Matahari Itu, Terbitnya Kini dari Pekanbaru

Oleh : Awaluddin Awe

689

SAYA ada di Pekanbaru kini. Seperti biasanya, pagi setelah sholat subuh saya setiap kali datang ke satu kota, selalu berusaha bisa mengelilingi sudut kota itu, dengan berjalan kaki.

Tadi, saya juga berjalan kaki di seputaran Jl Sudirman, arah pasar pusat kota Pekanbaru. Pada bagian ujung jalan itu, terlihat konstruksi revitalisasi jembatan Siak berdiri dengan gagahnya. Sementara di sekitar pasar pusat, pedagang kagetan sayur mayur, sampai berdagang hampir ke tengah jalan.

Saya hanya ingin berbagi, bahwa kota Pekanbaru kini sudah sangat berubah lebih berkembang dan mulai mencirikan kota modern. Sejumlah gedung pencakar awan bermunculan. Ruko-ruko dengan tampilan asyik, indah terlihat dari pinggir jalan.

Kalangan perbankan ikut membedaki gedungnya supaya terlihat cantik dilihat dari luar. Dan itu sudah berhasil. Perkantoran bank sangat cantik dilihat dari pinggir jalan.

Hotel di Pekanbaru juga mulai bervariatif, bahkan sudah punya hotel berbintang lima ya?. Sesuatu yang selama berpuluh tahun lalu, tidak terbayangkan bakal terbangun.

Tetapi ini sebuah realita. Kota Pekambaru yang menjadi simbol pertumbuhan Propinsi Riau secara keseluruhan, tidak bisa ditolak sedang bertumbuh dan berkembang menjadi kota metropolis.

Sarana dan prasarana perkotaan juga sudah disiapkan untuk mendukung kota modern. Jalannya lapang-lapang dan jembatan penyeberangan, playover dan trotoar bagi pejalan kaki dibangun untuk menunjang kenyamanan pendatang.

Saya melihat sudah ada perubahan posisi dan peran hinterland kota pekanbaru selama beberapa tahun terakhir. Diluar sektor pendidikan, kota Pekanbaru sudah berubah menjadi kota tujuan bisnis dan perdagangan, bagi kota lain di Sumbar dan Jambi.

Dalam percaturan politik dan kebudayaan pun, masyarakat kota Pekanbaru sudah sangat melek. Meski kita kurang setuju dengan dikotomi penduduk asli dan pendatang.

Jika elit kota Pekanbaru mampu mengendalikan egoisme putra daerah, maka sosiocity kota Pekanbaru, bisa merebut kota sekelas Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Palembang. Namun sebagai pendatang, kita juga harus maklum dengan euforia identitas puak Melayu Pakan itu. Sebab sejarah pergaulan antaretnis mereka selama ini juga kurang menguntungkan. Wajar saja mereka takut kotanya dikuasai orang lain.

Namun saya sangat berbangga. Meskipun saya bukan orang Melayu Riau. Ayah dan ibu saya berasal dari Padang pariaman, ulakan dan Sintuak, tetapi nama saya dipakai oleh sebuah mesjid di kawasan pasar pusat Pekanbaru.

Alhamdulillah.
Semoga ini memang menjadi kesadaran bagi saya utk terus berjalan di jalanNya, sesuai dengan fitrah nama saya : Awaluddini makrifattulah, bermula awal mengenal Allah.

Aamiin

(Penulis adalah Wartawan Ekonomi)