Ingin Orang Papua Juga Menikmati Rendang, Safei Jual Rendang Harga Tenggang Rasa

446

JURNAL SUMBAR | Papua– Masakan Padang memang sudah dikenal seantero nusantara. Bumbu dan rasanya disukai semua orang. Salah satu masakan yang akrab di telinga adalah rendang. Bahkan, sekarang rendang sudah bisa dikatakan sudah ‘milik’ Indonesia, tidak hanya orang Padang. Kantor Berita CNN pernah menobatkan rendang sebagai salah satu masakan terenak di dunia.

Berita itu tentu membuat bangga kita sebagai orang Indonesia. Tidak sampai disitu saja, chef kondang sekaliber Gordon Ramsay belajar masak rendang dengan datang langsung ke Padang. Namun, dibalik itu, banyak orang hanya bisa mendengar namanya saja, tapi belum pernah sama sekali mencicipi rendang itu sendiri. Misalnya di Papua. Banyak masyarakat Papua penasaran seperti apa rendang itu. Hal ini yang membuat Safei, seorang guru asal Padang di Manokwari berjualan rendang dengan harga Tenggang Rasa.

“Masyarakat Papua sering mendengar nama rendang, tapi rendang sulit ditemukan di warung-warung di Papua, membelinya harus di warung Padang dan harus pergi ke kota, saya ingin masyarakat Papua di desa juga bisa mencicipi rendang, karena bahan bakunya mahal, karena itu saya hanya mengambil untung sedikit saja, yang penting masyarakat bisa menikmati rendang,”ujar Safei.

Harga rendang yang dijual Safei bahkan lebih murah daripada harga yang dijual orang di kota besar seperti Jakarta, padahal di Papua harga-harga semua mahal. Rendang yang dijual Safei ada yang porsi 20 ribu hingga 50 ribu. Itu sudah bisa makan satu keluarga. Tidak hanya menjual dengan harga terjangkau, Safei bersama istrinya memasak rendang tersebut dengan cara tradisional yakni dengan kayu bakar.

Pagi hari sebelum ke sekolah ia belanja ke pasar, lalu istrinya memasak di dapur, setelah pulang sekolah langsung rendang tersebut ia jual keliling dengan sepeda motor.

“Walau murah, rasa sama seperti di Padang,”terang lulusan UNP Padang itu. Selain menjual secara keliling, Safei juga menjualnya secara online. “Walau di Papua, kita tidak boleh ketinggalan mengikuti trend orang belanja, yakni belanja online, sekarang 87 persen orang belanja secara online, dan orang Indonesia menghabiskan 8 jam untuk internet, dan 73 persen penduduk Indonesia terkoneksi dengan internet, ini adalah pasar yang rugi disia-siakan,”terang guru yang juga mengelola taman bacaan di rumahnya itu.

Kedepan Safei bercita-cita ingin mendampingi mama-mama Papua mengolah makanan tradisional mereka untuk bisa dijual secara online, serta menjangkau pasar yang lebih luas. “Banyak makanan tradisiona Papua yang sangat menarik serta punya ciri khas sendiri, namun terkendala dalam inovasi dan teknologi pemasaran, saya punya cita-cita ingin mendampingi mama-mama Papua menjual kulinernya mengikuti era E-Commerce,”tutup Safei. (Agusmardi)