Covid-19, Berdampak Pada Dunia Jasa Usaha “Kontraktor Kecil” Kontruksi di Sijunjung

3577

“Ya, akibat Covid-19 ini sangat berdampak sekali pada dunia usaha khususnya usaha kontraktor kecil. Padahal banyak warga tertompang kehidupannya di dunia jasa usaha kontraktor”

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Pengurus Badan Cabang Pimpinan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (BPC Gapensi), Sijunjung, Propinsi Sumatera Barat, mengakui akibat Covid-19 sangat berdampak pada dunia usaha jasa konstruksi khususnya kalangan usaha kontraktor kecil.

Pernyataan itu disampaikan Bendahara BPC Gapensi Sijunjung, Tri Eka Putra,SE didampingi Wakil Ketua BPC Gapensi Sijunjung, Saptarius kepada awak media, Sabtu (11/4/2020) melalui sambungan telepon selularnya.

“Ya, akibat Covid-19 ini sangat berdampak sekali pada dunia usaha khususnya usaha kontraktor kecil. Padahal banyak warga tertompang kehidupannya di dunia jasa usaha kontraktor,”kata Tri Eka Putra yang amini Wakil Ketua BPC Gapensi itu.

Untuk itu, kata Eka, panggilan akrab Tri Eka Putra tersebut, ia telah melakukan diskusi internal terkait kondisi industri konstruksi yang terdampak Covid-19 khususnya kontraktor kecil.

Diskusi terbatas yang pernah dibahas BPC Gapensi Sijunjung itu, kata Eka, yaitu terkait dengan kontraktor yang sudah mendapatkan proyek, dan kontraktor yang belum mendapatkan kontrak proyek.

“Untuk yang sudah dapat kontrak, bagaimana treatment-nya, harus dihitung ulang fairness-nya, proyek itu ada masanya kalau telat kena denda,” ujarnya kepada Jurnalsumbar.Com.

Selain itu, perlu diperhatikan juga bagi kontraktor yang belum mendapatkan kontrak atau pekerjaan. Pasalnya, realokasi anggaran juga dilakukan untuk penanganan Covid-19 sehingga dinilai berdampak pada proyek. Meski begitu, ia berharap anggaran untuk proyek tidak dipangkas karena alasan Covid-19.


DAMPAK – Tri Eka Putra akui akibat Covid-19 berdampak pada usaha jasa konstruksi, khususnya kalangan kontraktor kecil

“Kontraktor hidupnya dari proyek, kalau itu kurang signifikan pasti akan sangat terdampak dan dampaknya signifikan. Isu pengangguran sudah kencang di sektor konstruksi. Pertama kami tidak bisa kerja, kedua proyeknya tidak ada, yang bisa kerja paling kontraktor besar yang dapat kontrak, yang kecil-kecil tidak bisa,” jelasnya.

Di kondisi yang serba sulit ini, Tri Eka Putra mengatakan, yang perlu dilihat adalah jumlah kontraktor itu banyak di level kecil. Oleh karena itu pemerintah harus lebih peduli pada kontraktor kecil yang rentan terkena dampak ekonomi dari Covid-19.

“Diperbanyak paket-paket untuk kontraktor kecil, itu yang bisa dilakukan sama pemerintah.”

“Apalagi, arus kas kontraktor kecil dan menengah kondisinya sudah berat dengan pandemi Covid-19 ini”.

“Kalau kontraktor juga sama, pendapatan dari proyek, kalau stop akan berat di cash flow, apalagi punya fixed cash untuk tenaga kerja yang harus dihidapi, belum lagi pinjaman, bunga,” ujarnya.

Selain itu, perlu ada relaksasi jika ada pinjaman ke bank. Hal ini karena kemampuan finansial atau arus kas dari kontraktor kecil dan menengah relatif terbatas. “Kontraktor yang punya nafas panjang itu cash flow-nya kuat, kalau kecil kan nafasnya pendek.”

Di sisi lain terkait jaminan Kementerian PUPR untuk upah pekerja jika proyeknya dihentikan sementara, Eka mengatakan perlu diperjelas lagi. Hal ini karena ada beragam jenis upah untuk pekerja konstruksi, seperti pekerja tetap atau tukang.

“Itu harus clear,” imbuhnya.

Tri Eka Putra mengatakan, sektor konstruksi tahun ini sangat menantang dan banyak pelaku yang bakal tidak mampu bertahan.

“Saya tidak bisa prediksi berapa persen pertumbuhannya karena berat banget, kontraktor banyak yang terpukul jika kondisi Covid-19 ini berkepanjangan. Bahkan diyakini banyak kontraktor bakal ada yang tidak kuat bertahan,” tambahnya.saptarius