Dilema Mahasiswa Angkatan Baru

199

Oleh. Neta Febriani

PANDEMI Covid-19 sudah mendunia pada saat ini, hal ini berpengaruh terhadap aktivitas yang biasanya dilakukan oleh masyarakat, sehingga seluruh kegiatan sedikit terhambat. Salah satunya yaitu dalam masa perkuliahan.

Surat edaran tentang proses belajar mengajar di lakukan dirumah diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 ,tentang Pelaksanaaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corornavirus Disease (Covid-19).

Sejak beredarnya surat tersebut, masa perkuliahan dilakukan secara daring, hingga saat ini.

Dengan dimulainya semester baru, bagi mahasiswa baru, hal ini tentu mengejutkan sekali. Karena, semua kegiatan dilakukan secara daring atau dalam jaringan, di mulai dari Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), sampai sistem belajar mengajar.

Dimulai nya PKKMB dihari pertama, tentu akan membingungkan. Bagi mahasiwa yang kurang mengerti dengan metode daring.

Apa lagi, dalam metode daring pun, membutuhkan kuota Internet untuk pengaksesannya. Sedangkan daring ini tidak hanya dilakukan dalam waktu seminggu atau beberapa hari saja. Tapi memakan waktu yang lama, sampai masa pandemi berakhir.

Dalam sehari kuota Internet yang digunakan kurang lebih 5 GB, harga kuota internet pun tidak murah. Hal ini, selalu menjadi keluhan para mahasiswa, apalagi bagi mahsiswa yang kehidupan ekonominya rendah, ditambah lagi, sekarang pengeluarannya cukup banyak akibat kuota internet yang digunakan. Dan bagi mahasiwa yang belum mempunyai Android, yang biasa digunakan untuk system daring, tentu hal ini akan membuat mereka menjadi kesusahan dalam menjalani daring ini. Selain itu, tidak hanya mengenai kuota internet, jaringan yang ada tidak selamanya stabil.

Bagi mahasiswa yang tinggal dipelosok atau pedesaan, yang jaringan internetnya belum bagus maka akan mengganggu atau menjadi keterhambatan untuk perkuliahan daring, salah satunya pengambilan absen, tapi jaringan seakan tak bersahabat hingga akhirnya kehadiran mahasiswa tersebut tidak ada. Bukannya hanya saat pengambilan absen saja, pengumpulan tugas juga dilakukan secara daring.

Masa perkuliahan yang dilakukan tanpa tatap muka dan tanpa adanya pengenalan kepada teman-teman baru, ataupun sekedar melihat kampus baru saja sangat sulit dilakukan. Teman yang kita dapatkan hanya melalui aplikasi Whatsaap grup saja, dan kita hanya melakukan pertemuan secara virtual. “Daring ini tidak seru” itulah pendapat sebagian mahasiswa.

Dengan kuliah dilakukan secara online, tugas yang diberikan oleh dosen terasa begitu banyak, terkadang belum selesai tugas yang ini ada lagi tugas yang baru. Dengan sistem tanpa tatap muka, daya serap mahasiwa terhadap materi itu sangat berkurang. Karena sebelumnya tidak pernah menghadapi proses belajar yang seperti ini.

Terkadang banyak mahasiswa yang juga mengeluhkan jika ia tidak dapat membagi waktu untuk membantu pekerjaan orang tuanya.

Tetapi pro nya, perkuliahan ini bagi mahasiswa yaitu kalau perkuliahannya tidak perlu menggunakan seragam perkuliahan, cukup seragam yang rapi, karena pertemuannya dilakukan secara virtual, dan di tambah perkuliahan nya dilakukan dari rumah. Tentu tidak akan memungut biaya kost yang seharusnnya dibayar oleh mahsiswa yang sebelumnya melakukan kuliah dan tinggal di tempat kost.

Diharapkan dengan dilakukannya daring ini agar pemerintah secepatnya memberikan kuota Internet agar masalah kendala kuota cepat teratasi. Dikarenakan, program kuota Internet gratis saat ini, tidak semua mahasiswa yang dapat mengaksesnya, contoh itu saya sendiri.
Harapan, tentu semua mahasiswa dapat mengakses kuota gratis yang digemba-gemborkan oleh pemerintah saat ini, agar pemberian kuota ini dapat terus berlanjut hingga berakhirnya kuliah daring. Dalam daring ini diharapkan agar seluruh server pendidikan dapat berkontribusi dengan baik, supaya seluruh proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan tidak terganggu.

Begitulah dilema kuliah online, semoga masa pandemi ini segera berakhir agar para mahasiswa baru juga dapat merasakan perkuliahan secara tatap muka. (Penulis adalah Mahasiswa Universitas Negeri Padang, Jurusan Tekhnologi Pendidikan, Semester 1).