Lakon ‘Pandowo Boyong’, Kolaborasi TNI AL – Laskar Indonesia Pusaka Lestarikan Seni Budaya

220

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera sekaligus pelestarian wayang orang, TNI AL bersama Laskar Indonesia Pusaka (LIP), didukung Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, akan mempergelarkan ‘Pandowo Boyong’ .

Pertunjukan akan digelar 15 Januari 2023 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Nomor 1, Jakarta Pusat.

‘Pandowo Boyong’ akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia lintas generasi dan berbagai kalangan mulai dari Wayang Orang Bharata, perwira tinggi dan prajurit TNI AL, para, purnawirawan, tokoh-tokoh pecinta sayang orang serta sederet artis Tanah Air.

Dalam pertunjukan ini, para Pati TNI AL didaulat untuk memerankan tokoh utama. Bimasena dipercayakan kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, Prabu Puntadewa diperankan Pangkoarmada RI Laksdya TNI Heru Kusmanto hingga tokoh Jayajarata diperankan Kadispenal Laksma TNI Julius Widjoyono.

Sementara dari kalangan artis Choky Sitohang dipercaya memerankan Harjuna, Putri Khairunnisa sebagai Dewi Gendari dan Dewi Arimbi diperankan Marcella Zalianty.

Dari tokoh masyarakat, ada Giok Hartono Bethari Pertwi, Aylawati Sarwono sebagai Banowati, Yessy Sutiyoso dipercaya memerankani Dewi Suko, Inayah Wahid sebagai istri Punakawan Bagong.

Lakon Pandowo Boyong mengisahkan babak ketika lima orang ksatria bersaudara boyongan dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura.

Kepindahan itu untuk memerdekan diri dari kekuasaan Kurawa. Mereka harus berperang melawan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar dengan punya persenjataan lebih banyak. Namun berkat kesungguhan yang didasarkan niat baik, Pandawa dapat memenangkan perang.

“Intinya boyongnya Pandawa ke Astina menjadi pesan moral masyarakat agar lebih memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila. Bahkan sosok dalam Pandawa Lima pun relevan dengan semangat dan nilai-nilai Pancasila,” kata Direktur Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Aylawati Sarwono, Jumat (9/12).

Lebih lanjut, Aylawati menjelaskan, Puntadewa adalah simbol ketuhanan yang menjadi sila pertama dalam Pancasila.

Bimasena yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, mewakili sila kedua Pancasila. Aruna mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sila ketiga Pancasila. Nakula menyimbolkan sila keempat, yaitu permusyawaratan masyarakat. Sedangkan kembarannya, Sadewa simbol dari sila kelima, keadilan sosial yang benar-benar adil.

“Wayang orang produksi LIP selalu dikemas dengan balutan teknologi modern dan disajikan dalam bentuk yang sangat entertaining dan mudah dimengerti oleh semua orang dari segala lapisan masyarakat di segala usia, layaknya pertunjukan ala broadway,” beber istri dari budayawan Jaya Suprana ini.

Aylawati berharap kesenian panggung wayang orang bisa mendapat tempat lebih besar di hati masyarakat Indonesia, khususnya para generasi muda.

Sementara itu, terkait keterlibatan TNI AL dalam pagelaran seni budaya ini bukti KSAL Yudo Margono sangat konsen dalam pelestarian seni budaya warisan leluhur bangsa Indonesia.

Sebagai informasi, Laskar Indonesia Pusaka (LIP) yang didirikan oleh Jaya Suprana pada tahun 2009 merupakan wadah untuk mengayomi kearifan seni panggung tradisi Indonesia ke taraf internasional dan bertujuan membuat generasi milenial mengapresiasi karya bangsa. (DEY)