Musrenbang Lengayang “Tidak Aspiratif”, Persawahan Koto Rawang dan Sikabu Kekeringan

363

JURNAL SUMBAR | Pesisir Selatan — Masukan dan saran Kelompokan Tani Ranah Cimato, Koto Rawang Kenagarian Lakitan Timur untuk pembuatan parit mereng supaya masyarakat petani tidak berebutan untuk membutuhkan air tidak digubris pada Musyawarah Rencana Pembangunan Lengayang pada bulan Maret 2020. Akibatnya 60 Ha sawah di Koto Rawang dan Sikabu mengalami kekeringan.

Demikian disampaikan Ketua Kelompok Tani Ranah Cimato, Abdul Pulyani, Rabu (1/4/2020).

“Hal itu terbukti dilapangan, ketika musim kemarau tiba 60 Ha persawahan di dua kenegarian yakni Koto Rawang di Nagari Kambang Timur dan Sikabu di Nagari Lakitan Timur mengalami kekeringan,” kata Abdul Pulyani.

Dikatakannya, akibat kekeringan di musim kemarau saat ini, pengairan sekunder tak bisa lagi mangalirkan air kesawah-sawah di dua kenagarian itu.hal ini di perparah lagi air di kepala bandar sering ditutup masyarakat yang mencari ikan di wilayah tersebut.

“Melihat kondisi ril akan kebutuhan air sebagai ketua kelompok tani, saya telah menyampaikan hal itu kepada petugas pengairan dan juga kepada Wali Magari, agar pada Musrenbang Tingkat Kecamatan memprioritas pembuatan parit mereng tersebut tapi tidak direspon,” kata Abdul Pulyani kesal.

Di Musrenbang Tingkat Nagari pun demikian, ketika pelaksanaan Musrenbang Tingkat Nagari usulan pembuatan parit mereng pun tidak diagendakan. Pengusulan pembuatan parit mereng tidak ditampung, terkesan Wali Nagari tidak aspiratif.

“Penyebab kekeringan juga karena pintu air bandar lintang sering di tutup untuk mencari ikan dengan meracun dan menyentrum oleh warga. Namun ketika persoalan itu dilaporkan ke Walinagari tidak ditindaklanjuti,” terang Abdul Pulyani.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Pessel menjemput kembali aspirasi Kelompok Tani Ranah Cimato karena 60 Ha persawahan itu adalah lahan ekonomi pertanian rakyat di dua kenagarian tersebut. (Agusmardi)