Syamsu Rahim: Sumbar Butuh Gubernur Kreatif dan Inovatif

JURNAL SUMBAR | Padang — Syamsu Rahim, Mantan Wali Kota Solok dan Bupati Solok tercatat sebagai tokoh yang telah mendaftar di Koalisi Poros Baru, hari ini, Jumat (7/8/2020) lalu.

Sehari sudah mendaftar, Sabtu (8/8) terlibat perbincangan politik dengan salah seorang Calon Wagub Koalisi Poros Baru, Suherman di salah satu kafe di Jakarta.

Menurut Syamsu Rahim, saat ini Sumbar membutuhkan figur pembaharu untuk cepat keluar dari ketertinggalan dari Propinsi tetangga.

“Ranah Minang ini Butuh gubernur yang kreatif dan inovatif , bekerja untuk seluruh rakyat, bukan untuk kelompoknya saja,” ujar Syamsu Rahim, yang pernah juga menjadi Ketua Partai Nasdem ini.

Dikatakanya,berdasarkan data yang diperoleh tim konselor penelitian perkembangan HIV/AIDS, ada 18 ribu LGBT di Sumbar. Hal tersebut membuat LGBT menempati posisi teratas masalah sosial di Sumbar. Selain itu, Sumbar juga sedang dalam status darurat narkoba. Kasus narkoba Sumbar berada di urutan tiga di Indonesia. Data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumbar memperlihatkan setidaknya 65 ribu warga provinsi itu telah menjadi pemakai narkoba.

“Naif memang LGBT luar biasa, narkoba meraja lela, ABS SBK hanya hiasan dalam berpidato, ekonomi rakyat stagnasi apalagi pasca pandemi,” ujar birokrat dan politisi ini.

Syamsu Rahim menilai potensi sumber daya alam (SDA) Sumbar sungguh luar biasa, mulai pertambangan, pariwisata, pertanian hingga kehutanan. Tetapi potensi besar itu belum tergarap maksimal sehingga multiplier effect kepada masyarakat juga belum nyata.

Disis lain dikatakannya membangun infrastruktur adalah membangun bangsa, bukan hanya membangun jalan saja, tetapi lebih luas dari itu. Membangun infrastruktur meliputi semua aspek, antara lain membangun jalan; jembatan; pembangkit listrik; bandara; rel kereta api; pelabuhan; jaringan telepon; perangkat dan jaringan internet; puskesmas; sekolah; sarana Pendidikan.

“Kenyataannya di Sumbar pesantren kurang tersentuh kebijakan dan pembangunan infra struktur sangat lambat. Untuk itu perlu figur pemimpin yg banyak berbuat , bukan yg pandai bicara atau pidato saja,” ujarnya (Agusmardi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.