Catatan Bakhtiar Danau: Di Ngarai Sianok, Alam Deja Vu Mengusik Memoriku

304

JURNAL SUMBAR | Bukittinggi – Sudah  beberapa kali mencicipi kuliner di cafe  kota Bukitinggi, putriku Besttia Tri Bayu penggemar kuliner dalam masa cutinya kembali mengajakku dan isteri menikmati dan  merasakan kuliner bernuansa beda di cafe lain.

“Kalau kemaren, kita sudah mencicipi kuliner di haus tea cafe. Kini kita coba menikmati makanan dan minuman di Taruko caferesto natural delicious. Di sini kita bisa pesan berbagai kuliner ala Minang, Indonesia dan Itali “, katanya sambil melarikan mobil brio satya yang disopirinya  dari arah RSU Ahmad Mukhtar Bukittinggi menuju Taruko caferesto natural delicious arah Ngarai Sianok.

Ujarannya aku solang, “Sebaiknya kita tidak usah ke sana, ke tempat yang kemaren saja lah, haus tea cafe. Di sana kita bisa sholat, sajadahnya pun bersih,”.

Tampaknya, putriku Besttia tidak begitu berkenan dengan saran ku seraya berucap, “Papa terus saja begitu, kemaren kitakan sudah minum di haus tea cafe kota Bukittinggi. Nah,sekarang Kita coba lagi sesuatu yang baru agar hidup ini tidak menjenuhkan, dan kapan perlu setiap hari.He…he,” tuturnya seraya tertawa.

Untuk menghindari polemik tentang cafe-cafe itu,  aku pun mengalah, aku ikut, aku turuti kemauannya, kalau toh minta bantuan sama dengan isteriku agar argumentasiku diamini. Rasanya juga akan sia-sia, istri ku punya sifat  ‘ Nrimo’ sudah dapat dipastikan juga akan menerima apa adanya.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 25 menit perjalanan, menuruni jalan-jalan sempit berbatu dengan kondisi berkelok-kelok. Kami tiba di lokasi Taruko caferesto natural delicious saat jarum jam menunjukan pukul 12.00 WIB, Sabtu itu.

Aku akui kedatangan ku ke lokasi Taruko caferesto natural delicious adalah untuk pertama kali. Taruko dikelilingi gugusan ‘ Ngarai Sianok,  Tabiang Takuruang dan Sungai kecil jernih mengalir.

Mengamati Taruko caferesto natural delicious  adalah sebuah tempat kuliner berada di dasar ngarai Sianok berlokasi di Jorong Lambah Nagari Sianok Anam Suku Ampek Koto, Sianok Anam Suku, Kabupaten Agam.

Bangunan Taruko caferesto ditata dengan Interior berbentuk ruangan terbuka, sehingga angin masuk lepas lugas berhembus . Ketika itu pengunjung  lumayan ramai dengan tamu orang-orang yang sudah berkeluarga dan para muda – mudi milenial.

Siang itu, aku memesan kopi Taruko berwarna hitam pekat khas merupakan adukan leluhur puluhan tahun lalu, sehingga aku ingat kembali ke masa kecil bersama nenek di kampung kecil ku Rumbio, Bangkinang.Aku selalu menunggu kopi pemberian nenek yang sedap  itu.

Saat ini di depan mejaku secangkir kopi tubruk Taruko panas dengan hamparan land scafe dengan alam deja vu mengundang kerinduan dan nuansa spesifik. Disamping kopi taruko, Taruko caferesto juga menyediakan beberapa jenis kopi lain mulai dari black coffee sampai Espresso coffee, semacam minuman dihasilkan dari biji kopi yang digiling dengan menyemburkan air panas di bawah tekanan tinggi.

Selain memesan kopi tubruk Taruko, aku juga memesan Kue Tiau goreng merupakan kuliner Tiongkok yang selalu jadi kegemaran ku. Putriku Besttia mengorder noodle soope plus bakso dengan minuman Ice lemond tea, dan isteri meminta Fried potatoes serta tea bottle.Ketiga paket kuliner plus tersebut dihargai Rp 102.000,00, seterusnya jumlah akhir Rp 108.000,00 termasuk tambahan sebotol air mineral ukuran sedang.

Diamati harga yang disodorkan manajemen Taruko caferesto dilihat sekilas mungkin agak kemahalan. Namun paket itu akan  menjadi murah karena pemandangan dipersembahkan Manajemen Taruko caferesto begitu menawan.

Dari catatan ku, melihat kondisi jalan yang sempit dan kurang terawat dengan rumput-rumput panjang  di lapangan sudah sepatutnya lah pemerintah nagari Sianok, dan pemerintah daerah kabupaten Agam bersinergi dengan para pemilik cafe untuk membenahi jalan menuju Taruko caferesto, Kapa toman cafe, dan cafe-cafe yang terus menjamur di kawasan objek wisata Ngarai Sianok itu. habede