Semangat HUT RI ke-81, Nada Nalida Ekspor 27 Kontainer Fishmeal Banyuwangi ke Bangladesh Senilai US$739.800

Nada Nalida, “27 Kontainer Fishmeal Banyuwangi Senilai US$739.800 Diekspor ke Bangladesh”

JURNAL SUMBAR| Jakarta – Momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia menjadi catatan penting bagi eksportir muda Nada Nalida. Pada Agustus 2026, sebanyak 27 kontainer fishmeal atau tepung ikan asal Banyuwangi, Jawa Timur, dikirim ke Bangladesh dengan total volume mencapai 540 ton dan nilai ekspor US$739.800.

Pengiriman tersebut dilakukan dalam satu rangkaian jadwal dan diselesaikan dalam waktu sekitar dua hari. Dengan volume 540 ton, rata-rata muatan mencapai sekitar 20 ton per kontainer.

Nilai ekspor tersebut setara dengan sekitar US$1.370 per ton.

Bagi Nada, ekspor fishmeal tersebut menunjukkan bahwa produk sampingan industri perikanan yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah masih memiliki nilai ekonomi ketika diolah dan memenuhi spesifikasi pasar internasional.

«“Banyak orang melihat limbah ikan sebagai sesuatu yang sudah tidak memiliki nilai. Padahal kalau diproses dengan benar, dijaga kualitasnya, dan disesuaikan dengan kebutuhan buyer, produk tersebut justru bisa memiliki nilai tambah dan diekspor,” kata Nada.»

Dari Banyuwangi ke Pasar Bangladesh

Fishmeal yang diekspor tersebut berasal dari Banyuwangi, dengan bahan baku yang juga diperoleh dari wilayah Banyuwangi.

Model bisnis ini memperlihatkan adanya peluang untuk menciptakan nilai tambah di tingkat daerah. Bahan baku yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi lebih rendah dapat diproses menjadi produk yang memiliki pasar di luar negeri.

Bagi daerah sentra perikanan seperti Banyuwangi, aktivitas tersebut berpotensi memperpanjang rantai nilai industri perikanan, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan hingga logistik ekspor.

Bukan Sekadar 27 Kontainer

Yang menarik, pengiriman 27 kontainer tersebut bukan merupakan aktivitas ekspor satu kali.

Nada menyebut pengiriman fishmeal ke Bangladesh dilakukan secara rutin dengan volume sekitar 50 kontainer per bulan.

Jika kapasitas rata-rata tetap berada di kisaran 20 ton per kontainer, maka volume ekspor rutin tersebut setara dengan sekitar 1.000 ton fishmeal per bulan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa bisnis produk turunan perikanan memiliki potensi untuk berkembang menjadi rantai perdagangan yang berkelanjutan, bukan sekadar transaksi ekspor sesaat.

Namun, konsistensi pasokan menjadi salah satu tantangan utama. Semakin besar volume ekspor, semakin besar pula kebutuhan terhadap bahan baku yang stabil, kualitas yang konsisten serta kemampuan memenuhi spesifikasi buyer di negara tujuan.

Hilirisasi Perikanan dari Daerah

Ekspor fishmeal ini juga memperlihatkan potensi lain dari industri perikanan Indonesia: hilirisasi tidak selalu harus dimulai dari komoditas premium.

Produk sampingan atau material yang sebelumnya kurang bernilai dapat memiliki pasar tersendiri apabila diolah dengan standar yang tepat.

Dalam konteks Banyuwangi, model tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru bagi ekosistem perikanan daerah sekaligus menciptakan sumber permintaan bagi bahan baku lokal.

Dengan pengiriman rutin hingga 50 kontainer per bulan, aktivitas tersebut berpotensi menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas turunan perikanan dari daerah dapat masuk ke rantai perdagangan internasional.

Bagi Nada, momentum HUT RI ke-81 menjadi pengingat bahwa semangat kemandirian ekonomi juga dapat diwujudkan dengan membawa produk daerah menembus pasar global.

“Potensinya masih besar. Yang penting bagaimana kita menjaga kualitas, kontinuitas bahan baku dan kepercayaan buyer,” ujar Nada.rel

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.