WHO; Lockdown Bukan Satu-Satunya Solusi Tangani Virus Corona!

697

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Presiden Republik Indonesia Joko “Jokowi” Widodo telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor (PP) 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSSB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

PP tersebut menjadi aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan yang mengatur soal pembatasan sosial di tengah menyakit menular. Seruan untuk karantina wilayah semakin gencar di tengah tingkat kematian akibat Corona yang terus meningkat di Indonesia.

Menanggapi rencana PSSB, Penasihat Gender dan Pemuda untuk Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Diah Satyani Saminarsih, mengingatkan bahwa karantina wilayah atau lockdown bukan satu-satunya solusi untuk memerangi virus corona.

“Yang harus ditekankan adalah lockdown is not everything,” kata Diah seperti dilansir IDN Times melalui pada Selasa (31/3/2020).

1. WHO tidak pernah menetapkan skema lockdown

Lebih lanjut, Diah menjelaskan bila keputusan karantina wilayah seutuhnya dikembalikan kepada otoritas yang berkuasa. Ada pun anjuran WHO dalam penanganan virus ini adalah penelusuran, pengetesan, perawatan, dan pengisolasian.

“WHO gak pernah bilang harus lockdown atau apa. WHO hanya bilang kerangka perawatan COVID-19 harus trace, test, isolate, dan treat. Nah isolate itu yang diterjemahkan berbeda di setiap negara. Karena intinya kita harus mengisolasi virusnya bukan orangnya. Tapi karena virus ini hidup di orang, jadinya kebebasan orang bergerak akan terpengaruh,” jelasnya.

2. Tidak ada skema lockdown yang ideal

Sejumlah negara yang diketahui telah menerapkan lockdown adalah Tiongkok, Italia, dan Korea Selatan. Masing-masing dari mereka memiliki caranya tersendiri dalam menerjemahkan lockdown. Ketika ditanya adakah skema lockdown yang ideal, Diah menjawab tidak ada.

“Lockdown ini memang beda-beda di setiap negara, tergantung bagaimana kebijakannya. Kalau di Tiongkok bisa berhasil mungkin karena negaranya bukan demokrasi. Di Italia kenapa gagal, karena kelamaan (keputusan lockdown-nya). Di Korea Selatan kenapa berhasil, karena mereka sudah punya pengalaman menangani SARS. Jadi ada faktor lain yang mempengaruhi efektivitas lockdown,” terang Diah.

3. Lockdown adalah fase persiapan untuk “babak perang” baru

Kemudian, mantan Staf Khusus untuk Menteri Kesehatan Nila Moeloek ini menganalogikan karantina wilayah seperti petinju yang sedang beristirahat.

“Lockdown itu memberikan kesempatan untuk sistem kesehatan ‘napas’ dulu. Untuk mempersiapkan APD, kebutuhan obat, orangnya istirahat dulu. Seperti petinju kalau digebukin terus akan K.O, makanya harus ada istirahat 3 menit untuk dirawat,” ujar alumni Seattle University ini.

4. Lockdown harus diiringi dengan tindakan lainnya

“Percuma karantina wilayah kalau tidak ada massive test, tidak ada tracing, tidak di-treat dengan benar,” tutup Diah.sumber; IDN Times