Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Ruang Isolasi RSUP M Djamil Nyaris Penuh

3187

JURNAL SUMBAR | Padang – Ruang isolasi di RSUP M Djamil Padang Sumatera Barat yang menjadi rumah sakit rujukan pasien terindikasi virus corona Covid-19hampir penuh. Oleh sebab itu, pemerintah setempat terus mencari rumah sakit rujukan lainnya jika pasien terus bertambah.

“Ruang isolasi di RSUP M Djamil hanya 8 ruangan, kemudian karena pasien terus bertambah maka dikembangkan menjadi 17 ruangan,” kata Direktur RSUP M Djamil Padang, Yusirwan Yusuf kepada Liputan6.com, Kamis (19/3/2020).

Ia menyebut saat ini ada 11 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Corona Covid-19 yang diisolasi di RSUP M Djamil, pihaknya menempatkan satu pasien dengan pasien lainnya secara terpisah sesuai standar.


Menurutnya, rumah sakit lain harus selektif merujuk pasien ke RSUP M Djamil agar ruangan isolasi yang tersisa dapat digunakan lebih optimal. Kemudian rumah sakit juga harus mengambil tanggung jawab terhadap wabah virus corona covid-19 ini.

“Semoga dalam waktu dekat ada beberapa rumah sakit yang bisa menjadi rujukan sehingga tidak hanya tertumpu pada RSUP M Djamil,” kata dia.
Menanggapi hal itu, Pemerintah Sumbar terus berupaya mencari alternatif rumah sakit yang bisa menampung pasien yang terindikasi terjangkit corona Covid-19.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan sebelumnya RS Ahmad Muchtar Bukittinggi sudah ditunjuk sebagai RS rujukan corona oleh Kementerian Kesehatan.

“Setelah ditinjau ke sana, ternyata peralatannya tidak lengkap sehingga belum bisa dijadikan rujukan untuk sementara ini,” jelas Nasrul.

Di RS Ahmad Muchtar Bukittinggi, peralatan yang ada saat ini pernah digunakan untuk kasus flu burung sekitar 15 tahun lalu, seperti ventilator, rontgen portabel sudah rusak semua sementara alat perlindungan diri (APD) tidak mencukupi.

“Semoga dalam waktu dekat RS Ahmad Muchtar bisa menjadi tempat rujukan,” katanya.

Kemudian alternatif lain yang berpotensi untuk dijadikan rujukan adalah RS Universitas Andalas (Unand). Rumah Sakit pendidikan itu memiliki ruang terpisah di lantai dasar yang bisa dimanfaatkan bagi ruang isolasi pasien.
“Namun juga ada beberapa peralatan yang belum lengkap, ini sedang diupayakan,” jelasnya.

Direktur Utama RS Unand, Yevri Zulfiqar mengatakan pihaknya memiliki tujuh kamar khusus yang bisa menampung 21 pasien suspect corona covid-19. Tersedia juga fasilitas ICU dengan enam ventilator.

“Kekurangan yang mendesak adalah kamar mandi petugas, rontgen portabel, oksigen serta tambahan APD, kemudian perawat juga masih kurang,” katanya.

OPD Covid-19 di Sumbar Sentuh Angka 1.503 Jiwa

Jumlah Orang Dalam Pemantaun (ODP) terus bertambah di Sumatera Barat, data terbaru angkanya mencapai 1.503 jiwa. Sebelumnya, pada Rabu 18 Maret 2020 tercatat 1.486 orang.

“Iya ODP bertambah, dari 1.486 menjadi 1.503 jiwa,” kata Erman Rahman, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kepada Liputan6.com, Jumat (20/3/2020).

Ia menyebut semua ODP tersebut sudah diberi kartu kewaspadaan dan mengikuti panduan yang ada di kartu itu jika sewaktu-waktu merasakan flu, batuk, dan sesak napas.

ODP artinya seseorang yang memiliki riwayat sempat bepergian ke daerah yang telah terinfeksi virus corona atau melakukan kontak dengan orang terinfeksi virus covid-19. Namun, ia belum menunjukkan adanya gejala-gejala telah terinfeksi virus.

“Meski tidak ada gejala yang timbul, namun kami tetap memantau kesehatannya,” ujar dia.

Kemudian per tanggal 19 Maret 2020 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga meningkat dari 16 orang menjadi 17 orang, dari jumlah tersebut 6 di antaranya dinyatakan negatif Covid-19, dan 11 orang lainnya masih menunggu hasil laboratorium.

Hingga kini, pihaknya masih menunggu hasil laboratorium untuk 11 orang lagi yang masih diisolasi di RSUP M Djamil.
Erman menyebut Sumbar sudah memiliki website resmi untuk melaporkan data terbaru kepada masyarakat.

Terkait belasan PDP yang sedang diisolasi itu merupakan rujukan dari beberapa daerah di Sumbar. Namun, baik PDP maupun ODP belum bisa dinyatakan terjangkit Covid-19.
“Positif atau tidaknya tergantung hasil laboratorium,” kata dia.

Periksa Diri

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, meminta rumah sakit dan puskesmas harus siap memeriksa ODP. Tindakan ini upaya mengantisipasi penyebaran pendami virus Corona.

“Pihak medis di rumah sakit atau puskesmas tidak boleh takut, sebab tidak semua yang memeriksakan kesehatan terjangkit Covid-19,” jelas Nasrul.

Selain itu, agar tidak menumpuk rujukan ke RSUP M Djamil Padang, semua puskesmas yang ada harus siap menampung pemeriksaan ODP. Termasuk bagi masyarakat yang memiliki gejala Covid-19, seperti sesak napas, batuk, demam, pilek, atau lainnya.

“Semua rumah sakit, termasuk puskesmas yang ada, siap tidak siap harus menerima ODP,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama RSUP M Djamil Padang, Yusirwan Yusuf, mengatakan, agar semua rumah sakit di Sumbar bersedia bekerja keras untuk mengawasi ODP serta berkoordinasi dan berbagi informasi Covid-19, sebab pandemi ini tanggung jawab bersama.
Menurutnya 80% Covid-19 ini bisa disembuhkan dan ditangani penyebarannya, asalkan, ODP yang ada betul-betul diawasi dengan baik untuk tidak meluas ke yang lain.

11 Daerah di Sumbar Liburkan Sekolah


Hingga Kamis 19 Maret 2020, sudah 11 daerah dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat yang meliburkan sekolah untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19. Pemindahan media belajar dari sekolah ke rumah ini mulai tingkat TK hingga SMP.

Ke-11 daerah itu ialah Bukittinggi, Padang, Limapuluh Kota, Agam, Pasaman Barat, Kabupaten Solok, Padang Panjang, Kota Solok, Payakumbuh, Kabupaten Padang Pariaman, dan Pariaman. Surat edaran dikeluarkan bupati dan wali kota pada 18 dan 19 Maret 2020.

Rata-rata bunyi surat edaran tersebut sama, yakni siswa mulai tingkat TK hingga SMP sederajat terhitung 19 Maret 2020 hingga 2 April 2020 proses belajar dipindahkan ke rumah masing-masing secara mandiri.

Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, dalam edarannya mengatakan selama kegiatan belajar di rumah tenaga pendidik memberikan tugas sesuai dengan program pembelajaran.

Kemudian Mahyeldi melarang siswa melakukan aktivitas di luar rumah yang melibatkan keramaian agar terhindar dari penyebaran Covid-19. Pihaknya mempertegas jika siswa kedapatan keluyuran di luar rumah atau di tempat publik tanpa didampingi orangtua maka akan ditindak oleh Satpol-PP.

Hal yang sama juga diedarkan oleh 10 daerah lainnya yang sudah memindahkan proses belajar di rumah masing-masing setidaknya 14 hari ke depan.

Kemudian untuk tingkat SMA, daerah belum mengeluarkan edaran karenan wewenangnya terletak pada provinsi, hingga saat ini belum ada SMA yang diliburkan.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan diliburkan atau tidak siswa SMA diserahkan pada wali kota/bupati karena mereka yang lebih tahu kondisi daerahnya.

“Iya sementara belum libur, apalagi anak-anak sedang UNBK, namun jika kondisi terus tidak membaik maka wali kota/bupati boleh meliburkan siswa SMA,” ujarnya.

Hal itu terkecuali untuk siswa yang sedang melaksanakan UNBK, Irwan menyebut siswa yang sedang ujian silahkan diliburkan setelah UNBK selesai. sumber;liputan6.com