Penting Buat Mahasiswa Baru! Tips Dr. Budi MT Lewati Masa Transisi Saat Mulai Kuliah

213

JURNAL SUMBAR | Bandung – Seiring berjalan waktu setiap manusia akan melalui fase perekembangan kehidupan berbeda. Pun demikian saat seseorang mulai menempuh jenjang pendidikan tinggi di kampus.

“Saat mulai masuk kampus seorang mahasiswa baru akan mengalami masa transisi. Tentu ini akan memerlukan sedikit energi supaya bisa melakukan penyesuaian,” ungkap Dosen FISIP UNPAD, Dr. Budi Muhammad Taftazani dalam sebuah unggahan video di kanal Youtube yang diterima redaksi, Minggu (28/8/2022).

Dimasa transisi tersebut, ungkap Budi, seorang mahasiswa baru akan dihadapkan pada dua kemungkinan. Bisa muncul masalah terkait penyesuaian diri atau bisa juga mampu mencapai keberhasilan melewati masa transisi itu dengan tepat dan selamat.

“Respon yang tepat terhadap sebuah perubahan akan berbuah kesuksesan,” cetusnya.

Menurut Budi, masa kuliah di kampus bukan sekedar belajar kemampuan akademik. Selama menjalani perkuliahan mahasiswa akan menghadapi banyak dinamika tersendiri, baik situasi yang menyenangkan namun tak jarang juga menghadapi tantangan.

“Menyelesaikan tugas kuliah, membaca literatur, melakukan bimbingan dengan dosen, diskusi kajian, riset, menulis dan mempublikasikan karya tulis. Semua itu akan dilalui oleh para mahasiswa,”kata dia.

Selama ada pada massa itu, lanjut Budi, mahasiswa baru harus menjaga kondisi psikologisnya tetap stabil supaya bisa melewati banyak aktifitas yang membutuhkan proses berfikir.

“Disinilah pentingnya seorang mahasiswa memelihara kesehatan mental,”ujarnya.
Seperti halnya memelihara kesehatan fisik, kata Budi, mahasiswa juga perlu terus menerus memelihara kesehatan mentalnya agara tetap mampu merespon situasi dengan cara yang positif.

“Bagaimana cara kita berfikir, mengendalikan perasaan, menjaga emosi tetap stabil dan menjaga agar tingkahlaku tetap positif,”terangnya.

Seorang mahasiswa, ujar Budi, harus mampu mengatasi tekanan stress. Pasalnya, hal itu akan mempengaruhi sang mahasiswa dalam berinteraksi dengan orang lain dan menguji kemampuannya dalam mengambil keputusan berkualitas saat menghadapi dilema.

Selain faktor internal, lanjut Budi, kualitas kesehatan mental seorang mahasiswa juga akan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

“Ada faktor keluarga, faktor lingkungan belajar, bencana alam, kesulitan ekonomi, pandemi, pengalaman tindak kekerasan, ketiadaaan akses pada pelayanan kebutuhan dasar, kurangnya dukungan dari orang-orang disekitar, ketidak adilan hingga kesemerawutan kota. Macet itu bisa memicu masalah kesehatan mental kita,” tuturnya.

Menurut Budi, setiap mahasiswa tentu akan memiliki respon yang berbeda terhadap setiap permasalahan eksternal yang menggangu kesehatan mentalnya. Agar gangguan kesehatan mental segera hilang maka seorang mahasiswa harus memiliki pola pikir yang tepat.

“Seorang mahasiswa harus mampu mengembangkan respon-respon baru yang lebih baik dan lebih sehat untuk hari ini dan masa depan. Serta tak terjebak di faktor-faktor penyebab yang sering kali terjadi di masa lalu,” terangnya.
Ditekankan Budi, Kondisi kesehatan mental seseorang akan terus berubah dari waktu ke waktu.

“Penting bagi para mahasiswa untuk terus menerus menyadari kondisi kesehatan mentalnya dan terus berusaha menjaga agar tetap berfikir dan bertingkahlaku positif serta menjaga kestabilan emosi,” tandasnya.[R]