Perlunya Evaluasi Pada Pelaksanaan Peringatan HJK Mendatang

138

oleh.Amin Pratikno
PUNCAK peringatan Hari Jadi Kota Sawahlunto ke-131, baru saja berlalu. Sederet rangkaian kegiatan pun dilaksanakan, baik sebelum hari “H” maupun setelah dilaksanakannya acara puncak peringatan.

Bahkan, dalam perhelatan rutin tahunan Pemko Sawahlunto yang digelar setiap akhir tahun ini, dihadiri para tamu istimewa baik dari tingkat provinsi maupun nasional.

Dari puncak peringatan HJK Sawahlunto yang diawali dengan Sidang Paripurna di gedung DPRD, Minggu (1/12/2019), kita bisa mendengar apa yang dipaparkan oleh Walikota Deri Asta, dihadapan Wakil Walikota Zohirin Sayuti, Ketua DPRD Eka Wahyu serta Wakil Ketua DPRD H. Jaswandi dan Elfia Rita Dewi serta seluruh tamu undangan yang hadir, diantaranya Walikota Padang Mahyeldi Ansyarullah dan Walikota Solok Zul Elfian, terkait keberhasilan program yang dilaksanakan Pemko Sawahlunto.

Sebagai masyarakat kota Sawahlunto, kita patut berbangga dan memberikan apresiasi atas capaian kinerja tersebut, dimana salahsatunya adalah keberhasilan kota ini mendapat pengakuan dunia versi UNESCO dalam kategori Ombilin Coal Minning Heritage of Sawahlunto, yang diharapkan mampu mendongkrak nama kota ini sehingga akan dapat menarik minat banyak wisatawan domestic hingga mancanegara untuk datang ke kota ini, yang tujuannya adalah mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Dalam upayanya mendorong percepatan tercapainya hal itu, Pemko Sawahlunto juga telah menggelar berbagai event berskala besar, seperti Sawahlunto International Silungkang Songket Carnival (SISSCA), Sawahlunto International Homestay Fair 2019, dan juga konser music lintas benua yang dikemas dalam ajang Sawahlunto International Music  Festival (SIMFest).

Semua kegiatan yang tentunya sudah menelan anggaran APBD yang tidak sedikit itu, merupakan bagian dari promosi kemajuan pariwisata kita.

Kita semua tentu menyadari bahwa dalam memajukan dunia pariwisata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kita butuh campur tangan pihak lain, seperti swasta atau institusi lainnya.

Masih hangat dalam ingatan kita bahwa belum lama ini di kota Sawahlunto telah dilaksanakan sebuah event Panjat Tebing bertaraf Internasional bertajuk “Wirabraja Open & Speed Classic Extreme Games Silo 10.000” di kawasan Silo, yang diprakarsai oleh Kodim 0310/SSD tepat dimulai 1 hari setelah Hari Ulang Tahun TNI, yakni tanggal 6 hingga 9 Oktober 2019 yang lalu .

Hal itu, tentu menjadi sebuah ajang promosi bagi sektor pariwisata yang ada di kota Sawahlunto, apalagi ajang ini diikuti oleh para atlet Panjat Tebing dari berbagai Provinsi dan bahkan dari luar negeri.

Selain itu, dari pihak Pariwisata Provinsi Sumbar juga turut menggelar lomba Marathon 10K bertaraf Nasional di kota ini (Sawahlunto Coal Trail Marathon 2019) yang diikuti ratusan atlet dari berbagai provinsi di tanah air  dan juga dari mancanegara pada bulan yang sama, yakni tepat tanggal 19 Oktober 2019, yang menggelar Kategori : 17K, 25K dan 42K dengan menyuguhkan rute keindahan Kota Sawahlunto, serta perhelatan Tour De Singkarak yang merupakan agenda Pariwisata Provinsi Sumbar dan terbilang sukses dengan mendapatkan predikat Excellent dari dunia, yang membawa nama Kota Sawahlunto mendapat kehormatan menjadi tempat finish untuk Etape IV dengan route dari Kab Dharmasraya ke Kota Sawahlunto, Selasa (5/11/2019).

Adapun dalam aspek lain di luar aspek pariwisata, berbicara kembali tentang peran pihak lainnya yang telah berbuat untuk Kota Sawahlunto, ternyata jauh dari publikasi pemberitaan media.

Kodim 0310/SSD dengan  dedikasi demi NKRI terbalut rasa keinginan (nurani prajurit) bukan karena rasa kepentingan, telah turut mendukung pembangunan sektor lain di Sawahlunto, seperti pembangunan beberapa unit Rumah Tak Layak Huni bagi warga kurang mampu.

Selanjutnya, dengan gerakan senyap ala militernya Kodim 0310/SSD juga diam-diam telah berkontribusi langsung bersama seorang tokoh masyarakat, yakni H. Jaswandi yang juga sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Sawahlunto untuk menyulap Danau Kandih menjadi objek Wisata Danau Hijau Kandih dengan sentuhan seni nan artistik yang menelan biaya tidak sedikit hingga angka Milyaran Rupiah, murni dari kocek pribadi H. Jaswandi yang didedikasikan untuk Kota Sawahlunto yang menurut testimoni beberapa masyarakat yang sempat curi pandang ke lokasi tersebut bahwa sepertinya diperkirakan akan menjadi replika Taman Impian Jaya Ancol yang ada di Jakarta.

Selain pihak Kodim, sejumlah pihak lain juga telah turut andil dan ambil bagian dalam mendukung kemajuan kota ini, salah satunya peran seorang anak bangsa yang sudah menjadi bagian dari Kota ini, yakni Yance Dumupa. Seorang putra Papua turut merekatkan asa persatuan di Kota ini dengan menggalang dana secara swadaya untuk membalut luka karena ulah oknum di Papua akan tragedi Wamena dengan masyarakat Minang yang muaranya mampu meyakinkan publik bahwa Indonesia mini di Kota ini mampu jadi bahan refleksi untuk rasa persatuan dan kesatuan.

Namun amat disayangkan, dalam pemaparan program yang disampaikan Walikota dihadapan hadirin Sidang Paripurna tersebut, tak sedikitpun disinggung atau disebutkan.

Menurut penulis, hal ini akan bisa menjadi “Momok” atau “Boomerang” bagi kelangsungan promosi kemajuan pariwisata kita maupun kemajuan sektor lainnya. Sebab, bisa saja hal ini akan mengakibatkan kekecewaan akibat merasa tak dianggap atau tak diperhitungkan, sehingga kedepan mereka akan merasa enggan untuk kembali melaksanakan event atau peran di Sawahlunto.

Butuh Partisipasi Semua Pihak

Tak bisa dipungkiri, untuk membangun sebuah kemajuan memang membutuhkan kerjasama dengan banyak pihak. Sebab, tanpa campur tangan pihak lain, diyakini akan menjadi berat dan lambat, seperti narasi bijak “If you want to go fast you walk a lone but if you want to go far you walk together”.

Apalagi, deadline Visi kota Sawahlunto menjadi “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya” pada tahun 2020, sudah diambang pintu atau hanya tinggal menghitung hari.

Meski Pemko mengclaim telah mengalami banyak kemajuan, namun sejatinya, sudah sejauh manakah capaian target visi kota kita sesungguhnya?.

Pertanyaan ini mengingatkan kita pada sambutan tokoh perantau nasional asal Sawahlunto dalam prosesi Makan Bajamba di puncak peringatan HJK Sawahlunto ke-131 di lapangan Segitiga pada Minggu 1 Desember kemarin, Mayjend TNI (Purn) Asril Tanjung yang menegaskan agar Pemko jangan takut untuk mengambil kebijakan dalam pembangunan demi tercapainya Sawahlunto yang sejahtera dan lebih baik.

Bahkan, Asril Tanjung juga mengingatkan bahwa “Jika setelah tahun 2020 Sawahlunto ini tidak ada apa-apanya, maka akan ditertawakan dunia”.

Tentunya, meski hal ini menjadi tugas kita bersama, namun sejatinya tanggung jawab tentunya melekat kepada one person, yakni Kepala Daerah sebagai pemangku kebijakan atau pengendali serta “Nakhoda” penentu arah pembangunan kota ini, yang merupakan penanggungjawab atas berhasil atau tidaknya visi kota kita.

Adapun evaluasi hal lain yang menurut penulis perlu dilakukan adalah cara penyambutan tamu istimewa.

Penulis melihat bahwa penataan ruang Sidang paripurna HJK yang dilaksanakan kemarin, terkesan semrawut dan seperti tidak ada bangku khusus bagi para tamu di hari istimewa kota Sawahlunto ini.

Terlihat Tokoh nasional Mayjend TNI (Purn) Asril tanjung serta sederet tokoh lainnya duduk menyamping dan terkesan memanfaatkan sisa ruangan yang mengelilingi meja para anggota dewan.

Selain itu, juga tampak Walikota Padang dan Walikota Solok, juga duduk di kursi yang tak mncerminka tamu istimewa. Bahkan, Mahyeldi Ansyarullah yang merupakan walikota Padang, harus duduk di kursi sederhana di dekat pintu masuk ruang sidang.

Menurut hemat penulis, ini bukanlah sebuah hal kecil yang bisa dianggap sepele, tetapi bisa menjadi preseden buruk bagi citra pemerintahan kota Sawahlunto.

Sementara itu, dalam prosesi Makan Bajamba, panitia pelaksana terkesan tak memiliki ketegasan. Hal itu ditandai dalam beberapa kali prosesi makan Bajamba belakangan ini, sebagian stand peserta justru telah menghabiskan hidangan mereka dan langsung berkemas-kemas saat di tenda utama masih berlangsung petitah-petitih dan belum mulai makan. Seharusnya, ini sudah menjadi perhatian pihak panitia sejak beberapa tahun terakhir ini sehingga prosesi Makan bajamba menjadi benar-benar tertib dan khidmat. Penulis; Amin Pratikno  (Ketua DPW Ikatan Media Online Indonesia Sumatera Barat)