Sijunjung Hasilkan Padi Organik, Simak Laporannya

HLP

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Kelompoktani (Keltan) Sopan Botuong, Nagari Muaro Bodi melakukan panen padi organik di hamparan sawahnya pada Senin (10/7/2023).

Panen itu dihadiri oleh Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Propinsi Sumatera Barat, Satuan Tugas (Satgas) Organik, Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung, Dinas Pangan dan Perikanan, Camat IV Nagari, Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan IV Nagari, Wali Nagari Muaro Bodi, Badan Permusyawaratan Nagari serta perwakilan Keltan di Muaro Bodi.

Dengan mengunakan varietas lokal, sebanyak 15 orang petani pada lahan seluas 10 hektar dibimbing langsung oleh petugas selama musim tanam kali ini guna menghasilkan padi organik.

idul adha

Ketua Satgas Organik Sumbar Ir. Yusman, MP dalam arahannya mengharapkan kelompok terus menerapkan pertanian organik dan menyebarluaskan ilmu yang diperoleh agar semakin banyak petani yang menghasilkan padi organik.

“Pembelajaran tidak pernah habisnya, meskipun sekolah telah berakhir tetaplah membudidayakan padi organik, karena proses menuju beras organik masih panjang,” tutur Yusman.

Budidaya padi organik adalah teknik budidaya padi yang mengacu standar organik yang telah ditetapkan dan disahkan oleh sebuah badan independen.

Syarat utamanya adalah tidak menggunakan pestisida dan pupuk dari bahan kimia sintetis, pemeliharaan kesuburan tanah melalui proses alami bahan organik di lingkungan sekitar, serta penggunaan benih dari pengelolaan benih organik.

Tujuan utama budidaya padi organik adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui upaya perbaikan struktur tanah dan pemulihan lahan dengan menggunakan pupuk organik.

Epi

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung Hendra, SP, M.Si dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas bimbingan Satgas Organik memberikan pembelajaran dan percontohan dalam menghasilkan padi organik selama satu musim tanam.

“Kalau hanya produksi selama semusim belum diakui oleh LSO sebagai padi organik, maka usaha ini harus berlanjut,” demikian disampaikan Hendra.

Selama musim tanam, anggota Keltan Sopan Botuong memperoleh pengetahun perihal pemanfaatan potensi lokal untuk menunjang produksi padi organik.

Dimulai dari menghentikan pemakaian pupuk kimia maupun pestisida, jerami tidak dibakar namun dijadikan mulsa, pembuatan pupuk organik, nutrisi keong, biosaka, pengendalian hama/penyakit secara alami, aplikasi eco enzym, ramuan nabati, trichoderma dan Palnt Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Manajer LSO Sumbar Wina Rizki Hartati, SP, MP ketika menyampaikan sambutan mengatakan, “LSO hanya terdapat 12 di Indonesia dan LSO Sumbar adalah satu-satunya LSO yang dimiliki oleh pemerintah di Pulau Sumatera,”.

“Bapak dan ibu adalah para pejuang yang telah berbuat kebaikan demi generasi mendatang melalui pertanian organik, maka teruslah berbudidaya organik,” tutup Wina dalam sambutan.

Sebagai perbandingan, beras organik dalam kemasan 2 kilogram dijual Rp. 65.000,- di pasar ritel modern, sedangkan beras kualitas premium dan mengandung bahan kimia, harganya saat ini adalah Rp. 16.000,- sekilo.

Dibutuhkan dukungan stakeholder terkait agar padi organik tersebut segera menjadi beras organik.

“Impian kita yaitu, beras organik dari Sijunjung juga hadir di pasaran, lebih bagus lagi jika ekspor ke luar negeri,” ujar Koordinator BPP Kecamatan IV Nagari Adpi Gunawan.ag

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.