Memaknai Safari Jum’at Wakil Walikota Hendri Septa

Oleh : Syaharman Zanhar, S.Sos

287

Wakil Walikota Padang Hendri Septa, BBus, menjadi khatib Jum’at di Masjid Asy Syahidin (dulu Mesjid Pahlawan, Pen) di Jalan S.Parman, Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang 11 September 2020. Mengapa pula Wakil Walikota ini, menjadi khatib? Untuk apa pula dia jadi khatib? Pencitraankah? Apa yang mau dicitrakannya, mau jadi calon gubernur pulakah dia? Atau hanya sekedar cari panggung.
Pertanyaan dan sekaligus pernyataan tersebut, tidak boleh dialamatkan kepada Hendri Septa anak muda yang mendampingi buya H. Mahyeldi Ansyarullah sebagai Walikota Padang periode kedua. Periode pertama pendamping Mahyeldi adalah Ir. Emzalmi. MM sebagai Wakil Walikota Padang yang kemudian dikalahkan Mahyeldi dalam Pilkada tahun 2019. Apakah Herndri Septa ingin mewarisi kepiawaian Mahyeldi jadi Ustad..?
Lalu mengapa Hendri Septa menjadi Khatib Jum;at. Sepertinya pertanyaan ini memang butuh jawaban dan penjelasan konkrit. Masjid Asy Syahidin adalah mesjid ke sepuluh, yang dikunjungi Wakil Walikota Padang Hendri Septa, dalam Safari Jum’atnya. Tiap kecamatan baru 1 mesjid yang berhasil didatanginya, artinya ia sudah bersafari Jum’at mengunjungi sepuluh kecamatan dalam kota Padang dalam tahun 2020 ini. Insya Allah, menjelang akhir tahun ini lengkap berkunjung di sebelas masjid dalam 11 kecamatan. Nanti dilanjutkan di tahun 2021 dan kembali keputaran awal. Digilir, gitu.
Pertanyaan pertanyaan dan pernyataan tersebut, kadang menjadi miris, dan adakalanya berbau sinis. Menjadi Khatib Jum’at bukan urusan pejabat, seperti Walikota atau Wakilnya. Urusan Walikota dan wakilnya, adalah urusan pemerintahan, memikirkan kesejahteraan rakyat, membangun kota, menyelesaikan persoalan persoalan, sosial, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, masalah umat beragama dan tetek bengek lainnya. Kalau urusan Khatib Jum’at itu adalah urusan, juru dakwah, khatib, ustad, alim ulama dan da’i.
Beda memang dengan Hendri Septa, anak sulung H Asli Khaidir yang anggota DPRRI dari Dapil I Sumbar ini. “ Saya ingin menjadi Da’i”, tegasnya membuka dialog dengan Badan Pengurus Mesjid Asy Syahidin, bersama beberapa ketua RW dan RT serta warga Masyarakat Kelurahan Lolong Belanti Kecamatan Padang Utara, usai Shalat Jum’at berjamaah.
Hendri Septa mengungkapkan, bahwa dia telah pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi anggota DPRD Kota Padang 1 periode, masa bakti 2009-2014 dan sekarang merasakan bagaimana rasanya menjadi eksekutif, yaitu Wakil Walikota Padang. Dari dulu sejak kembali kuliah dari luar negeri, begitu sampai di Indonesia, dia sudah punya panggung, bahkan sekarang punya panggung yang lain, yaitu menjadi Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Padang.
“Beda rasanya di panggung atau mimbar dakwah, katanya dan saya suka”, ungkap ayah Athar anaknya yang sekarang sudah mulai sekolah di PAUD. Di panggung dakwah ini, kita menyampaikan ayat ayat suci Al Qur’an, dan Hadist serta menceritakan pengalaman perjalanan hidup Nabi dan Rasul Allah. Hablum Minallah, Wahablum Minannas, pertanggungjawabanya kepada Allah, jadi tidak bisa main main. Tak perlu cari mukalah, tapi cari amal. Biarlah satu ayat, tetapi bermakna, ujar Hendri.
Tidak baik pencitraan lewat dakwah. Itu dosa, kata Hendri lagi. Sedari kecil Hendri mengaku sudah kepengen jadi Da’i. Akan tetapi Hendri, mengakui bahwa ia lebih gampang sekarang mendapatkan panggung. Tanpa ada pengawalan, tanpa didampingi oleh Kepala OPD, Hendri naik turun mersjid berdakwah melalui Safari Jum’at dan hal itu dilakukannya sebagai pribadi Hendri Septa. Namun sebagai Wakil Walikota ia sering didaulat, setelah selesai sholat Jum’at warga masyarakat sudah ngumpul dan kami berdialog tentang banyak hal. Mulai soal ibadah, soal pembangunan, soal got yang tersumbat, soal sampah yang numpuk, jalan yang rusak, soal sekolah yang menumpuk masalah, soal kehidupan, kemiskinan, covid 19, soal dagang, pertanian, kapalo banda rusak dan berbagai persoalan kehidupan warga masyarakat Kota Padang.
Mana yang bisa dicarikan solusinya saat itu, ya kita selesaikan. Mana yang tidak bisa diselesaikan, maka akan menjadi catatan saya untuk dirumuskan dan didiskusikan dengan kepala OPD yang ada, setelah kunjungan itu.
Dakwah itu suruhaan Rasulullah untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas kecintaan kita sebagai muslim untuk agama Allah, Agama islam. Hendri nampaknya pengen mengambil peran itu, sejauh ia mampu melaksanakannya. Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syariat dan akhlak Islam.
Prinsipnya menurut Hendri, dia ingin memanfaatkan Indra yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya, saya gunakan mulut untuk berdakwah, menyampaikan hal hal terbaik sejauh yang kita ketahui, maka saya berdakwah. Saya ingin gunakan telinga saya untuk mendengarkan keluh kesah warga dan sebagai kapasitas wakil walikota saya gunakan untuk mencarikan solusinya. Jika saya tidak mampu dan jika persoalannya agak berat saya rundingkan dengan Pak Wali. Saya punya mata, maka saya gunakan mata saya untuk melihat berbagai macam persoalan yang tumbuh ditengah masyarakat. Maka sebagai pemimpin tentu kita bekerja keras sedapat mungkin kita selesaikan persoalan mereka, kata cucu mantu Bupati Anas malik ini.
Sepanjang perjalanan sebagai Wakil Walikota ini, saya ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kota Padang, tegas Hendri jabatan ini harus memberi makna, dan Dakwah itu penting sebagai media. Tidak ada pencitraan dan tidak usah ditanyakan kenapa saya berdakwah, menjadi khatib dan da’i. Ini adalah salah satu bentuk pertanggung jawaban kepada Allah SWT. Menjadi, pemimpin warga, sekaligus menjadi pemimpin umat. Berdakwah sampai tua, jadi alim ulama dan mubaligh. Tinggal sekarang materi dakwah dan kajian Islam, harus lebih dalam. Ustad Hendri Septa nampaknya mulai menikam jejak ustad Mahyeldi Ansyarullah, Insya Allah. Dua Ustad Pemimpin Padang. (Penulis adalah Ketua Badan Pengurus Masjid Asy- Syahidin)