Go Internasional, Perantau Minang AS dan Korsel Siap Bersinergi dengan MDN-G

Sociotravel Burmalis Ilyas

2331
Resto Indonesia Siti Sarah dengan kuliner unggulan Rendang di Korea Selatan.

JURNAL SUMBAR | Los Angeles dan Seoul – Sambil menyelam, minum air. Sambil liburan, tugas organisasi juga dikerjakan. Itulah yang dilakukan Burmalis Ilyas dalam mensosialisasikan Minang Diaspora Network Global (MDN-G). Executive Director MDN-G itu bersilaturahmi dengan Irwan, Revawandi, Irsyad dan diaspora Minang lainnya di Seattle, negara dimana Pabrik pesawat terbesar dunia Boeing, Microsoft, Amazon dan asal mula kopi Starbuck muncul di dunia.

“Alhamdulillah, Bapak Indra, Revawandi dan komunitas Minang lainnya menyambut baik kehadiran MDN-G,” sebut Burmalis via ponselnya.

“Dan, komunitas perantau Minang se Amerika juga siap mensinergikan kegiatan mereka dengan MDN-G, kata Uda Revawandi yang bekerja di perusahaan farmasi terbesar di Seattle Amerika Serikat. Adapun pak Indra yang nama lengkapnya Gautama Indra Djaja  merupakan Presiden Direktur IPTN (Perusahaan Indonesia) cabang Amerika Utara dan banyak diaspora Minang lainnya yang bekerja di Boeing, Microsoft, Amazon dan sebagainya,” sebut Burmalis.

Meski belum menemukan Restoran Minang, lanjut Burmalis Ilyas, alhamdulillah sempat juga mencicip Rendang buatan uni Suci Rahmadani (diaspora Minang) di rumahnya, dan juga bersilaturrahmi dengan Diaspora Indonesia lainnya yaitu Toni Suharto yang bekerja di posisi strategis perusahaan Boeing AS.

Sebelum ke Seattle, Burmalis juga berhasil berkomunikasi dengan Uni Lina Jacob diaspora Minang yang tinggal di Kota Hawai.

Sesudah silaturrahmi di Seattle, Burmalis Ilyas kemudian melanjutkan tour sosialnya, sociotravel istilah menurut burmalis yaitu jalan-jalan sambil silaturrahmi dan mencari urang awak yang tinggal di pelosok dan sudut kota-kota besar dunia, ke Los Angeles Amerika Serikat.

Di Los Angeles, Burmalis bertemu dengan Amril Ilyas yang juga berasal dari Salido Pesisir Selatan. Di LA Burmalis Ilyas diperkenalkan Amril Ilyas dengan usaha anaknya yang jual Barbeque dengan menggunakan trailer. Amril Ilyas berkeinginan, selain jual Barbeque, anaknya akan diajarkan dan didorong untuk menjual rendang nantinya.

Meski belum menemukan Restoran Minang, di Los Angeles Burmalis berhasil menikmati Rendang di Farmer Market the Grouve LA dan Hongkong Plaza West Covina Los Angeles, dimana banyak komunitas Indonesia di sana. Burnalis berharap di Los Angeles akan muncul Rumah Makan Padang suatu saat nanti.

“Ini adalah peluang dan tantangan bagi kita masyarakat Minang sedunia dalam memasarkan kuliner dan produk-produk Minang, termasuk peluang investasi kuliner di Amerika Serikat,” ujar Burmalis.

Ditegaskan Burmalis, program MDN-G mendorong perantau/pengusaha Minang go internasional sangat beralasan. “Karena, kita punya Rendang yang telah mendunia, bahkan jadi kuliner terlezat di dunia,” sebutnya.

“Kita juga punya banyak perantau Minang yang tersebar di seluruh dunia yang memiliki jiwa entrepreneurship, terutama di bidang kuliner dan perhotelan,” tambahnya.

“Saat ini, kuliner Minang dengan brand Masakan Padang sudah menjadi masakan nasional, karena di semua kota Indonesia ada masakan Padang,” tegasnya. “Rumah makan atau restoran Sederhana, Natrabu, dan Simpang Raya adalah beberapa brand masakan Padang yang terkenal,” jelasnya.

Burmalis juga menjelaskan, saat ini juga sudah ada beberapa resto Minang di kota-kota besar dunia, seperti Salero Minang Uni Erita di Den Haag Belanda, Resto Minang Uni Yanti di Qatar, Pondok Buyung, Warung Ita, Indonesia Sumatera Cafe di Australia dan lainnya sebagai perintis resto Minang di luar negeri. “Ini adalah bukti bahwa resto Minang bisa eksis di kota-kota besar dunia,” tegasnya.

“Di bidang perhotelan, juga banyak orang Minang yang sukses dan memiliki beberapa jaringan hotel besar, salah satunya Hotel Sofyan,” ujar Burmalis lagi.

Sebelum kembali ke Jakarta Burmalis menyempatkan mampir ke Seoul Korea Selatan dan menyempatkan diri bertemu dengan diaspora minang Korea Selatan yaitu Anisfu Zahri Husin General Manager BNI dan Sony Syahlan General Manager Garuda Indonesia. Dalam diskusi muncul ide agar suatu saat orang Minang punya usaha hotel dan restoran di Seoul mengingat banyak sekali turis Indonesia yang berlibur di Korea Selatan.

Di Seoul Burmalis berhasil menemukan Restoran Indonesia yang menjual Rendang di daerah Usman Itaewon, dimana Masjid Besar Seoul terletak dan banyak komunitas muslim yang tinggal di sana. Burmalis berharap suatu saat ada Resto Minang hadir di Seoul ini.

“Dengan potensi yang ada, termasuk jaringan internasional yang terus kita bangun, sudah saatnya orang Minang semakin go internasional, di bidang kuliner,” tegas Burmalis. “Sudah saatnya juga kita menghadirkan kuliner dan hotel Minang, yang sekaligus sebagai pusat promosi dan pemasaran produk dan peluang investasi Sumbar di kota-kota besar dunia,” pungkasnya. Enye