Bupati Sijunjung; Kami akan Usulkan Buya sebagai Pahlawan Nasional dan Nama RSUD Syafi’i Ma’arif”

1694

Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Bupati Sijunjung, Sumatera Barat, Benny Dwifa Yuswir, S.STP,M.Si, mengaku kehilangan sosok Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif.

Hal itu diungkapkannya diacara “Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif” lewat webinar pada Jumat (10/6/2022) malam pukul 20.00 WIB yang dipandu Sekdakab Sijunjung, DR.Zefnihan, AP.M.Si yang diawali pembacaan kalam illahi oleh qori internasional Dasrizal.

Untuk itupula, Pemkab Sijunjung akan memberi nama RSUD Sijunjung dengan nama Syafii Ma’arif. Termasuk nama Musium juga diberinama Syafii Ma,arif di Sumpurkudus termasuk nama SMK Pariwisata.

“Karena belum ada nama RSUD, maka akan kita namakan RSUD Syafii Ma,arif,”kata Benny Dwifa pada acara itu juga dihadiri Wabup Iradatillah dan para pimpinan OPD Pemkab Sijunjung juga ikut menyaksikan webinar itu.

Irman Gusman

Irman Gusman, dari Los Angeles AS, menyampaikan testimoni, Buya bukan hanya tokoh nasional, tapi berskala global.

“Ada tiga pendekar Chicago (tiga tokoh pembaruan Islam), Prof.Amin Rais, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A dan Prof. Buya Syafii Ma’arif. Saya 28 tahun telah mengenal buya dan saya dekat dengan tokoh mahamdiyah. Buya Syafii Ma’arif sosok tokoh yang langka dan apa yang dilakukan buya dalam Islam kebangsaan itu saya pahami dengan dasar Pancasila,”kata mantan Ketua DPD RI itu.

“Buya menempatkan dirinya sebagai guru bangsa dan tidak terlibat politik. Bedahalnya dengan Amin Rais dan Nurcholish Madjid. Buya orangnya demokratis dan pemikiran tajam. Nilai keteladanan buya harus dilestarikan. Buya tak kalah dengan totoh lain, Minangkabau harus bangga dengan adanya sosok buya,”papar Irman Gusman juga mengakui sosok buya Syafii adalah sosok tokoh yang sederhana.

Simak Malam Ini; Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafi’i Ma’Arif di Zoom Meeting, Moderator DR.Zefnihan,AP.M.Si

“Tak salah kita ajukan beliau sebagai tokoh nasional. Pemikirannya intelektual dan ini akan selalu dikenang sebagai Guru Bangsa dan sosok Minangkabau sejati,”ucap Irman Gusman dari Amerika Serikat.

Fakri Ali

Fakri Ali pengamat sosial, menceritakan disaat buya meninggal. “Buya di semayamkan di masjid kraton Jogyakarta dan Surakarta pusatnya Tanah Jawa. Masjid itu bagian dari kraton Jogyakarta. Secara harfiah, itu sebagai penghormatan. Sepanjang saya ketahui tak ada seperti itu. Ini menunjukan telah terjadi perubahan di kraton. Kebangsawaan tidak lagi didasarkan darah maupun keturunan, tapi ketokohan buya Syafii yang luar biasa,”ucap Fakri.

“Intelektualitas dan intensi buya sesuai dengan pradigma. Sehingga adanya perubahan dan adaptasi. Buya telah menghabiskan hidup beliau di Yogyakarta. Logat buya tetap Minangkabau meski lama di Yogyakarta. Bicara beliau lurus-lurus saja. Buya mendapat tempat di Kerajaan Yogyakarta yang disemayamkan di Kraton Sri Sulthan X. Buya double independen yang dihormati begitu tinggi seorang anak dari Sumpurkudus. Buya mendapat kehormatan yang berbeda yang luar biasa. Inilah relefsi dan seperti yang saya sampaikan untuk buya,”ucap Fakri Ali.

Basril Djabar

Basril Djabar, dalam kesannya, justeru mengenang perjalanannya ke Sijunjung dan pertemuan dengan buya Syafii Maarif sebagai guru bangsa.

“Buya selalu berpesan jaga kesatuan dan persatuan NKRI. Buya selalu menyampaikan Sila Kelima (Pancasila-red) salahsatu tujuan Indonesia Merdeka. Sebab, Sila Kelima ini jauh dari harapan. Perbedaan jangan menyebabkan perpecahan itu yang selalu disampaikan buya. Dan untuk itu buya mengingatkan untuk selalu jaga keutuhan umat Islam,”papar bigboz Harian Singgalang itu.

Syofwan Karim

Syofwan Karim, akan menulis tentang buya. “Sejak 2003, saya tak nyebut buya, tapi profesor. Buya tak mau sebut buya. Jangan panggil saya buya, begitu kata beliau kata itu. Saya tak pantas disamakan dengan buya Hamka, dan HM Mansur,”kata Syofwan Karim mengenang buya.

“Kita sepakat ajukan Buya Syafii Ma’arif sebagai Pahlawan Naaional. Bahkan almarhum ditawarkan oleh pak Jokowi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,”ucap Syofwan Karim.

Asmul Khair keluarga buya, menyampaikan maaf jika selama hidup buya ada kesalahan.

Asmul Khair

“Ditanya buya bagaimana kampung dan bagaimana Muhammadiyah di Kampung. Itu yang ditanya buya saat di rumah sakit,”papar Asmul keluarga buya.

Guspardi Gaus, mengapresiasi pada bupati yang mengusulkan memberi nama RSUD Sijunjung sebagai RSUD Syafii Ma’arif dihari “Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif”.

Guspardi Gaus

“Beruntung Pemda dan masyarakat Sijunjung memiliki tokoh nasional yang sangat sederhana. Buya gampang diajak bicara dan beliau adalah sosok guru bangsa yang tauladan. Beliau memang harus diusulkan diusulkan sebagai tokoh nasional, Pemkab Sijunjung untuk segera mempersiapkan pengusulannya. Presiden Jokowi sangat menghormati beliau, yang ditawarkan pada keluarga beliau dimakamkan di Taman Pahlawan Bangsa, begitu pak Jokowi menghormati beliau,”kata politisi PAN itu.

Guspardi Gaus juga mengisahkan perjuangan buya Syafii Maarif saat perbedaan politik. “Perbedaan jangan dijadikan kesalahapahaman, tapi jadikan sebagai persahabatan dan silaturrahim. Buya itu dari Sumpurkudus, sosok tokoh bukan hanya dari kota atau jawa. Buya sangat sederhana tak ingin nyusahkan orang lain. Pikiran kebangsaan beliau patut disuri tauladni,”kata mertua Bupati Benny Dwifa Yuswir itu.

DR. Zefnihan, AP.M.Si

Webinar “Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif” itu diikuti lebih dari 200 nitizen. Kegiatan itu menampilkan Host Dinas Kominfo Sumbar dan Dinas Kominfo Sijunjung sebagai Co.Host bekerjasama dengan Institute Ma’arif Video Camomunicatio.

Plt Kepala Dinas Kominfo Sijunjung, David Rinaldo, S.STP, kepada Jurnalsumbar.Com, Jumat (10/6/2022) malam mengaku bangga atas terlaksananya kegiatan itu.

Plt Kepala Dinas Kominfo Sijunjung, David Rinaldo, S.STP

Moderator Webinar “Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif” DR. Zefnihan, AP.M.Si, dengan lihai memimpin acara spektakuler itu sehingga berjalan sukses dan lancar. Acara diakhiri dengan doa bersama. *