Berita Mutasi Kapolres Padang Panjang AKBP Cepi Nopal Naikan Citra Polisi

Oleh : Awaluddin Awe*)

4422

Ada 14 Kapolres di jajaran Polda Sumbar yang mengikuti mutasi dan rotasi sejak 19 September lalu, sebagai tindak lanjut dari telegram Kapolri tanggal 2 September lalu tentang mutasi Pamen di seluruh Polres di Indonesia.

Saya mencatat ada dua Kapolres yang mendapat apresiasi atas mutasi dan rotasi ini. Satu, adalah AKBP Bayuaji Yudha Prajas, SH dan kedua AKBP Cepi Nopal, S.I.K.

AKBP Bayuaji yang pindah ke Baharkam Mabes Polri, diapresiasi langsung oleh Kapolda Sumbar Irjen. Pol. Drs. Fakhrizal, SH, MH, disebut sebagai Kapolres yang banyak inovasi, kreasi dan dedikasi terhadap institusi dan masyarakat.

Tetapi sebaliknya AKBP Cepi Noval malah banyak mendapat apresiasi dari masyarakat langsung. Kabar kepindahannya sejak turunnya TR Kapolri pada 2 September sampai sertijab 19 September, mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat.

Bentuk apresiasi beragam mulai dari bentuk ucapan terimakasih atas dedikasinya sebagai kapolres yang mengayomi masyatakat, sampai kepada rasa kecewa, hiba dan putus asa karena harus berpisah dengan kapolres banyak sahabat tersebut.

Tetapi yang paling heboh dan sempat viral diberbagai media sosial adalah peristiwa yang tak terduga terjadi, seorang anak penjual goreng bernama Laras, siswa SD Negeri 18 Koto Panjang.

Anak perempuan ini mendatangi dan menerobos areal apel serah terima jabatan Kapolres Padang Panjang dari AKBP Cepi Noval,S.I.k kepada AKBP Sugeng Hariyadi,S.I.k,MH guna menemui Cepi sambil menjujung dagangannya sambil menangis.

Laras yang sama sekali tidak tau bahwa saat itu ada acara serah terima Cepi ke Sugeng, tapi untung diberi tau seseorang bahwa Cepi akan pindah tugas ke Pesisir Selatan, spontan saja menangis dan memburu ke arah Cepi.

Cepi sendiri seperti tidak kuat juga melihat Laras yang menangis ke arahnya sambil meminta dia jangan pindah tugas. Terlihat sekali otot leher sebelah kiri Cepi menonjol pertanda dia sedang berusaha keras menahan perasaan hibanya.

“Laras jangan takut, meski bapak pindah ke Pesisir Selatan, tetapi masih ada Kapolres baru yang menggantikan bapak. Namanya Bapak Sugeng,” ujar Cepi dengan suara serak.

Laras dan Cepi sejak beberapa waktu terakhir memang terlihat mesra sebagai penjual goreng dan pembeli. Rupanya, setiap kali gorengan Laras tidak habis terjual, maka pada akhirnya diborong habis oleh Cepi Noval dan istri.

Rupanya ini yang membuat Laras tak kuat menahan tangisnya. Siapa lagi yang akan memborong gorengannya, jika tidak habis terjual. Sementara dia membutuhkan biaya untuk sekolah dan menolong ibunya.

Cepi memang memerlakukan Laras seperti itu. Sebab dia simpati dengan semangat juang Laras yang tinggi dalam bersekolah.

“Makanya setiap kali dagangan Laras tidak habis, saya borong semua. Gorengan tersebut kita makan bersama anak anak,” ujar Cepi mengisahkan.

Cara ini, memang salah satu cara Cepi sebagai polisi mengayomi masyarakatnya.

Ada banyak warga yang diperlakukan sama seperti Laras oleh Cepi. Prinsipnya Cepi mengembangkan sikap edukasi polisi terhadap masyarakatnya. Prinsip ini memang sejalan dengan sikap Cepi yang suka bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

Makanya tidak heran. Berita kepindahan Cepi Noval yang dirilis wartawan maupun pemegang akun media sosial, termasuk di facebook mendapat tanggapan luar biasa dari netizen.

Malahan ada yang berniat menulis surat kepada Kapolri supaya tidak AKBP Cepi Noval tidak dipindahkan dari Padang Panjang.

Citra baik bagi Polisi

Munculnya berbagai berita dan status di media sosial terkait perpindahan Cepi Noval ke Pesisir Selatan menunjukan bahwa kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap tugas polisi sangat tinggi.

Masyarakat membuat satu profilitas sendiri tentang wujud dan gambaran polisi ideal. Polisi yang dekat dan ramah terhadap masyarakat. Sehingga polisi benar benar menjadi pelindung masyarakat.

Selama ini imej yang terbangun di tengah masyarakat adalah sosok yang keras, kasar dan jangan coba main main dengan polisi. Sehingga secara emosional profesi polisi menjadi jauh dari masyarakat.

Maka ada filosofi negatif yang tumbuh dari masyarakat bahwa berkawan dengan polisi tidak ada artinya, pada saat kita butuh pertolongan, mereka memberi berbagai alasan yang menyakitkan hati.

Realita invidu yang terjadi pada AKBP Cepi Noval dapat menjadi suatu pandangan tentang ekspektasi peran dan tugas polisi di masa datang, yakni tidak serta merta bersifat penindakan semata, tetapi bagaimana membangun sikap baik terhadap masyarakat, sekaligus menjadi pelindung mereka.

Tetapi sikap seperti ini hanya dapat dibangun jika individu polisi memiliki pemahaman batin tentang posisinya sebagai makhluk Tuhan dan memahami pola hubungan kemanusiaan.(*)

*)Penanggungjawab Redaksi Kabarmedia Polisi Grup (KMG) Jakarta