Tokoh Sentral Pemuda Bisa Berantas Diskotik di Jalanan Kampung

Oleh: Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

521

Mendengar dan melihat keramaian anak nagari pada pesta lebaran idul fitri tahun 2022 ini, ada hal yang sangat fenomenal mencemaskan, pindahnya diskotik ke sepanjang jalanan kampung. Padahal diskotik yang sebenarnya tertutup di night club (kelab malam), ini diskotiknya terbuka dan terjadwal bergilir sepanjang kampung.

Keramain diskotik terbuka bermodalkan orgen tunggal itu, dipandang lebih berbahaya dari pandemic covid-19, karena tidak saja membahayakan menambah macet jalan melintas perkampung, bahkan dipandang bahayanya merusak moral dan akhlak anak nagari.

Siapa yang bisa, mengatasinya? Harus bersama! Namun di garda terdepan untuk duduk bersama, tokoh sentral pemuda di Kampung-kampung pada setiap nagari, dipasilitasi oleh pemerintah bersama ormas dan atau Lembaga adat dan agama. Karena pemuda adalah parik paga nagari, pikir Dr. Edi Suandi, tokoh Sumatera Barat asal Pesisir Selatan dalam sebuah percakapan.

Pemikiran Edi Suandi dikuatkan Novermal Yuska, SH Anggota DPRD Pesisir Selatan. Justru, bila tokoh sentral pemuda di kampung-kampung duduk bersama membuat kesepakatan bersama, dipastikan bisa mencegah diskotik, pindah secara terbuka ke kampung-kampung. Kita tidak melarang orgen tunggal, tetapi janganlah diskotik dipindahkan ke jalanan kampung-kampung, kalau mau kampung kita baik aman tenteram, kata Novermal Yuska tokoh advokasi Sumbar itu.

Pemuda membawa orgen tunggal ke kampungnya, bisa mengaturnya. Uang sewa dari pemuda di kampung. Pemuda menyewa orgen tunggal bisa dikehendaki seperti apa pemuda maunya. Kalau mau kampung kita aman tenteram tidak mengundang kerusakan moral, dapat disuruh tampilan artisnya berbusana yang sesuai adat dan agama, yang sopan dilihat sumando dan mamak kita di kampung dan tidak memalukan.

Justru pemuda sebagai parik pagar nagari, tidak saja memagar nagari dari penjahat yang datang dari luar merusak nagari, tetapi juga dengan memegang alua dan patuik dapat memagar nagarinya dari kerusakan moral sekaligus melaksanakan nilai-nilai ajaran agama dengan adat salingka nagari.

Pastilah pemuda parik paga nagari, tidak mau memalukan nagarinya. Mereka di kaumnya, di kampung dan di nagari punya adik perempuan dan adik laki-laki, punya kamanakan laki-laki dan kamanakan perempuan, punya ayah dan rang sumando, punya mamak dan ibu serta saudara ibu perempuan. Secara akal sehat pastilah pemuda tidak tega membiarkan dan mempertontonkan kepada orang yang harus dipeliharanya itu melihat dengan mata telanjang bersamaan-sama para artis orgen tunggal yang tak berbusana di pentas yang mereka bikin bersama-sama di kampungnya.

Bagalanggang mato urang banyak, mamak menonoton, sumando menonton, kamanakan perempuan menonton, betapa memalukan pemuda parik paga itu secara bersamaan melihat artis telanjang berjoget, diikuti pula pemuda kamanakannya sendiri berjoget kesurupan, sambil memasukan tangan memegang uang ke dada dan celana dalam artis telanjang di pentas terbuka itu. Astaghfirullan, sumanda dan mamak rumah berdecak, di mana lagi adat dan agama kita!.

Belum lagi kejahatan yang mungkin timbul akibat diskotik terbuka dengan orgen tunggal sampai tengah malam dan subuh. Menari kesurupan di pentas, minum-minum miras, narkoba. Diikuti di bawah pentas yang menonton, mabuk-mabukan, anak-anak ngelem, bahkan pergaulan bebas terjadi dan pacaran terbuka, dan siapa yang jamin terjebak indehoi (masuk belukar) dan bisa termakan buah terlarang. Bahkan kadang ditunggangi, sampai ada berkelahi antar kampung. Luar biasa banyak bahayanya dan menimbulkan kerusakan moral.

Tidak ada cara lain, ayo pemuda! Mari duduk bersama! Membuat kesepakatan bersama, aktifkan parik paga nagari, tagak di nagari mamaga nagari, tagak di kampung mamaga kampung, tagak di suku memaga suku. Caranya kita laksanakan nilai-nilai adat salingka nagari sebagai pelaksanaan nilai-nilai agama sebagai sandi adat. Kita jalankan misi nagari, adalah nagari aman santoso, baldatun thaiyyibatun warabbun ghafur (nagari yang baik dan mendapat keampunan Tuhan).

Penulis adalah seorang akademisi, budayawan dan ninik mamak di Sumatera Barat.