu harus diruntuhkan,” sebut pemilik harian Singgalang

Dibeberkannya 2 tahun yang lalu, ia dengan teman teman termasuk Prof Fashbir mendirikan koperasi Saudagar Minang Raya, sekarang anggoatnya sudah 500 orang, salah satu usahanya adalah rumah potong ayam di jalan by-pass dengan aset Rp8 M.

“Yang ingin dituju orang Minang bisa bersatu, dengan persatuan dan kesamaan ini potensi Minang kita garab dengan Koperasi Saudagar Minang Raya. Yang penting sense of blonging, kita pakai pameo rumah makan Minang, tidak ada anak buah, semua sama, dan SMR sudah berhasil membangun potensi ranah Minang.

Selanjutnya Dr. Firman Hidayat, Dekan kehutanan Univ Muhammadiyah Padang yang sudah 8 bulan berkolaborasi institusi yang dimpinnya dengan Dinas Kehutanan dan INS, bagaimana memanfaatkan lahan milik INS seluas 18 HA bisa bermanfaat bagi pendidikan, penelitian, tourism, menjadi kawasan hutan pendidikan sekaligus memberi pengetahuan kepada anak didik.

Sementara diakhir Webinar, direktur Minang Diaspora Network, mengucapkan Selamat Utah INS yang ke 94 yang telah melahirkan alumni yang hebat, INS tak lakang dipaneh tak lapuak di hujan.

“Terselanggaranya acara ini juga Kolaborasi Webinar Wardah, INS, MDN, UNP, Unand, terima kasih kepada semua yang ikut berkolaborasi dan berkontribusi,” ujar Burnalis.

Webinar ini, dikatakan Burnalis merupakan program kelanjutan dari tokoh minang yang peduli dengan ranah, salah satunya Nurhayati, yang bisnisnya diteruskan oleh putranya dengan 12,000 karyawan.

“MDN konsern kepada Promoting, Networking, kunsuming, bagaimana diaspora minang menggunakan konsumsi produk Minang.

Webinar ini tidak hari ini saja, tapi terus kita lanjutkan, komitmen MDN adalah ikut membantu dengan jaringan Disapora Minang yang menyebar di seluruh dunia. Komitmen Ivan Ahda, kedepan kita buat pelatihan lanjutan, kita coba menyebarkan form survey untuk mendapatkan masukan pemetaan latihan kewirausaawan yang cocok, untuk memetakan bisnis di setiap daerah,” tutur Burnalis.

Selanjunya Fasli mempersilahkan Prof Helmi, akademisi Unand, pemlik Vila Kayu Putih, membangun mengembangkan usaha itu berada dam satu kompleksitas, ada kretifitas, selalu beradaptasi dangan perubahan

Perlu kolaborasi salah satu elemen yang sangat esensial

Di Minang, punya resourses, ada pak Burmalis di MDG-N, bisa membantu dengan networking rang minang.

Bisnis start up, ada limit yang perlu dinaikkan lagi kurvanya, naikkan grafik lagi, kolaborsi perlu untuk pembiayaan, yang penting ide dulu, modal, untuk inovasi dan ekspansi, di minang banyak, bagi yang punya talenta menunjang prestasi perlu ditopang, mulai dari start up, terus akselerasi.

Sebagai penutup Fasli memotivasi kaum milenial untu berbuat dimana saja, bisa juga di minangkabau, banyak potensi Minang yang bisa digali dan dikembangkan,

“Coba kita balik orang minang yang mengirimkan uang ke rantau. Berbuat dengan tulus, bekerjasama dengan pihak luar dalam sediri, berdoa dengan khusuk, menjadi amal jariah dihdapan Alla SWT, jaga kesehatan selalu pakai msker jaga jarak, cuci tangan sesudah memegang apapun, bertambah sukses dalam karir dan kehidupan,”ujarnya

Webinar yang diikuti 300 partisipan ini ditutup pas adzan zuhur berkumandang. (Agusmardi)