Pabrik Minyak Atsiri di Pessel Berbahan Bakar Cangkang Sawit, Ini Ulasannya

269

JURNAL SUMBAR | Pesisir Selatan – Peralatan Minyak Atsiri Ada inovasi baru dilakukan Pemkab Pesisir Selatan (Pessel) Sumatera Barat dalam pembangunan pabrik minyak atsiri.

Kalau daerah lain bergantung ke gas dan listrik sebagai bahan baku pembakaran mesin, di sini justru menggunakan cangkang sawit.

“Seluruh mesin (penyulingan) pakai cangkang sawit sebagai bahan baku pembakaran,” ucap Kepala Dinas Perdagangan dan Transmigrasi Mimi Riarty Zainul melalui PPK Mesin & Peralatan, Ismunandar.

Ide cangkang sawit sebagai bahan bakar, terangnya, berawal dari lokasi pendirian pabrik (Kecamatan Lunang Silaut) berdekatan dengan area kebun dan pabrik kelapa sawit (Incasi Raya dan Sapta).

Puluhan truk pengangkut ampas (cangkang sawit) terlihat melintas setiap harinya.

“Ini seperti dapat dikelola jadi bahan bakar (bahan baku pembakaran untuk mesin), pengganti listrik dan gas. Upaya minimalisir biaya bahan bakar,” ujar Ismunandar.

Selanjutnya, pemkab Pessel berkomunikasi dengan pihak Balai Penelitian Buah (Balitbu) Tropika Aripan Kabupaten Solok.

“Alhasil, dibawah bimbingan Pak
Indra Kusuma (tim ahli balitbu tropika), ide inovasi mengelola cangkang sawit pengganti gas dan listrik tadi pun menemui titik terang,” ucap Ismunandar.

Dengan menggandeng tim teknis pembelian peralatan (pembuatan) dan mesin pun mulai dilakukan.

“Kita (Pemkab Pessel) pun mengalokasikan anggaran belanja peralatan penyulingan minyak atsiri sebanyak Rp2,8 Milyar. Untuk biaya inovasi penggantian bahan bakar gas dan listrik ke penggunaan cangkang sawit,” terangnya.

Tujuan penggunaan cangkang sawit ini, sambung dia, bagaimana bisa memberdayakan bahan baku
yang ada di daerah setempat.

“Bahan mudah didapat, disisi harga pun lebih murah dibanding kalau menggunakan gas atau listrik (genset),” ucap Ismunandar.

Pemkab Pessel membangun pabrik minyak atsiri di kecamatan Lunang Silaut, upaya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Pabrik dengan pagu investasi Rp 10,9 miliar dibiayai DAK Kemenperin APBN 2022.

Pembangunan di lahan 9.960 meter per segi, dengan luas bangunan 1.300 meter per segi di Nagari Lunang Barat.

Kepala Dinas Perdagangan dan Transmigrasi Mimi Riarty Zainul menerangkan, pabrik memproduksi minyak kayu putih, minyak pala dan minyak serei wangi.

Dengan kapasitas mesin 6 unit tanki suling, diantaranya 3 unit kapasitas 1.000 liter, 2 unit 500 liter, dan 1 unit 50 liter.

“Dijadwalkan, pembangunan pabrik selesai 31 Desember tahun ini,” ujar Mimi.(Re)