Feminisme dalam Novel “Layangan Putus”

Catatan M Taufan Riyanto

415

Seorang Kinan yang berakhir dengan peceraian dalam novel “Layangan Putus” sempat viral di media sosial sampai dibuatkan serial “Layangan Putus” yang dialognya menjadi viral dengan parodi yang diperankan oleh beberapa artis ternama di media sosial.

Melihat kondisi saat ini yang dipengaruhi oleh media teknologi, ketika sebuah serial novel dan film menjadi konsumsi publik, dan yang menjadi tokoh utamanya adalah sosok perempuan maka timbul kritikan, “Bagaimana dengan perempuan saat ini?” Dengan sudut feminisme, kajian ini patut untuk diselidiki, dimaknai, bagaimana sosok perempuan seperti Kinan mengalami situasi yang memprihatinkan dalam novel “Layangan Putus”?

Peran Perempuan

Feminisme telah memberikan ilustrasi yang dapat memberikan suatu pandangan tentang keadaan yang terjadi. Perempuan hadir dalam semua situasi sosial kehidupan. Perempuan ada di dalam ranah sosial, dalam keluarga, komunitas sosial masyarakat. Perempuan hadir sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Perempuan hadir dalam ranah politik dan bahkan perempuan juga hadir dalam ranah kegiatan ekonomi.

Ketika perempuan tidak hadir karena adanya upaya yang disengaja untuk mendeskriminasikan mereka. Ketika aku menjadi Kinan dalam novel “Layangan Putus”, peran perempuan telah dilakukan dalam konsep perempuan yang ada pada umumnya. Menjadi seorang ibu yang baik bagi anaknya, menjalani profesi terpandang yang berimbas pada penampilan sosok istri yang cantik jelita.

Perempuan sebenarnya dapat bekerja sama dengan laki-laki, dengan bekerja sama akan melahirkan kreativitas yang membangun secara dinamis dalam menghadapi situasi-situasi sosial yang akan terjadi. Akan tetapi, ketika perempuan hadir secara aktif dalam situasi sosialnya, masyarakat menganggap remeh peren perempuan.

Hal yang sangat esensial, peran perempuan masih saja dianggap berbeda dalam berbagai sektor yang ada, dianggap kurang menyakinkan, tidak menarik, dan kurang berbobot sehingga perempuan ditempatkan di bawah peran laki-laki, seperti anggapan suami Kinan bahwa Kinan dapat dibohongi tentang proyek besar dan hanya dia sebagai laki-laki yang hanya boleh tahu.

Dalam novel “Layangan Putus” terlihat adanya perselingkuhan yang pada dasarnya perselingkuhan tidak dapat dibenarkan dalam membangun rumah tangga sebagai pranata sosial yang utuh. Kemampuan perempuan harus memiliki teknologi informasi dalam mengungkap kasus seperti ini. Sebelumnya Kinan sangat percaya kepada suaminya bahwa ia sedang mengerjakan suatu proyek besar tanpa mengetahui suami telah selingkuh. Ketika Kinan telah mengetahuinya ia bingung untuk mengungkap kasus perselingkuhan ini. Saya mengkritik novel ini seharusnya Kinan sebagai perempuan harus bisa langsung menuntaskan permasalahan ini karena teknologi informasi yang canggih pada zaman sekarang. Menurut saya alur yang ada dalam novel ini sedikit bertele-tele dan rumit.

Kinan dalam “Layangan Putus” mampu memberanikan diri untuk menggugat cerai suaminya setelah berhasil untuk mengungkapkan perselingkuhan suaminya, walaupun sedikit bertele-tele. Saya juga mengkritik sebuah perceraian yang ada dalam novel ini, seharusnya sesosok Kinan bisa untuk mempertahankan keutuhan keluarganya agar anaknya tidak kehilangan sosok ayah yang dicintainya.

Kesejajaran

Pertanyaan kritis dari feminisme adalah bagaimana mengubah dunia sosial untuk menjadi tempat yang lebih adil bagi semua. Dalam feminisme sosialis, pengakuan hak perempuan dalam ranah publik merupakan bagian dari keadilan yang dapat ditawarkan atas ketidakadilan yang selama ini diperoleh oleh perempuan. Gender merupakan kreasi sosial, artinya perempuan dan laki-laki berbeda itu memang suatu yang unik. Akan tetapi, dalam kemampuan dan keterampilan memiliki peluang yang sama. Lalu mengapa masih diperdebatkan tentang eksistensi perempuan? Perjuangan Kinan dalam novel “Layangan Putus” masih Panjang dalam realita sosial, sebab tidak semua perempuan memiliki pendidikan yang sama.

Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang.