SMKN 1 Sijunjung Gelar Workshop Penulisan Buku Guru dan Siswa

40 Guru dan Siswa SMKN 1 Sijunjung Ikuti Workshop Penulisan Buku

JURNAL SUMBAR | Sijunjung –
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sijunjung sudah melangkah lebih maju dengan melakukan Workshop Penulisan Buku Guru dan Siswa.

Workshop ini patut diapresiasi karena mampu mendorong guru dan siswa menulis. Karena pekerjaan menulis salah satu aktifitas yang dapat melahirkan improvisasi yang luar biasa.
Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (Kabid PSMK) Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Suryanto, S.Pd., M.Pd, Rabu (4/11/2026) saat menghadiri Workshop Penulisan Buku Guru dan Siswa SMKN 1 Sijunjung di ruang serbaguna sekolah tersebut. Workshop yang dibuka Kepala SMKN 1 Sijunjung Addurorul Muntatsiroh, M. Pd, menghadirkan narasumber Pimpinan Pustaka Artaz Armaidi Tanjung yang juga Sekretaris SatuPena Provinsi Sumatera Barat.

Menurut Suryanto, aktifitas menulis sangat banyak manfaatnya bagi guru dan siswa. “Tidak semua orang bisa membuat tulisan yang baik dan enak dibaca orang lain. Orang lebih banyak suka bicara, tapi kurang pandai menulis dengan baik,” kata Suryanto.

Dikatakan Suryanto, tokoh-tokoh dari Sumatera Barat pendiri bangsa Indonesia banyak sekolah. Mereka adalah penulis dan pencinta buku luar biasa. Salah satu contoh adalah Bung Hatta yang membawa paling banyak buku ke Digoel Papua saat dibuang Pemerintahan Belanda sebelum Indonesia merdeka.

“Buya Hamka, meski dipenjara di era pemerintahan Soekarno, tapi justru beliau berhasil menulis buku tafsir Al-Azhar di dalam penjara tersebut. Artinya, meski pisiknya dipenjara, tapi pikiran Hamka bebas menulis. Tafsir Al Azhar sampai hari ini masih dibaca banyak orang,” tutur Suryanto menambahkan.

Kepala SMKN 1 Sijunjung Addurorul Muntatsiroh, saat pembukaan menyampaikan, Workshop Penulisan Buku Guru dan Siswa SMKN 1 Sijunjung berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (4-5/11/2026). Diikuti 40 peserta, 15 guru dan 25 siswa/siswi. Workshop bertemakan, menulis memoar perjuangan ayah dan ibu, kisah mereka, cerita kita.

“Dibalik setiap Langkah kita, ada kisah orang tua yang tak pernah selesai diceritakan. Kini, giliran kita yang memuliakannya,” ujar Addurorul Muntatsiroh, yang akrab disapa Mumun ini.
Menurut Addurorul Muntatsiroh, dari workshop penulisan ini kita targetkan menghasilkan sebuah buku. Peserta diminta menuliskan pengalamannya yang berkesan dari sosok ayah dan ibunya. Ini kesempatan bagi guru dan siswa untuk mulai menuliskan pengalaman, ide, pikiran dan gagasannya yang dapat dibaca orang lain.
Pembicara Armaidi Tanjung menyampaikan pentingnya menulis bagi seseorang. Banyak hal yang diketahui setelah membaca tulisan seseorang. Begitu pula, banyak hal yang bisa ditulis seseorang dari pengalamannya. Baik pengalaman yang menyenangkan, maupun pengalaman yang tidak menyenangkan.
“Antusias peserta ternyata mampu mendorong guru dan siswa menuliskan pengalamannya. Meski sudah bertahun-tahun mengajar di SMKN 1 Sijunjung, tapi pernah menulis karya, menuliskan pengalamannya. Alhamdulillah, sudah ada guru yang berani mulai menuliskan pengalamannya. Keberanian memulai saja sudah suatu kemajuan bagi guru-guru yang tidak pernah menulis karya,” kata Armaidi Tanjung menambahkan. (R/*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.