dr.H. Edwin Suprayogi, MKes, Sp.KKLP, Merubah Kata Menjadi Karya Nyata, Simak Ulasannya

382

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Lika-liku perjuangan sosok pejabat rendah hati ini cukup menarik disimak. Bermotto, merubah kata menjadi karya nyata menjadi pegangan hidupnya dalam menjalani tugasnya sebagai abdi negara. Berikut simak ulasan tentang birokrasi yang baik hati itu.

Dia adalah dr.H. Edwin Suprayogi, MKes, Sp.KKLP. Putra ke-tiga dari enam bersaudara buah pasangan Sukirno (ayah, mantan pensiunan perawat RS Semen Padang-red) dan Misem (IRT) kelahiran Padang, 7 September 1969 lalu itu memiliki kisah panjang sebagai ASN (aparatur sipil negara).

Awal pendidikannya ditempuh di SD Semen Padang 1981. Setelah tamat, Edwin kecil masuk SMP Semen Padang dan tamat pada 1984. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan di SMAN 2 Padang tahun 1987. Selama dibangku sekolah, Edwin selalu menjadi siswa berprestasi.

“Semasa sekolah saya selalu menjadi juara, mulai dari juara 3, 2 dan satu selalu saya raih,”kenang suami dari Ariviona,SP itu dalam bincang eksklusifnya bersama Pemred Jurnalsumbar.Com, Saptarius pada Rabu (29/6/2022).

Setamat dari SMA, Edwin pun melanjutkan kebangku kuliah. Ia masuk ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) tepatnya di Universitas Andalas (Unand) Padang jurusan Fakuktas Kedokteran.

Edwin bersama keluarga

Edwin berhasil menyelesaikan study pada tahun 1995. Tak begitu lama menyandang gelar dokter, Edwin dipercaya sebagai pegawai tidak tetap (PTT) dengan jabatan Kepala Puskesmas Kamangbaru dari tahun 1995 hingga1998.

Sebelum bertugas di Puskesmas Kamangbaru, ia melihat kondisi Puskesmas diwilayah Selatan Ranah Lansek Manih itu semraut. Tak heran, saat pertamakali dikunjungi Tim Sumbar sempat ada yang kaget.

“Ini kandang kambing atau apa yaa,”ucap Tim itu kepada Edwin yang hanya tersipu melihat kondisi Puskesmas yang ditempatinya.

Selang beberapa tahun kemudian, bak cerita Lampu Aladin, Puskesmas Kamangbaru yang dipimpin itu berubah 180 derajat. Terbukti, ketika penilaian dokter teladan, Edwin dinobatkan sebagai dokter teladan tingkat Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1998.

Kedekatan Edwin dengan warga setempat dan warga transmigrasi memajukan ekonomi dalam usaha ternak kambing ternyata salahsatu poin penilaian dalam lomba dokter teladan itu.

“Alhamdulillah saya menjadi dokter teladan,”kata papa dari Fahri Luvian Edwin,S.Sn, Fadil Aditya Edwin,SP dan papa dari Viesha Aqila Edwin (Siswi kelas 3 MAN IC Pariaman-red) itu berkisah. Saat pindah ke Puskemas Sungai Lansek ternaknya pun diberikan pada warga Kamangbaru kala itu.

Saat Bupati Yuswir Arifin meraih penghargaan dibidang kesehatan

Ternyata pada tahun 1999, goddess of fortune berpihak kepada Edwin. Ia diangkat sebagai PNS (pegawai negeri sipil) setelah sebelumnya hanya sebagai dokter PTT.

Sejak awal ia diangkat menjadi abdi negara (PNS), Edwin melakukan berbagai aktifitas di Puskesmas Sungai Lansek. Selain sebagai dokter medis, ia juga dikenal dengan sebutan dokter Drumband.

Kegiatan fenomenal di Puskesmas itu menjadikan sosok Edwin sebagai dokter yang melekat dengan warga. Pasalnya, bersama istri tercintanya, Arivona, Edwin yang dikenal pemegang sabuk hitam karate itu menjadi pelatih dan pembina drumband SMP Sungailansek.

Berkat kepiawaiannya bersama sang istri melatih drumband, membuat SMP Sungailansek selalu ditingkat kabupaten bahkan tingkat provinsi.

“Alhamdulillah, saat MTQ ke-Sumbar, Drumband SMP Sungailansek yang kami bina tampil di arena MTQ Nasional itu. Saya juga sebagai EO dan pada Porprov Sumbar drumband SMP Sungailansek juga unjuk kebolehan kala itu,”kenang mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Sijunjung itu.

Disaat bertugas di Sungailansek, Edwin ditawari Bupati Marlon untuk hijrah ke Dharmasraya. Mendapat info tersebut, sejumlah tokoh masyarakat pun menjegal Edwin untuk tetap berada di Sungailansek.

Karena sudah menganggap sebagai warga Sungailansek dan mengaku iduk di suku patopang, membuat Edwin terhenti langkahnya hijrah ke daerah pemekaran itu.

Pada tahun 2007, Edwin ditarik ke Dinkes Sijunjung di Muaro. Pria yang dikenal merakyat itupun diangkat Bupati Darius Apan sebagai Kabid Pelayanan Kesehatan yang saat itu Wabupnya Drs.H.Yuswir Arifin.

Belum beberapa bulan jadi Kabid, Edwin pun minta mundur. Tapi, Alloh SWT berkehendak lain, bahwa pada waktu itu, Edwin diminta Bupati Darius Apan untuk mengikuti PIM 3.

“Alhamdulillah, dari 99 peserta Regional Barat, saya berhasil lulus terbaik. Saya menjadi juara satu dan kemudian saya naik pangkat dan diangkat jadi sekretaris Dinkes sekaligus Pj Kadis Kesehatan. Bahkan saat Pj, sempat kursi kadis itu sebulan lamanya tak saya duduki karena saya merinding menduduki posisi itu. Setelah saya minta izin dengan kawan-kawan Kabid dan Kasi, barulah saya duduki kursi kadis itu,”kenang mantan Asisten II Setdakab Sijunjung itu bagi pengalaman.

Setahun jadi Pj, lalu di tahun 2009, Edwin pun dilantik jadi Kadis Kesehatan Kabupaten Sijunjung yang definitif oleh Bupati Darius Apan. Di era Bupati Drs. H. Yuswir Arifin Datuk Indo Marajo, Edwin pun tetap dipercaya menjadi Kadis Kesehatan.

Pemred Jurnalsumbar.Com, Saptarius terlibat dialog ringan dengan Bupati-Wabup Benny-Radi terkait forum inovasi pelayanan publik

Ternyata, keberadaan RSUD Sijunjung, selain Bupati Darius Apan dan Bupati Yuswir Arifin, juga ada tangan dingin Edwin ikut berperan dalam pembangunan rumah sakit kebanggaan warga Ranah Lansek Manih itu.

Tak bisa dipungkiri, tiap tahunnya Edwin berhasil menggaet anggaran dari pusat memcapai Rp20 miliar.

“Alhamdulillah, setiap tahun kita bisa menarik anggaran pusat mencapai Rp20 miliar ke Sijunjung,”kata Edwin.

Selama menjadi Kadis Kesehatan, banyak prestasi yang telah diukir Edwin. Sebut saja, penghargaan untuk segenap pemberi pelayanan kesehatan, Mitra kerja, Masyarakat. Prestasi Nasional Bidang Kesehatan Kabupaten Sijunjung.

Misal, tahun 2013 ; Swasti Saba Padapa (Kabupaten Sehat), Ksatria Bhakti Husada Aratula (Bupati), Puskesmas Berprestasi (Tanjung Gadang), Bidan Teladan (Vitria Elda bidan Calau Sumpur Kudus dari KPDT), KP ASI Eksklusif (Kelas Ibu Balita Tj.Bonai Aur, Puskesmas Kumanis), Wiwerda dan Vistara dan itu dimasa kepemimpinan Bupati Yuswir Arifin.

Bahkan Edwin juga berhasil mengantarkan Puskesmas Tanjung Gadang menjadi juara IV Nasional dan Puskesmas Aie Amo sebagai juara V besar nasional.

Tak kalah menariknya, Edwin juga berhasil mencetus Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Sijunjung dengan pihak PT Garam Madura.

“Tujuan MoU kala itu, untuk selamatkan masyarakat dari stunting. Karena garam-garam yang dijual di pasaran yodiumnya kurang dari 30 persen.Jika kekurangan yodium, bisa menyebabkan penyakit gondok, kurang pertumbuhan dan bisa menyebabkan pendek. Garam dari Madura dan kita buat stempel. Jika ada label Sijunjung, maka itulah garam yang layak dikosumsi,”ucap papar Edwin bercerita.

Bupati-wabup Sijunjung, Benny-Radi

Edwin yang juga asisten III Setdakab itu juga dipercaya Bupati-Wabup Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir,S.STP, M.Si-H. Iradatillah, S.Pt, untuk menjalankan tugas mengawal misi satu bupati.

Apa itu?

“Pelayanan publik yang efektif, efsien, responshif berbasis reformasi birokrasi, dengan kata kunci; satu indikator pelayanan publik, indikator reformasi birokrasi,”ucap dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (Sp. KKLP) itu bernastolgia yang siap jalani visi-misi Bupati Sijunjung dengan sepenuh hati dan semboyan Merubah Kata Menjadi Karya Nyata.

# Yuuk Reform#

# Tampilkan Inovasi mu#

#Jaga Indikator Kinerja#

Lengkapnya, simak video wawancara eksklusif diatas. Mantap..!