Sapi Pesisir, Plasma Nutfah dari Pesisir Selatan

Oleh: Windri Riansyah

410

Sumatra Barat terkenal dengan berbagai macam plasma nutfah, baik itu unggas maupun ruminansia. Khususnya, di Pesisir Selatan ada sapi pesisir sebagai sapi potong yang menjadi plasma nutfah tempat tersebut. Sapi pesisir ini memiliki kelebihan adaptif terhadap lingkungan yang ekstrim. Selain itu, sapi pesisir juga mampu mengonversi pakan berkualitas rendah menjadi daging.

Sapi pesisir berkembang di kawasan pesisir Sumatra Barat. Sapi pesisir ialah sebagai sisa sapi asli yang pada mulanya berkembang di Kabupaten Pesisir Selatan (Saladin dalam Yanovi, 1983). Populasi terbanyak berada di Kecamatan Ranah Pesisir yaitu 17.816 ekor (Dipertahorbunnak Kabupaten Pesisir Selatan dalam Yanovi, 2012). Sapi pesisir diperkirakan memiliki populasi 20% dari total sapi daging di Sumatra Barat yang berjumlah 425.338 ekor pada tahun 1999. Pada tahun 2001 populasi sapi Pesisir Selatan berjumlah 96.443 ekor (BPS Sumbar, 2001).

Karakteristik sapi pesisir tergolong unik, yaitu tubuh dominan merah bata dengan variasi warna kekuningan, kecokelatan dan kehitaman. Selain itu, bobot badan kecil, tubuh pendek, kaki ramping, punuk kecil, dan jinak. Meskipun berpenampilan kecil dan bobot badan lebih kecil dari sapi bali, sapi pesisir sangat produktif, di mana sangat adaptif terhadap lingkungan di Pesisir Selatan. Masyarakat Sumatra Barat menyebutnya sebagai _jawi ratuih_ atau _bantiang ratuih_ yang berarti sapi yang jumlahnya banyak dan kecil-kecil (Bamualim et al. 2006)

Sapi pesisir jantan dewasa (umur 4 ( 6 tahun) memiliki bobot badan 160 kg, lebih rendah dari bobot badan sapi bali (310 kg), bobot badan sapi PO (388 kg), bobot badan sapi aceh (302 kg), dan sapi madura (248kg). Bentuk badan yang kecil, sapi pesisir berpotensi dijadikan sebagai hewan kesayangan atau peliharaan bagi penggemar sapi mini. Penampilan bobot badan merupakan salah satu ciri suatu bangsa sapi (breed). Dengan demikian, sapi pesisir mampu menjadi sumber daya genetik (plasma nutfah) nasional yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Sapi pesisir memiliki daya tarik tersendiri dalam pemeliharaanya, di mana tidak perlu tenaga yang ekstra. Sistem pemeliharaan yang digunakan oleh peternak setempat adalah ekstensif tradisional di mana pada siang hari dilepas begitu saja dan pada malam hari diikat di kandang. Biasanya peternak memberikan rumput saat di kandang. Perlakuan ini baik dilakukan karena rentang waktu dari sore hari ke pagi hari lebih lama dan pada saat itu sapi tidak melakukan aktivitas ataupun pergerakan sehingga pakan yang diberikan dapat optimal dikonversi untuk produksi daging.

Peranan sapi tidak terlepas dari penyumbang kebutuhan daging nasional di Indonesia. Selain itu, sapi juga berperan sebagai sumber pendapatan, tabungan hidup (bio investasi), aset kultural dan religious, sumber gas bio dan pupuk kandang. Kebutuhan sapi di Pesisir Selatan saat hari Raya Idul Adha memiliki potensi sendiri bagi orang pesisir dalam berinvestasi. Biasanya, dalam penggemukan daging itu digunakan sapi pejantan dikarenakan sapi betina berfungsi untuk proses produksi anakan. Sapi jantan dalam pertumbuhannya bisa berfokus pada penggemukan. Dalam proses penggemukan sapi pejantan dianjurkan dilakukan kebiri atau kastrasi. Kastrasi adalah proses tindakan bedah atau penggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan. Alasan kenapa pejantan dihilangkan fungsi testisnya yakni menghilangkan sifat bringasnya dalam proses kawin, sehingga energi disimpan dan dapat terfokus dalam penggemukan daging. Selain itu, fungsi kastrasi juga dapat memperbaiki kualitas daging ( _marbling_ ).

Populasi sapi betina di pesisir selatan semakin lama mengalami penurunan populasi, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya laju pertumbuhan populasi ternak sapi tersebut. Jika hal semacam ini dibiarkan terus menerus, dapat mengakibatkan kepunahan pada populasi sapi ini. Hal ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti diare, kembung, sakit ketuaan, kecelakaan atau kesulitan melahirkan. Saladin mengemukakan tingkat kematian sapi berkisar 2 % untuk yang dewasa dan 6 % untuk anak, sedangkan sapi pesisir menurut Sarbaini tingkat kematian dalam populasi sapi pesisir sebesar 1,98 %. Rendahnya tingkat kematian dalam populasi sapi pesisir ini dimungkinkan oleh tingginya daya tahan ternak terhadap beberapa jenis penyakit menular. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan sapi pesisir dalam beradaptasi terhadap lingkungan tidak dapat diragukan lagi.

Populasi sapi pesisir tercatat 89.995 ekor pada tahun 2008. Data tersebut jauh merosot ketimbang tahun 2004 yang mencapai 104.109 ekor. Kemerosotan populasi ini berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang dilakukan bersifat ekstensif tradisional, tingginya tingkat pemotongan ternak produktif, minimnya pakan, kurangnya lahan padang penggembalaan, serta penurunan mutu genetik. Untuk meningkatkan produktivitas dan reproduksi sapi pesisir perlu dilakukan perbaikan kualitas genetik ternak melalui seleksi, persilangan dengan bangsa sapi unggul, perbaikan nilai mutu pakan, penyuluhan kepada peternak awam agar tidak memotong ternak produktif, dan perbaikan manajemen pemeliharaan (Adrial, 2009).

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang.