Berebut Jadi Bupati, ASN dan Legislator di Pusaran Politik Pilkada Sijunjung

2310

Oleh: Saptarius

MESKI tertunda, kalau pun tak ada aral melintang, maka perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) bakal digelar pada 9 Desember 2020. Bahkan di sejumlah daerah, gaung pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 sudah mulai ditabuh. Termasuk salahsatunya di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Pelaksanaan Pilkada itu akan digelar pada , 9 Desember 2020 dan proses rangkaian Pilkada pun sudah dimulai. Nah, untuk itu sangat menarik untuk diamati.

Kita harus tahu dan juga harus mencari tahu siapa-siapa figur fotensial yang bakal bertarung dalam Pilkada dan yang layak untuk memimpin daerah (jadi bupati-red).

Nah, sebelum masuk pada nama-nama figur potensial yang santer beredar maupun figur berkualitas yang layak masuk dalam bursa kandidasi, mari berdiskusi mengenai institusi-institusi calon bupati/kepala daerah itu.


Mereka akan Berebut Menduduki Rumah Bagonjong Megah ini pada 9 Desember 2020

Sebab, Pilkada tidak hanya terbatas pada hari (H) pelaksanaan dengan menggunakan hak pilihnya, melainkan juga turut serta aktif berpartisipasi dalam memunculkan kandidat-kandidat bupati yang berkualitas dan layak didukung untuk memimpin Sijunjung kedepan yang lebih maju dan jaya sesuai “Mars Sijunjung” itu sendiri.

Di sisi lain, partai-partai politik merasa terbantu dengan munculnya nama-nama alternatif ketika lobi-lobi politik antar partai mandeg dan tidak menemukan kesepakatan. Santer, ada juga Parpol yang jual mahal dan pilih-pilih siapa yang bakal diusung. Tak jarang, sikap Parpol pun masih ragu-ragu dalam menentukan kandidat yang diusungnya juga menjadi dilema. Apakah soal “amunisi”, hanya mereka lah yang tahu. Yang jelas, politik itu ada cost politik dan itu harus..!

Berdasarkan pengalaman banyak daerah, institusi-institusi penghasil kepala daerah dapat dilihat sebagai berikut; Bupati-Wakil Bupati Petahana, Pengalaman banyak daerah, kepala daerah petahana adalah kandidat yang digadang-gadang akan kembali maju dalam kontestasi Pilkada. Tidak mengherankan, selama kepemimpinannya pun dapat dianggap sebagai bentuk “kampanye” dengan seringnya nama bupati/wabup muncul dalam pemberitaan.

Nah, dalam hal ini, petahana idealnya memiliki kekuatan popularitas yang tinggi dibandingkan dengan kandidat-kandidat yang lainnya, meskipun dalam kenyataannya akseptabilitas dan elektabilitas dapat berbicara lain.

Namun ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian serius bagi kandidat ini. Pertama, ajang Pilkada menjadi dua pilihan bagi masyarakat, sebagai ajang “pelanggengan” atau ajang “penghakiman”.

Jika masyarakat merasa bahwa kinerja bupati/wabup selama lima tahun memimpin daerah tidak ada kemajuan yang berarti, masyarakat sesungguhnya dapat memanfaatkan momentum Pilkada sebagai ajang “penghakiman” untuk tidak memilih kembali petahana.

Namun, jika masyarakat merasa ada kemajuan yang signifikan dalam kesejahteraannya, tentu ajang Pilkada akan menjadi ajang “pelanggengan” bagi sang bupati/wabup untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Dalam banyak kasus daerah, istri atau anak dari petahana adalah pihak yang paling sering digadang-gadang untuk maju dalam Pilkada. Jika sudah berbicara pada politik dinasti atau politik kekerabatan, maka dapat dipastikan struktur politik yang ditancapkan oleh petahana selama memimpin begitu kuat. Karena struktur politik inilah faktor utama bagi hadirnya dinasti politik di daerah.

Tak percaya? coba kita tengok di daerah lain, Klaten dan Purwakarta, misalnya dapat menjadi contoh. Klaten dalam hal politik dinasti dapat diandaikan sebagai pengalaman terbaik perpaduan antara dua keluarga bupati-wakil bupati, Haryanto Wibowo (alm) dan Sunarna, menguasai daerah selama hampir 20 tahun.

Jika pada periode awal Haryanto dan Sunarna yang menjadi bupati-wakil bupati di tahun 2000-2005, pada periode selanjutnya Sunarna menjadi Bupati. Pada periode keduanya 2010-2015, Sunarna menggandeng Sri Hartini, istri Haryanto Wibowo. Karena sudah menjabat dua periode, Sunarna tidak dapat maju kembali.

Nah, begitu juga di Sijunjung. Era Bupati Darius Apan, Yuswir Arifin menjadi pendapingnya sebagai wakil bupati dalam kepemimpinan Darius Apan di dua periode. Lalu pada pencalonan berikutnya Yuswir Arifin pun maju bersama Muchlis Anwar dan berhasil menjadi bupati dan wakil bupati.

Di periode keduanya, Yuswir Arifin berpasangan dengan Arrival Boy. Karena dianggap sukses pada periode pertama, lalu masyarakatkan Sijunjung pun memilihnya menjadi bupati untuk keduakali.


Arrival Boy-Mendro Suarman

Pada Pilkada 2020 ini kemungkinan Arrival Boy maju bersama Mendro Suarman (Sekretaris DPPKB). Suka tak suka, disegi pengalaman Arrival Boy dinilai sudah matang untuk turut berkompetisi apalagi ia juga pernah dua periode sebagai ketua Partai Golkar dan berhasil mendudukan politisi pohon beringin itu duakali berturut-turut sebagai ketua DPRD. Sayangnya, pada Pileg 2019, Golkar terpaksa gigit jari, karena jabatan ketu DPRD diembat Partai Gerinda dan itu setelah tak lagi Arrival Boy menjabat di Golkar (Golkar Kisruh ketika itu-red)

Kini, arah politik Arrival Boy pun sudah ditebak. Ia memastikan maju di Pilkada Sijunjung 2020 bersama Mendro Suarman. Hal itu diperkuat dengan telah berkoalisinya Partai Golkar-Gerindra akan mengusungnya.

“Ya, kami akan berkoalisi dengan partai Golkar untuk mrngusung Arrival Boy-Mendro Suarman menjadi pasangan Calbup/Cawabup,”kata Ketua DPC Gerindra Sijunjung, Syahril Syamra Dt Bgd Nan Putih (baca; Jurnalsumbar. Com) suatukali yang juga diamini Ketua DPD Partai Golkar Sijunjung, Arrival Boy.

Menariknya lagi, dipusaran politik Pilkada Sijunjung, 2020 ini, memunculkan sang “Putra Mahkota” yang digadang-gadangkan untuk jadi bakal calon bupati (Bacalbup). Terbukti, Benny Dwifa Yuswir yang merupakan sosok birokrasi aparatur sipil negara (ASN) yang kini menjabat Kepala Bapppeda Sijunjung, itu pun dengan tegas mengatakan siap maju menjadi Bacabup Sijunjung.


Benny Dwi Yuswir-Iradatillah

Bahkan Benny Dwifa Yuswir pun menyatakan siap mundur dari ASN, dan sang “Putra Mahkota” itupun mengakui telah mendapat restu dari orangtuannya (Yuswir Arifin-red). Benny dimungkinkan berpasangan dengan Iradatillah mantan anggota DPRD Sijunjung yang dinilai cukup pengalaman . Bahkan pasangan ini dinilai pasangan cukup kuat dan mampu masuk kesemua lini kegiatan di Pemkab Sijunjung.

Artinya, peluang Benny-Iradatillah untuk maju di Pilkada cukup lebar, apalagi kabarnya pasangan ini sudah mengantongi surat dari DPP PPP. Bahkan Partai NasDem dikabarkan juga siap mengusung Benny-Iradatillah. Dengan memiliki enam kursi di DPRD Sijunjung (PPP-NasDem) maka diyakini keduanya bisa malanggeng menuju arena Pilkada.

Dinasti politik itu bukan tak mungkin, apa lagi dari sejumlah poling nama Benny Dwifa Yuswir memang lebih unggul.Tapi, belakangan ini, popularitas Benny dibayangi dengan munculnya pasangan Arrival Boy (petahana-red)-Mendro Suarman (Sekretaris DPPKB-) yang juga seorang dokter sangat dikenal banyak pasien.
Dikabarkan, setiap hari pasien Mendro Suarman ini mencapai 200 pasien. Artinya, ada kedekatan emisional sang dokter dengan pasiennya.

Meski begitu, perpolitikan itu tak bisa ditebak seperti sikulit bundar (bola-red). Terlintas dipikiran, dan menjadi pertanyaan, sanggupkah Benny dan Mendro Suarman berhenti dari ASN dengan karirnya yang cemerlang ditengah pusaran politik Pilkada Sijunjung?

Tak hanya Benny, nama Haji Endre Saifoel “Ji Wen” mantan anggota DPR RI yang siap berpasangan dengan Nasrul yang juga mantan anggota DPRD Sijunjung yang maju dijalur perseorangan ini juga tak bisa dianggap sebelah mata. Bahkan pasangan sudah dipastikan maju.


Endre Saifoel-Nasrul

“Alhamdallah, kita hanya nunggu pleno KPU, di Sumbar hanya dua kandidat yang lolos melalui jalur perseorangan dan termasuk saya (endre saifoel-red),”ucap haji Wen pada Senin (13/7/2020) malam.

Selain ASN berada di pusaran politik, sejumlah anggota DPRD Sijunjung juga dikabarkan siap mundur dari parlemen Sijunjung. Mereka adalah Sarika, Uztad Hendri Susanto dan Sarikal. Anggota Parlemen itupun menyatakan siap mundur dari anggota DPRD Sijunjung.

Sarikal sendiri dikabari bakal maju bersama Ashelfine. Bahkan kedua poster dan baleho pasangan utara-selatan ini terpajang di sejumlah kecamatan.

Hendri Susanto juga bakal maju bersama Liswandi (mantan anggota DPRD Sumbar). Jika pasangan ini maju, kemungkinan besar akan diusung PKS dan Demokrat. Namun untuk memenangkan “pertarungan” bagi pasangan ini tak akan semulus jalan tol Jagorawi. Karena Arrival Boy-Mendro Suarman juga berada di lumbung suara yang sama. Artinya, apakah ada yang bakal legowo..? entah lah, hanya mereka yang tahu.


Liswandi-Hendri Susanto

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Uztad Hendri Susanto (UHS) juga termasuk tokoh agamais dan relegius yang digadangkan sebagai kandidat Calbup.

Politik UHS pun tak bisa dianggap sebelah mata. Politiknya mengakar dan solid bahkan sudah teruji. Bahkan tak ada waktu bagi UHS untuk istirahat dalam menyanbangi pendukungnya hingga kepolosok-pelosok. Itulah ciri khas UHS yang gigih dan ulet juga peduli pada warga.

Sedangkan Liswandi, mantan anggota DPRD Sumbar dua periode (2009-2014 dan 2014-2019) yang juga ketua DPC Partai Demokrat juga dinilai punya kans untuk maju. Bahkan Liswandi juga menyatakan siap dengan amunisinya.


Ashelfine – Sarikal

Sementara Sarikal, adalah sosok politisi Golkar dan kini iapun di gadang-gadangkan sebagai kandidat dari Kamangbaru. Bahkan Sarikal pun menyatakan siap maju jika ia bersama Pepen.

“Saya siap jadi Wabup jika bersama dengan Pepen,”katanya seperti dikutif di jurnalsumbar.com suatukali.

Nama Ashelfine alias Pepen yang kini menjabat sebagai Ketua DPD PAN Sijunjung tak asing lagi bagi warga Kabupaten Sijunjung.

Soal kemampuannya dalam mengurus partai pun tak diragukan. Pengalaman sebagai calon bupati bersama Alfian Kasir (Ketua PPP-red) tak bisa dianggap sebelah mata. Karena diajang Pilkada ketika melawan Yuswir Arifin-Arrival Boy, Pepen berhasil diposisi kedua setelah menumbangkan petahana Muchlis Anwar-Mayetrinaldi (alm-red) pada Pilkada 2015-2020.

Ingat, ini hanya predeksi.! (Penulis adalah Wartawan Madya di Sijunjung)