Inilah potret buram Pasar Kuliner Silo Sawahluto ketika hujan yang dirasakan pedagang
JURNAL SUMBAR | Sawahluto – Hujan yang mengguyur kawasan pasar kuliner Silo, Sawahlunto, Sumatera Barat, tidak hanya menyisakan tiyik-yitik genangan air di sepanjang jalur, tetapi juga semakin memperparah sepinya aktivitas jual beli. Kondisi jalan yang becek dan berlumpur membuat kawasan relokasi pedagang kuliner itu kian tidak ramah bagi pengunjung.
Pantauan di lapangan, Kamis (16/4/2026), genangan air tampak menutupi jalur utama yang menghubungkan deretan gerobak kuliner. Kursi-kursi plastik tergeletak kosong di bawah payung yang mulai kusam. Tidak terlihat aktivitas pembeli, sementara para pedagang hanya duduk diam menunggu di balik etalase kaca dan sudit-sudut gerobak dagangna mereka.
Kondisi kawasan juga tampak kusam dan suram, terutama akibat sebagian lampu penerangan yang tidak berfungsi, sehingga suasana pasar terasa redup dan kurang nyaman, terutama saat cuaca hujan atau menjelang sore hingga malam hari.
Situasi tersebut memicu rasa frustrasi di kalangan pedagang yang telah berbulan-bulan bertahan di lokasi tersebut.
“Kalau hujan begini, siapa yang mau datang? Kami saja susah berjalan di sini, apalagi pembeli,” ujar M (30), salah seorang pedagang kuliner di lokasi itu.
Ia mengaku, dalam kondisi normal saja jumlah pembeli sudah sangat minim. Dan ketika hujan turun, pasar kuliner itu praktis kehilangan aktivitas.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lain yang menilai kondisi lingkungan menjadi faktor utama sepinya pasar.
“Bukan kami tidak mau usaha. Tapi kalau tempatnya seperti ini, becek, suram, dan kotor orang pasti malas datang. Kami jadi seperti bertahan di tempat yang tidak mendukung,” ujarnya.
Para pedagang juga mulai mempertanyakan lambatnya proses penataan kawasan, termasuk terkait perizinan yang dinilai belum memberikan kepastian. Mereka berharap agar berbagai pihak yang berkepentingan dapat segera mengambil langkah konkret sehingga kawasan tersebut dapat ditata menjadi lebih layak.
“Bukannya kami tidak sabar atau berharap yang berlebihan, tapi yang kami mohonkan tolong tata agar lokasi ini layak, baik di musim panas apalagi saat tiba musim hujan,” kata seorang pedagang.
Dalam keterbatasan tersebut, sebagian pedagang juga berharap adanya dukungan dari pihak-pihak terkait. Mereka menyebut, jika proses perizinan membutuhkan waktu yang panjang dan alot, kiranya dapat dipertimbangkan solusi lain yang bersifat sementara namun berdampak langsung.
“Kalau memang proses perizinan berjalan alot, kami bermohon kiranya ada perhatian dari pimpinan PT Bukit Asam Tbk melalui program CSR untuk membantu menata lokasi ini. Sebagian dari kami juga pernah mendapat pelatihan dan bimbingan dari perusahaan tersebut, jadi kami berharap bisa beraktivitas secara lebih layak,” ujar salah seorang pedagang.
Menurut mereka, persoalan mendasar seperti drainase yang tidak memadai, akses jalan yang belum layak, serta penerangan yang terbatas menjadi hambatan utama. Dalam usaha kuliner, kenyamanan menjadi faktor penting yang saat ini belum terpenuhi.
“Kuliner itu butuh tempat yang nyaman. Orang mau makan, bukan mau kotor-kotor. Kalau jalannya saja begini, siapa yang mau singgah?” ujar pedagang lainnya.
Diketahui, Pemerintah Kota Sawahlunto sebelumnya telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp500 juta dalam APBD Perubahan 2025 untuk pembangunan sarana dan prasarana di kawasan kuliner Taman Silo. Namun, rencana tersebut gagal karena kesepakatan antara pemerintah daerah dan PT Bukit Asam Tbk terkait penggunaan lahan belum tercapai sampai saat ini.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait guna memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai perkembangan proses perizinan dan rencana penataan kawasan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi pelaku usaha kuliner tidak hanya soal daya beli, tetapi juga menyangkut kepastian penataan ruang dan kelayakan lingkungan usaha. Tanpa itu, aktivitas ekonomi sulit untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Di tengah genangan air, pencahayaan yang minim, dan kursi-kursi kosong, para pedagang tetap bertahan. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan yang kian menguat, bahwa tanpa kejelasan dan percepatan penataan, harapan untuk menghidupkan pasar kuliner tersebut sulit terwujud.mar