Selama Pandemi; Warga Sijunjung Terpapar Positif Covid-19 Tembus Angka 1.957 Kasus, Meninggal 50 Orang dan Sembuh 1.636 Orang

421

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Parah..! Selama kasus pandemi, warga Sijunjung, Sumatera Barat, yang terpapar positif Covi-19 sudah tembus angka 1.957 kasus. Pada Rabu (4/8/2021) ini juga ada penambahan empat kasus baru dan penambahan sembuh 13 orang. Total meninggal capai 50 orang.

Dengan adanya penambahan sembuh tersebut, maka total warga sembuh akibat kasus Covid-19 mencapai 1.636 orang yang tersebar di Kabupaten Sijunjung.

Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Kominfo Sijunjung, Sumatera Barat, selaku Juru Bicara Penanggulangan Penanganan Covid-19, Rizal Effendi, Jurnalsumbar.Com via whatsappnya, Rabu (4/8/2021) siang.

“Yang masih terkonfirmasi masih ada sebanyak 271 orang, terdiri dari 126 laki-laki dan 145 perempuan. Mereka ada yang jalani Isoma dirumah dan ada yang dikarantina di RSUD Sijunjung ,“sebut Rizal.

Selain itu kata Rizal, 162 orang tertular akibat kontak erat dan suspek ada sebanyak 25 orang terdiri 18 orang jalani Isoma dan tujuh orang dikarantina di RSUD Sijunjung.

“Total warga meninggal selama pandemi sebanyak 50 orang,”tambah Rizal.

“Nah, sesuai himbuan Bupati Sijunjung, diharapkan kita selalu patuhi Protokol Kesehatan (Prokes) dan Ingat 3 M (Memakai Masker, Mencuci Tanggan dan Menjaga Jarak -red),”imbuh Rizal.

Rizal Eefendi Kadis Kominfo Sijunjung

“Semoga warga yang masih dalam perawatan diharapkan segera sembuh dan diharapkan tak ada lagi warga terpapar Covid-19,”ucap Rizal penuh harap.

Namun yang sangat disesali, perhatian terhadap pasien positif Covid-19 dirumah tak ada sama sekali dari pemerintah. Selama mereka jalani isolasi, apa ada bantuan obat-obatanya maupun jatah hidupnya. Malah para pemegang kepentingan tak bisa bersuara.

Contoh halnya Kepala Dinas Kesehatan Sijunjung, Ezwandra yang ditanya soal itu tak bisa jawab. “Tanya saja ke Dinsos (Kadis Yofritas-red), katanya. Di hari yang sama (Selasa,3/8/2021), Kadis Sosial Sijunjung, Yofritas pun tak banyak bersuara.

“Dulu memang pernah ada bantuan untuk pasien Isoma dirumah, namun sejak Maret 2021 tak ada lagi,”katanya mengaku tak bisa berbuat apa-apa.

Ironisnya, ketika pasien positif lakukan Isoma dirumah dan tak boleh keluar rumah. Namun sejumlah bantuan sosial dibagikan ke warga yang bukan pasien Covid. Nah, dimana rasa kemanusian dan keadilan dari Pancasila Itu. Masih adakah hati Nurani..?

Menariknya lagi, ketika salah seorang pasien menanyakan pada walinagari Lubuktarok, Zuriatman, dari 30 anggaran dana desa diantaranya 8 persen untuk penanganan Covid-19 termasuk pembelian hand sanitizer, masker dan lainnya. Sisanya untuk pasien yang jalani Isolasi versi wali atau yang dapat bantuan BLT yang lainnya (pasien positif Isoma dirumah) tak dapat. Lantas apakah pasien yang jalani isoma dirumah tak berhak?

“Mereka juga sama dengan yang lain dan jalani perawatan dirumah seadanya. antahlah tak tau bagaimana, carutmarutnya penanganan Covid yang tak berkeadilan,”keluh salah seorang pasien yang jalani Isoma dirumah.ius