MAHAKARYA RANDAI 4 “BUJANG SAMBILAN” SUKSES MENGHIDUPKAN LEGENDA DANAU MANINJAU DI TIM

Pertunjukan epik kolaborasi anak muda Minangkabau di Jakarta dihadiri Gubernur Sumbar, Pemprov DKI, dan Kepala BPSDM Kemendagri

JURNAL SUMBAR| Jakarta – Panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jakarta malam itu dipenuhi tepuk tangan, gelak tawa, dan air mata. Setiap adegan yang penuh dinamika berhasil memantik emosi penonton.

Mahakarya Randai 4 bertajuk “Bujang Sambilan: Legenda Danau Maninjau” sukses digelar selama 2,5 jam, seolah membawa aura Danau Maninjau ke jantung ibu kota.

Sutradara Jose Rizal Manua & Joharsen meramu kisah klasik Minangkabau dengan koreografi randai, silat, tari, dendang, dan musik talempong menjadi satu narasi cerita yang memukau. Anindita Saraswati sebagai Puti Rasani, Ridwan Kainan sebagai Giran, dan Rio Chan sebagai Palimo Bayua berhasil menghidupkan legenda yang diwariskan turun-temurun masyarakat Agam.

Yang membuat malam itu istimewa: hadir langsung Syaiful Bahri, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang mewakili Gubernur Sumbar; perwakilan Gubernur DKI Jakarta; serta Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri RI. Kehadiran tiga pejabat ini jadi bukti bahwa randai bukan hanya dinikmati pecinta seni tradisi, tapi juga mendapat ruang di hati para pemangku kebijakan. Randai bukan sekadar seni daerah, tapi aset budaya nasional yang layak dijaga.

Pertunjukan yang merupakan kolaborasi Sumbar Talenta Indonesia, Gerakan Mudo Minangkabau, Sanggar Sofyani, dan didukung Kementerian Kebudayaan RI ini memadukan tradisi dengan narasi modern. Penonton dari komunitas Minang di Jakarta hingga penikmat seni umum kompak berkomentar: “Merinding pas adegan galodo-nya. Apalagi lagu Minangkabau yang dinyanyikan Andha Zulfirman di awal pertunjukan, sampai memancing penonton ikut bernyanyi bareng.”

Menurut Syaiful Bahri yang juga mantan penari, bagian paling berkesan adalah Tari Manggaro Sofyani. “Tari ini punya nilai estetika tertinggi dari semua karya Sofyani. Baik gerak, musik, maupun temanya, menyatu dengan mahakarya sehingga pesannya sampai,” ujarnya.

Syaiful Bahri menambahkan, “Mahakarya Randai 4 menjawab keresahan budaya: di tengah gempuran konten AI, randai membuktikan seni tradisi yang dilakoni manusia utuh masih punya ‘api’ yang tak bisa digantikan algoritma. Jose Rizal Manua dan Joharsen berhasil memadukan tradisi dengan teater modern untuk diwariskan ke generasi berikutnya.”

Turut hadir Armaidi Tanjung, Sekretaris Satu Pena; Lusie Sofyan, Ketua Rang Kayo Minang; dan Mira Gusniwarti, Ketua Bundo Kanduang Tanah Datar. Mereka bangga melihat anak muda Minangkabau di rantau yang masih mau meluangkan waktu berlatih.

Sastri Bakry, Founder Sumbar Talenta Indonesia, penggagas Mahakarya 1 Randai bersama Agus Siswanto, Ketua Gemumi, dan Kurniawati, mantan Ketua Gemumi, juga merasa bangga melihat kekompakan penari, penyanyi, pemusik, dan pendendang yang terus eksis hingga Mahakarya 4.

Pertunjukan ini juga dihadiri istri dan keluarga besar Yus Dt. Perpatih Sabatang, almarhum sang petutur kisah Bujang Sambilan yang penuh fitnah, kekuasaan dan cinta serta tak dihargainya mamak dalam keluarga. Di saat terakhir , pertunjukan menjadi emosional saat diputar video pesan Datuk Yus, sebelum meninggal agar tetap merawat budaya Minangkabau.

Untuk info pertunjukan selanjutnya, ikuti @mahakarya_randai di Instagram & TikTok.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.