Alokasi APBD Sawahlunto Untuk Biaya Kuliah dan Reward Mahasiswa Berprestasi, Ini Penjelasannya

235

JURNAL SUMBAR | Sawahlunto – Pemko Sawahlunto, Sumatera Barat, alokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk bantuan uang masuk kuliah dan reward (penghargaan) terhadap mahasiswa berprestasi di daerah itu.

Bahkan bantuan untuk pendidikan tiap tahun terus meningkat signifikan. Dari yang awalnya di 2018 baru di kisaran sekian ratus juta, di 2019 meningkat ke Rp 1 miliar lebih dan sekarang di 2020 ini mencapai Rp 2 miliar lebih. Dengan peningkatan jumlah anggaran itu, maka jumlah mahasiswa penerima bantuan dan reward (penghargaan) tersebut juga semakin bertambah.

Pada tahun 2020 ini, sesuai data dari Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, jumlah mahasiswa yang menerima bantuan biaya masuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi A dan B berjumlah 231 orang. Dengan rincian mahasiswa pada jenjang pendidikan Strata 1 (S 1) sebanyak 177 orang, kemudian di jenjang Diploma III (D III) sebanyak 54 orang.

Sementara, untuk jumlah mahasiswa yang menerima reward (penghargaan) mahasiswa berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,1 yakni sejumlah 772 orang.

Kemudian, dilaporkan Kepala Dinas Pendidikan Asril, bahwa pada 2020 ini ada penambahan kategori baru, yakni bantuan biaya masuk kuliah bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Ini baru kita mulai pada 2020 ini. Ada 2 orang mahasiswa Sawahlunto yang menerima bantuan untuk kategori ini. Persyaratannya adalah yang bersangkutan harus tercatat (terdata) masuk dalam keluarga kurang mampu di Dinas Sosial,” kata Asril, usai penyerahan secara simbolis bantuan uang masuk dan reward pada mahasiswa Sawahlunto, pada Jum’at 06 November 2020 tadi di Balaikota.

Walikota Sawahlunto Deri Asta menyampaikan, peningkatan jumlah anggaran dan jumlah mahasiswa penerima bantuan dan reward ini menunjukkan bukti nyata dari komitmen Pemko Sawahlunto dalam memberikan motivasi kepada para pelajar yang lulus diterima di Perguruan Tinggi, sedangkan tujuannya yakni untuk mewujudkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kualitas pendidikan.

“Ini juga menunaikan janji – janji kita pada masyarakat saat kampanye dulu. Kita komitmen untuk membantu meringankan beban orang tua dalam membiayai kuliah anak – anaknya. Alhamdulillah, anggaran untuk ini dapat kita tingkatkan dari tahun ke tahun,” ujar Walikota Deri Asta.

Diuraikan Walikota Deri Asta, untuk besaran bantuan biaya masuk kuliah yang diterima bagi mahasiswa yang diterima di PTN dan PTS terakreditasi A dan B yakni sebesar Rp. 1.500.000,-/orang untuk jenjang Diploma III (D III) dan Rp. 2.000.000,-/orang untuk jenjang Strata 1 (S1).

“Sementara untuk bantuan biaya masuk kuliah bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Yang mana ini kategori baru, tahun sebelumnya memang belum ada, kita mulai di 2020 ini. Itu kita berikan dengan besaran biaya Rp 5 juta/orang untuk biaya masuk kuliah. Kemudian jika nanti nilai (IPK) dari yang bersangkutan stabil, maka untuk biaya kuliahnya kita bantu lagi sebesar Rp 2,5 juta/semester,” urai Walikota Deri Asta.

Dilanjutkan Walikota, untuk reward (penghargaan) untuk mahasiswa berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,1 itu diberikan Rp1 juta/semester.

“Ini adalah bentuk pembangunan non fisik. Memang tidak langsung terlihat nyata hasilnya. Manfaat pembangunan non fisik seperti pada peningkatan kualitas pendidikan generasi penerus kita ini baru bisa terasa sekian tahun ke depan. Meski perlahan, pasti akan ada manfaatnya,” pungkas Walikota Deri Asta.

Salah satu mahasiswa penerima bantuan biaya masuk kuliah dari kategori masyarakat kurang mampu, Fitria Adillah mengatakan bahwa dengan bantuan tersebut sangat berperan besar dalam meringankan dirinya membayar uang masuk kuliah serta sejumlah kebutuhan kuliah lainnya.

“Terimakasih pak Walikota dan Pemko Sawahlunto. Di masa pandemi ini, memang terasa sekali berat bagi orang tua dalam membiayai saya masuk kuliah. Alhamdulillah, dengan adanya bantuan ini kami menjadi diringankan beban dalam hal pembiayaan,” ujar Fitria, yang lulus diterima di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumbar. humas/wahyu/delvia