Digagas Minang Diaspora, Tokoh Ranah dan Rantau Minang “Baiyo-iyo” Melalui Aplikasi Zoom

419

JURNAL SUMBAR | Belanda – Bagi Prof. Fasli Jalal, pemimpin pertemuan dan sebagai senior Rang Minangkabau dalam Open Teleconference Dialog Ranah dan Rantau, Sabtu (9/5/2020), peran entrepreneurs dan pengambil kebijakan sangatlah penting pada pertemuan dimasa-masa mendatang. Kaum saudagar membutuhkan dukungan literasi dan edukasi pada era digital ini.

Pertemuan virtual ini yang diikuti sekitar lebih dari 500 orang Minangkabau dari ranah dan rantau melalui platform Zoom, yang mencakup kalangan budayawan, intelektual, scholars, entrepreneur, politisi, dan lain-lain. Tampak hadir Prof. Jurnalis Udin, Prof. Musliar Kasim, Dr. Fahmi Idris, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Ismet Fanany, Buya Masoed Abidin, Prof. Elfindri, Edy Utama dan banyak tokoh-tokoh Minangkabau lainnya.

Surya Suryadi, Dosen Universitas Leiden Belanda, di laman fesbuknya Sabtu (9/5) setelah selesai webinar, Open Teleconference dengan tema “Dialog Ranah dan Rantau: Tantangan Pendidikan Generasi Muda Minangkabau di Era Revolusi Industri 4.0, Perubahan Kehidupan Masyarakat (Society 5.0), dan ‘New Normal’ Pasca-Pandemi Covid-19”, menjelaskan semestinya pertemuan itu memang bukan pertemuan pertama untuk yang terakhir.

Semoga, harapnya, dalam pertemuan-pertemuan yang akan datang lebih banyak entrepreneurs dan pengambil kebijakan yang diikutsertakan. Juga tentunya akan lebih lengkap lagi jika generasi muda Minangkabau juga terwakili.

“Semoga kesatuan dan persatuan Minangkabau tetap terjaga, antara orang rantau dan ranah tetap “sahino samalu” sebagai orang Minangkabau. Dan sejarah dunia telah menunjukkan bahwa lenyap atau jayanya sebuah (suku) bangsa ada di tangan para pemimpin dalam sebuah kelompok masyarakat,” pungkasnya.

Dikatakannya, walaupun ada-pihak-pihak yang berpendapat bahwa budaya Minangkabau telah mengalami degradasi yang tajam, tetapi saat ini orang Minangkabau masih mengamalkan konsep; “Saiyo Sakato. Tagak surang dibulek’i, tagak basamo dipasamokan. Ka hilia sarangkuah dayuang, ka mudiak sarantak galah“.

“Orang Minangkabau harus bangkit dari romantisme masa lalu, tapi sejarah masa lampau adalah pelajaran dan ‘cermin terus’ yang berharga bagi generasi Minangkabau sekarang dan di masa depan,” ujar perantau Minang asal Pariaman yang menetap di Belanda ini, yang merupakan pakar filologi dan ahli penaskahan Nusantara.

Suryadi mencatat, banyak gagasan yang muncul dalam pertemuan virtual selama lebih dari 2 jam itu, yang semuanya bermuara pada upaya “Mambangkik Batang Tarandam. Mangamehan nan taserak, maungumpuakan nan taicia”.

“Setidaknya ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan dari pembicaraan tadi,” tukuk Suryadi yang banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara itu.

Lebih lanjut Suryadi menyimpulkan; Pertama; Perkuat budaya dokumentasi. Kehebatan orang Minangkabau sejak akhir abad ke-19 agak terlupa untuk mendokumentasikan dan mengarsipkannya dengan baik. Sudah saatnya seluruh hasil literasi orang Minangkabau dihimpun sebagai bukti tentang sumbangan keilmuan dan kebudayaan / peradaban orang Minangkabau terhadap bangsa Indonesia dan dunia.

“Dengan adanya perpustakaan yang hebat, generasi Minangkabau masa depan dapat menyelami sejarah masa lampau nenek moyangnya dan tidak hilang dalam arus kebudayaan global yang tidak tentu arah. Dan suku-suku lain di negara ini, juga warga dunia, akan tahu bahwa trade mark Minangkabau bukan sekadar Nasi Padang,” sebutnya.

Kedua, Ciptakan dunia pendidikan yang appicable dan bekerjasama dengan dunia usaha dan juga dengan dunia pertanian di Sumatera Barat.

Sudah sejak dulu pendidikan yang membumi seperti ini ada di Minangkabau, seperti Sekolah Raja / Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi) dan Kweekschool Islamijah atau Mohammedan Lyceum di Lubuk Sikaping yang dipimpin oleh Abdoel Aziz Soetan Kenaikan.

“Konsep sekolah seperti itulah yang dikemukakan oleh Prof. Ismet Fanany (Australia) dalam pertemuan tadi. Di sekolah-sekolah seperti itu siswa tidak saja diajarkan tentang ilmu, tapi juga praktek pertanian, peternakan dan pertukangan. Gagasan Prof. Elfindri untuk melakukan spesifikasi pembidangan (indang tampih tareh), bukan sekedar penjurusan terhadap siswa saya nilai tepat dan urgen, sebagaimana sistem pendidikan di Belanda sejak dulu sampai sekarang,” tukasnya.

Konsepnya adalah, lanjut Suryadi, setiap orang dapat hidup dan maju jika benar-benar mendalami suatu bidang sesuai dengan minat dan kemampuan otaknya.

Ketiga, Perkuat kerjasama antara entrepreneurs dengan intelektual, baik di ranah maupun rantau, dan antara yang di ranah dan di tantas. Dulu, para pebisnis dan saudagar Minangkabau bersemangat menyisihkan uang mereka untuk menyekolahan anak-anak Minangkabau yang potensial dan cerdas.

“Kita masih ingat, misalnya, Taher Marah Soetan yang mendirikan Sarekat Oesaha yang kemudian mensponsori pembangunan Adabiyah School yang masih eksis sampai sekarang. Banyak saudagar dan pedagang di Pasar Mudiak dan daerah-daerah lainnya di Minangkabau dengan ringan tangan menyumbangkan uang untuk pembangunan sekolah Adabiyah,” ucapnya.

Para pedagang, bekerjasama dengan ulama dan ninik mamak, bersemangat mendirikan Studiefonds-studiefonds (yayasan beasiswa) untuk menghimpun dana yang digunakan untuk menyekolahkan anak kemenakan mereka, bahkan sampai ke Batavia dan Negeri Belanda.

Betapa hebatnya animo untuk mencapai kemajuan di kalangan orang Minangkabau pada waktu itu, sebut Suryadi, sehingga banyak studiefonds didirikan, seperti Studiefonds Minangkabau, Studiefonds Kota Gedang (yang paling maju, sampai mencari guru orang Eropa dan mengirim anak kemenakannya belajar ke Belanda), Studiefonds Batipuah, dan lain-lain.

Biaya pendidikan memang mahal. Sejak dulu, dan mestinya kini juga, orang Minangkabau tidak mau hanya menadahkan tangan kepada Pemerintah yang punya dana terbatas, apalagi sekarang.

“Oleh sebab itu, orang Minangkabau sekarang harus berinisiatif untuk menghimpun dana pendidikan guna meningkatkan kemajuan anak-kemenakan kita. Dalam konteks ini, kita boleh meniru dan merevitalisasi semangat kerjasama yang begitu hebat antara para saudagar Minangkabau dengan kaum intelektualnya di masa lampau. Bagi orang-orang kaya Minangkabau di masa kini, sumbangan mereka untuk kemajuan anak kemenakan kita adalah amal ibadah dan pahala yang akan terus mengalir tak henti-hentinya,” ujar Suryadi.

Kemudian, Keempat; Perkuat karakter anak didik / anak muda Minangkabau yang berlandaskan Islam tapi terbuka menerima berbagai perbedaan aliran pemikiran.

“Bukankah hal ini sudah tampak di kalangan intelektual Minangkabau sejak dulu, sebagaimana dikemukakan oleh budayawan Uda Edy Utama dalam pertemuan tadi,” katanya.

Tapi butir 4 ini menurut Suryadi adalah tantangan yang paling berat. Usulan dalam forum tadi yang mengatakan perlunya membuat sebuah sekolah yang khas Minangkabau adalah suatu keniscayaan dan menarik.

Persoalannya adalah: bagaimana Sumatera Barat dapat mengambil peluang otonomi di bidang pendidikan, kalau ada, yang memungkinkan memiliki ruang untuk berkreasi dengan tidak lari dari sistem pendidikan nasional?

“Saya mengatakan ini karena saya lihat banyak ‘kerusakan’ sudah terjadi dalam sistem pendidikan nasional, sejak dari kurikulum sampai kepada praktek-praktek di lapangan yang tampak makin menjerumuskan dunia pendidikan nasional ke dalam dunia bisnis. Tentu masih ada institusi-institusi pendidikan yang menunjukkan pengecualian,” tegas Suryadi.

Lebih lanjut disampaikan Suryadi, banyak ide lain yang muncul dalam diskusi tersebut, yang berada di luar 4 aspek di atas. “Apa yang saya catatan di sini tentu bukan sebuah kesimpulan yang lengkap,” ucapnya.

Sebagaimana diharapkan oleh banyak peserta pertemuan tadi, diharapkan langkah awal ini akan berlanjut ke langkah-langkah berikutnya yang bersifat lebih konkrit.(Agusmardi/Dariberbagaisumber)