oleh. Sastri Bakry
(Founder Sumbar Talenta Indonesia)
Saya menatap panggung itu dengan dada sesak oleh bangga. Sorotan lampu, lagu Minang dan latar panggung membuat saya hampir menangis. Teater besar berkapasitas 1200 dengan megah penuh sesak, sejak kedatangan tamu yang disambut gandang tasa hingga di dalam panggung.
Di tengah deru zaman yang serba cepat, mereka, anak-anak muda Minang di Rantau, memilih berhenti sejenak, dari hiruk pikuk perjuangan mempertahankan hidup. Mereka latihan, lalu menari, bersilat, berdendang dan memainkan drama .
Bukan tarian hampa, tapi tarian darah leluhur. Bukan silat biasa, tapi silat penuh makna dengan tapuak khas randai. Bukan cerita drama biasa tapi cerita legenda Bujang Sambilan.
Mereka mengangkat Randai, mahakarya Minangkabau yang dulu hanya hidup di surau dan lapau, kini bersinar lagi di atas panggung besar di Taman Ismail Marzuki.
Randai adalah seni tradisi Minang paling komplit.
Lihatlah segala unsur seni ada disitu. Langkah silat mereka bukan sekadar gerak. Itu janji, bahwa keberanian tak akan punah. Nyanyian mereka bukan sekadar suara. Itu doa, bahwa kisah Cindua Mato, Malin Deman, dan sekarang Bujang Sambilan.
Legenda nenek moyang tak akan hilang ditelan lupa.
Mereka merawat tradisi bukan dengan museum yang berdebu, tapi dengan keringat, dengan latihan sampai kaki kapalan, dengan hati yang mau belajar dari Jose Rizal Manua , sutradara yang rambutnya sudah memutih tapi semangat tetap seperti anak muda. dan Jo Harsen Ssn , anak muda yang selalu bergandengan tangan merawat tradisi Minang. Andha Zulfirman , Ketua yayasan Sumbar Talenta Indonesia dan Agus Siswato, ketua Gemumi, dan Kurnia Wati, Mereka membuktikan: modern tidak harus berarti melupakan.
Saya bangga sekaligus malu, karena di awal dulu betapa kerasnya saya pada mereka. Mahakarya pertama mengangkat cerita Syekh Burhanuddin . Kami tak mendapatkan sponsor, kami menjual undangan. Mungkin undangan termahal untuk sebuah seni tradisi. Harganya 5 juta, 2.5 juta dan 1 juta. Tentu saja yang harga 100 ribu tetap ada .
Banyak yang mencemeeh. Pertunjukan seni tradisi itu dikasih tiket pun belum tentu mau nonton, apalagi beli dengan harga mahal. He he
Tetapi saya bangga ternyata Gedung Pusat Perfileman Usmar Ismail itu penuh. MHK kedua berjudul Malin Kundang saya masih ikut mengatur. Bahkan sempat saya bawa ke Belannda tampil di TongTong Fair atas dukungan Arnaud Kokosky Deforchaux . Yang ketiga tentang Siti Manggopoh dan ke empat tentang Bujang Sambilan . Sekarang mereka sudah sangat mandiri. Bahkan banyak sponsor mendukung mereka.
Alhamdulillah. di tangan mereka tradisi tidak jadi barang antik. Tradisi jadi napas. Jadi identitas yang gagah. Jadi jawaban ketika dunia bertanya: “Siapa kamu?”
Randai ini buktinya. Selama masih ada anak muda Minang yang mau berbaju kurung, basuntiang, badendang, mengikat destar, menabuh gendang, dan bersilat di bawah sorotan lampu, maka Minangkabau tidak akan pernah mati. Ia akan terus hidup, terus bercerita, dari generasi ke generasi.
Terima kasih, anak muda !Minang di Rantau. Gemumi, Sumbar Talenta , Sofyani, sebuah kolaborasi yang apik dan indah. Kalian bukan hanya pewaris. Kalian penjaga api. Diakui atau tidak, itulah faktanya.
Teruslah berjuang di jalan kebudayaan. Tepiskan hinaan dan remehan. Percayalah, orang tak akan besar dengan mengecilkan orang lain.
Saatnya bundo di belakang layar dan mendoakan kalian selalu semakin bersinar hingga ke langit. Aamiin. penulis adalah, (Founder Sumbar Talenta Indonesia)
*
