Menakar (Institusi) Figur-Figur Potensial Calon Bupati Sijunjung

Oleh: Saptarius

890

DI SEJUMLAH daerah, gaung pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 sudah mulai nampak. Termasuk di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Meskipun pelaksanaannya masih cukup lama, yaitu tanggal 23 September 2020 dan proses rangkaian Pilkada baru akan dilakukan pada Maret 2020. Nah, untuk itu sangat menarik untuk diamati.

Sebelum masuk pada nama-nama figur potensial yang santer beredar maupun figur berkualitas yang layak masuk dalam bursa kandidasi, mari berdiskusi mengenai institusi-institusi calon bupati/kepala daerah itu.

Sebab, Pilkada tidak hanya terbatas pada hari H pelaksanaan dengan menggunakan hak pilihnya, melainkan juga turut serta aktif berpartisipasi dalam memunculkan kandidat-kandidat bupati yang berkualitas dan layak didukung untuk memimpin Sijunjung kedepan yang lebih maju dan jaya sesuai “Mars Sijunjung”

Di sisi lain pun, partai-partai politik merasa terbantu dengan munculnya nama-nama alternatif ketika lobi-lobi politik antar partai mandeg dan tidak menemukan kesepakatan.

Berdasarkan pengalaman banyak daerah, institusi-institusi penghasil kepala daerah dapat dilihat sebagai berikut; Bupati-Wakil Bupati Petahana
Pengalaman banyak daerah, kepala daerah petahana adalah kandidat yang digadang-gadang akan kembali maju dalam kontestasi Pilkada. Tidak mengherankan, selama kepemimpinannya pun dapat dianggap sebagai bentuk “kampanye” dengan seringnya nama bupati/wabup muncul dalam pemberitaan.

Dalam hal ini, petahana idealnya memiliki kekuatan popularitas yang tinggi dibandingkan dengan kandidat-kandidat yang lainnya, meskipun dalam kenyataannya akseptabilitas dan elektabilitas dapat berbicara lain.

Namun ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian serius bagi kandidat ini. Pertama, ajang Pilkada menjadi dua pilihan bagi masyarakat, sebagai ajang “pelanggengan” atau ajang “penghakiman”.

Jika masyarakat merasa bahwa kinerja bupati/wabup selama lima tahun memimpin daerah tidak ada kemajuan yang berarti, masyarakat sesungguhnya dapat memanfaatkan momentum Pilkada sebagai ajang “penghakiman” untuk tidak memilih kembali petahana.

Namun, jika masyarakat merasa ada kemajuan yang signifikan dalam kesejahteraannya, tentu ajang Pilkada akan menjadi ajang “pelanggengan” bagi sang bupati/wabup untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Dalam banyak kasus daerah, istri atau anak dari petahana adalah pihak yang paling sering digadang-gadang untuk maju dalam Pilkada. Jika sudah berbicara pada politik dinasti atau politik kekerabatan, maka dapat dipastikan struktur politik yang ditancapkan oleh petahana selama memimpin begitu kuat. Karena struktur politik inilah faktor utama bagi hadirnya dinasti politik di daerah.

Tak percaya? coba kita tengok di daerah lain, Klaten dan Purwakarta, misalnya dapat menjadi contoh. Klaten dalam hal politik dinasti dapat diandaikan sebagai pengalaman terbaik perpaduan antara dua keluarga bupati-wakil bupati, Haryanto Wibowo (alm) dan Sunarna, menguasai daerah selama hampir 20 tahun.

Jika pada periode awal Haryanto dan Sunarna yang menjadi bupati-wakil bupati di tahun 2000-2005, pada periode selanjutnya Sunarna menjadi Bupati. Pada periode keduanya 2010-2015, Sunarna menggandeng Sri Hartini, istri Haryanto Wibowo. Karena sudah menjabat dua periode, Sunarna tidak dapat maju kembali.

Begitu juga di Sijunjung. Era Bupati Darius Apan, Yuswir Arifin menjadi pendapingnya sebagai wakil bupati dalam kepemimpinan Daerius Apan di dua periode. Lalu pada pencalonan berikutnya Yuswir Arifin pun maju bersama Muchlis Anwar dan berhasil menjadi bupati dan wakil bupati.

Di periode keduanya, Yuswir Arifin berpasangan dengan Arrival Boy. Karena dianggap sukses pada periode pertama, lalu masyarakatkan Sijunjung pun memilihnya menjadi bupati untuk keduakali.

Pada Pilkada 2020 mendatang pun belum bisa ditebak, apakah Arrival Boy maju atau tidaknya. Namun disegi pengalaman Arrival Boy dinilai sudah matang untuk turut berkompetisi apalagi ia juga pernah dua periode sebagai ketua Partai Golkar dan berhasil mendudukan politisi pohon beringin itu duakali berturut-turut sebagai ketua DPRD. Sayangnya, pada Pileg 2019, Golkar terpaksa gigit jari, karena jabatan ketu DPRD diembat Partai Gerinda dan itu setelah tak lagi Arrival Boy menjabat di Golkar.

Nah, kemana arah politik Arrival Boy? Meski Arrival Boy belum menentukan sikap, namun peluang Arrival Boy ada “bisikan” dari Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar (baca-jurnalsumbar.com, Kamis, 29/8/2019-red). Disisi lain, nama Drs Haji Syafrizal, MSi Intan Kayo, yang kini menjabat Kabiro Umum Kemenag RI, justeru dipastikan diusung DPC Gerindra pimpinan Drs Syahril Syamra.

Tapi, nama lain disebut-sebut sebagai calon yang bakal diusung Gerindra terdapat nama Benny Dwifa Yuswir yang kini menjabat sebagai Kepala Bapppeda Sijunjung. Selain sosok anak muda yang energig, Benny adalah “Putra Mahkota”. Artinya, peluang Benny untuk maju di Pilkada cukup lebar, apalagi Partai Amanat Nasional untuk tingkat DPP masih ada hubungan “kerabat” dengan Benny.

Tak bisa dianggap enteng, selain PAN, Nasdem bukan tak mungkin mengusung Benny. Karena Yuswir Arifin menjabat sebagai salahsatu dewan pembinanya. Dinasti politik itu bukan tak mungkin, apa lagi dari sejumlah poling nama Benny Dwifa Yuswir memang lebih unggul. Yang menjadi pertanyaan, sanggupkah Benny berhenti dari ASN dengan karirnya yang cemerlang?

Kandidat lain terdapat nama Liswandi, mantan anggota DPRD Sumbar dua periode (2009-2014 dan 2014-2019) yang juga ketua DPC Partai Demokrat juga dinilai punya kans untuk maju. Bahkan Liswandi juga menyatakan siap dengan amunisinya.

Figur lain terdapat nama Ashelfine alias Pepen yang kini menjabat sebagai Ketua DPD PAN Sijunjung. Soal kemampuannya dalam mengurus partai pun tak diragukan. Pengalaman sebagai calon bupati bersama Alfian Kasir (Ketua PPP) tak bisa dianggap sebelah mata. Karena diajang Pilkada ketika melawan Yuswir Arifin-Arrival Boy, Pepen berhasil diposisi kedua setelah menumbangkan petahana Muchlis Anwar-Mayetrinaldi (alm).

Jawabnya cuma satu, jika Pepen maju bersama Benny Dwi Yuswir yang juga punya peluang merebut kursi PAN, makan jalan Pepen akan mulus jika itu Pepen mau untuk posisi Calwabup. Apakah Pepen mau jadi wakilnya Benny? Jawabnya hanya ada di Pepen.

Sarikal, adalah sosok politisi Golkar dan kini iapun digadang-gadangkan sebagai kandidat dari Kamangbaru. Bahkan Sarikal pun menyatakan siap maju jika ia bersama Pepen. “Saya siap jadi Wabup jika bersama dengan Pepen,”katanya seperti dikutif di jurnalsumbar.com.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Uztad Hendri Susanto (UHS) juga termasuk tokoh agamais dan relegius yang digadangkan sebagai kandidat Calbup. Politik UHS pun tak bisa dianggap sebelah mata. Politiknya mengakar dan solid bahkan sudah teruji. Bahkan tak ada waktu bagi UHS untuk istirahat dalam menyanbangi pendukungnya hingga kepolosok-pelosok. Itulah ciri khas UHS yang gigih dan ulet juga peduli pada warga.

Nama lain, juga terdapat nama Indra Gunalan, sosok tokoh pengusaha ini dikabarkan akan maju lewat jalur perseorang bersama Hasrul Piliang dari kalangan akademisi.

Bahkan nama-nama lainnya juga bermunculan, seperti Haji Endre Saifoel (Haji Wen) juga digadang-gadangkan. Sayangnya, politisi Nasdem anggota DPR RI periode 2014-2019 itu hingga kini belum menentukan sikap. Haji Wen masih berbasa-basi dan belum menentukan sikap politiknya. Begitu juga nama Ketua LKAAM Kabupaten Sijunjung, H Efi Radisman,SH Dt Pdk Alam juga masuk nominasi dalam Bacalbup Sijunjung. Ingat, ini hanya predeksi.! (Penulis adalah Wartawan Madya di Sijunjung)