COVID-19 Tak Kunjung Usai, Mahasiswa UNIVERSITAS PERINTIS (UPERTIS) PADANG Berinovasi Ciptakan Sabun POLASH Dari Limbah Kulit Singkong 

410

Oleh. Fikry Alamsyah

MUNGKIN semua orang sudah tahu dengan pandemi satu ini, yakni pandemi Covid-19. Pandemi yang hadir dari awal Maret tahun 2019 di kota Wuhan, China. Hingga sekarang pandemi ini masih belum bisa dikendalikan hampir diseluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia.  Segala upaya telah dilakukan  oleh pemerintah  baik itu tindakan preventif, kuratif hingga tindakan promotif sudah dilakukan tetapi hasil nya belum memuaskan, terbukti kasus  terkonfirmasi baru di Indonesia masih terbilang  tinggi. 

Data terkini angka Covid di Indonesia terkonfirmasi kasus aktif tercatat 290.764 kasus dengan persentase 7,3 % dan kasus meninggal dunia 127.214 kasus bertambah 842 kasus dengan persentase 3,2%. Untuk data terkonfirmasi di Sumbar sendiri, kasus aktif masih berada di angka 7.034 kasus (8,34%) dan kasus meninggal 1.905 kasus (2.26%) (23/8). Oleh sebab itu, walaupun angka terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia maupun Sumbar sudah relatif  mengalami penurunan dan akumulasi pasien atau kasus sembuh sudah mulai meningkat tetapi yang perlu di khawatirkan adalah masih ada angka pasien terkonfirmasi yang meninggal, Sehingga kita masih belum benar-benar dalam kondisi yang aman dari penyebaran corona virus-19. 

Pemerintah dari tingkat pusat dan daerah sampai pemerintahan tingkat terendah desa/nagari, sudah melakukan upaya yang maksimal untuk upaya penanganan dan pengendalian Covid-19, di Sumatera Barat upaya yang dilakukan seperti pendirian posko covid-19 ditingkat nagari dengan dibantu para relawan selalu menggaungkan  standar penanggulangan covid-19 mengacu kepada rekomendasi WHO dan Kemenkes untuk mencegah pandemi ini yang pada awal nya kegiatan edikatif promotif ke masyarakat masih dalam bentuk tag line 3M, sekarang sudah di upgrade ke 5M yakni Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, Mengurangi mobilitas. Mencuci tangan merupakan salah satu cara yang pertama di rekomendasikan karena dengan mencuci tangan dapat membunuh bakteri yang ada di telapak tangan dengan cara yang mudah.

Dikarenakan hal tersebut, 4 mahasiswa UPERTIS (Universitas Perintis Indonesia) dari Fakultas Farmasi yakni Nurul Syafira Shaviz, Fikry Alamsyah, Rara Novita Defitri, Ulfa Anggraini yang didampingi oleh dosen pembimbing Dr.apt.Ifmaily,S.Si,M.Kes berinovasi dengan membuat sabun cuci tangan yang berbahan baku berasal dari limbah kulit singkong dan dikombinasikan dengan daun sirih hijau. Yang diberi nama “POLASH” (polimer handwash)  diformulasikan dengan menggunakan bahan limbah kulit singkong.

Sebagai mana diketahui banyak makanan khas dan oleh-oleh dari Sumatera Barat yang berbahan baku dari singkong seperti karupuak sanjai, karak kaliang, kerupuk ubi dan panganan lain berbahan  singkong, bagian dari umbi singkong yang digunakan sebagai bahan baku makanan tersebut  adalah daging dari umbi singkong, sedangkan kulit umbi akan terbuang menjadi limbah, hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sisanya akan terbuang percuma.


 
 Dengan adanya potensi bahan baku limbah kulit singkong yang melimpah tersebut empat mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Perintis (Upertis)  Padang Nurul Syafira Shaviz sebagai ketua tim POLASH, dan Fikry Alamsyah, Rara Novita Defitri, Ulfa Anggraini sebagai anggota tim didampingi oleh dosen pembimbing Dr.apt.Ifmaily,S.Si,M.Kes, melakukan riset  dan menemukan hasil bahwa limbah dari kulit singkong dapat diolah menjadi biolopolimer karena kaya akan kandungan amilosa sebagai pembentuk gel, lalu kami mengkombinasikan dengan daun sirih hijau yang sudah terbukti secara klinis memiliki daya antibakteri karena kandungan kavikol yang merupakan turunan fenol yang cukup tinggi di daun sirih hijau.

Singkong dan sirih hijau mudah tumbuh dan mudah didapatkan dihampir seluruh wilayah Sumatera Barat, salah satu daerah di Sumbar sebagai penghasil singkong terbesar adalah daerah kabupaten 50 Kota dan sekitarnya. Tercatat dari data BPS singkong memiliki akumulasi total produksi 184.369 ton pada tahun 2018. Dengan tingginya produksi dan pesanan singkong untuk pemenuhan sentra  industri makanan seringkali menimbulkan permasalah besar bagi lingkungan yaitu hasil limbah organik dari kulit singkong yang dapat menimbulkan sampah organik. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa jenis sampah yang paling banyak dihasilkan tahun 2019 yaitu sampah organik dengan persentase 60%, lebih banyak dari sampah plastik dengan persentase hanya 15% dengan total sampah 67 ton, sebagain besar potensi dari limbah organic tersebut belum dapat dimanfaatkan termasuk limbah kulit singkong.
 
Untuk daun sirih sendiri sudah terbukti dari zaman dahulu dan telah digunakan masyarakat sebagai pengobatan tradisional disamping sebagai bahan obat tradisional daun sirih hijau merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prosesi adat siriah dalam carano , daun sirih hijau juga digunakan sebagai bahan pencapur masakan  dadiah ( dadiah adalah fermentasi susu kerbau yang dibekukan) dan daun sirih juga digunakan sebagai bahan  mengunyah sirih dalam acara-acara adat atau hajatan. Dengan kandungan fenol dan flavonoid yang tinggi telah teruji dapat bersifat bakterisida kuat pada bakteri dan dapat membunuh virus dan juga jamur.

Dengan memanfaatkan kandungan amilosa sebagai pembentuk gel pada limbah kulit singkong, serta kandungan anti bakteri pada daun sirih maka terciptalah sabun POLASH,  sabun ini diolah dan berbahan dasar limbah kulit singkong dan mengedepankan eco friendly product dan mengedepannya prinsip zero waste, sehingga produk ini dapat digunakan sebagai sabun pencuci tangan (handwash) untuk menghalangi penyebaran dan  pencegahan Covid-19, dengan cara selalu mencuci tangan, mencuci tangan dengan sabun lebih dianjurkan dari pada menggunakan handsanitaizer, karena handsanitaizer kebanyakan berbahan baku alcohol, yang sebagian kulit tangan yang sensitive pengunaan handsanitaizer tidak dianjurkan karena dapat berakibat iritasi pada kulit.

Sabun POLASH diciptakan sebagai salah satu upaya penghambat penyebaran virus covid-19 melalui langkah selalu mencuci tangan, juga sebagai upaya menjaga dan  mencintai lingkungan tanpa sampah. Produk ini di produksi dalam bentuk refil atau isi ulang apabila pelanggan telah menghabiskan sabun sehingga pelanggan dapat datang ke toko untuk melakukan isi ulang, untuk sistem ini dinamai dengan program penjualan disposible (sekali pakai) untuk mengurangi penggunaan limbah plastik di lingkungan. Dan keunggulan lainnya dari produk adalah mengandung daya antibakteri dan telah lulus uji daya hambat yang telah dilakukan di laboratorium uji mikrobiologi dinkes Sumbar dengan hasil sensitifitas terhadap bakteri Staphyloccocus aureus dan Escherechia coli dan setelah dilakukan uji skrining terhadap infusa daun sirih hijau mengandung antioksidan sehingga produk yang dihasilkan juga mengandung antioksidan yang baik untuk kulit.

Diharapkan dengan adanya tulisan ini, penulis berharap dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat terhindar dari Covid-19 dengan selalu melaksanakan kegiatan 5M, terutama sering mencuci tangan sebagai langkah untuk menghambat transmisi virus penyebab pandemi Covid-19 antar manusia dan semoga Indonesia terutama provinsi Sumatera Barat sebagai tempat tinggal dapat bebas dari Covid-19.

(penulis adalah mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Perintis (Upertis) Padang, anggota tim peneliti dan pencipta/pembuat POLASH)