40 Peserta asal OKP Sijunjung Ikuti Dialog Wawasan Kebangsaan GNRM di Batusangkar

397

JURNAL SUMBAR | Batusangkar – Sebanyak 40 peserta dari organisasi kepemudaan (OKP) Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (18 /11/2020) mengikuti Dialog Wawasan Kebangsaan Gerakan Revolusi Nasuonal Mental.

Kegiatan Dialog Wawasan Kebangsaan Gerakan Revolusi Nasuonal Mental yang dikemas Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, itu digelar di Emersia Hotel Batusangkar.

Puluhan pemuda asal Sijunjung itu menghadiri acara tersebut. Mereka berasal dari elemen pelajar SMA/SMK/MA, BEM/Mahasiswa/Menwa, dan Ormas Kepemudaan daerah Sijunjung.

Bahkan juga hadir mahasiswa HMI Jawa Barat, Aldo yang notabene pemuda Sijunjung juga ikut jadi pemateri di Dialog Wawasan Kebangsaan Gerakan Revolusi Nasuonal Mental itu kian menghangat.

Menurut Davil Ronaldo, tujuan dari acara tersebut adalah untuk merevitalisasi watak dan karakter bangsa (nation and charakter building) yang mengacu pada cita-cita persatuan, ketahanan, kemandirian dan keadilan serta kesejahteraan yang dijiwai nilai-nilai Pancasila, agama dan budaya bangsa.

Selain itu, Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) diharapkan bisa membangun karakter bangsa Indonesia dengan mengubah cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai-nilai dan perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian dengan mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong berdasarkan Pancasila. Terdapat gugus tugas GNRM di tingkat Nasional, Kementerian/Lembaga, Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Gugus tugas tersebut melibatkan seluruh komponen bangsa, yaitu, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, perguruan tinggi, dan lain sebagainya,”jelas David.

Dialog yang cukup alot itu dipandu Sekretaris Kesbangpol Sijunjung, Lusi. Dengan cermat Lusi meramu apa yang disampaikan para OKP.

Disisi lain, Asisten Deputi Revolusi mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Alfredo Sani Fenat, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila agar dapat diaktualisasikan oleh setiap warga negara, dalam kedidupan berbangsa dan bernegara melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental.

”Peran Generasi Muda Ikut Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,”ucap Asisten Deputi Revolusi mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Alfredo Sani Fenat.

Gerakan revolusi mental dapat dilakukan dari hal yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat. Secara khusus, memang tidak terdapat anggaran yang dialokasikan untuk program revolusi mental. Revolusi mental bukanlah proyek, tetapi sebuah gerakan, maka dibutuhkan aksi nyata bukan anggaran,”katanya.

“Revolusi Mental bukan jargon yang harus terus diteriakkan. Komitmen dan tindakan nyata dibutuhkan untuk memastikan Gerakan Nasional Revolusi Mental dapat berjalan dan berdampak positif pada pembangunan dan pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Revolusi Mental yang digalakkan pemerintah bukan sekadar jargon yang harus selalu diteriakkan,”tambah Asisten Deputi.

“Bahkan rekan-rekan dari daerah ujung sana, mereka diam-diam berjuang untuk NKRI. Sebab, ini bukan hanya sekedar diskusi saja, tapi kinerja nyata dari GRNM. Seperti soal solusi menyelesaikan sampah dan tertib berlalulintas dan itu bagian dari revolusi mental,”terang Asdep.

Dialog tersebut kian menghangat ketika beberapa pemuda menyampaikan pertanyaan terkait isu kekinian termasuk masalah BPJS juga jadi sorotan. Bahkan salah seorang peserta bertanya apakah mereka bisa menjadi corong Gerakan Revolusi Nasional Mental.

Secara gemblang Asisten Deputi Revolusi mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Alfredo Sani Fenat pun menjelaskan satu persatu.

Dari persoalan masalah umum hingga masalah politik pun dikupas Asisten Deputi Revolusi mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Alfredo Sani Fenat terkait wawasan kebangsaan dan revolusi mental.

“Tergantung kita menyikapinya, mau A ya A atau mau B ya B. Itu semua tergantung kitanya,”papar Asdep.ius