Terkait Soal Penguatan Gugus Tugas Revolusi Mental, Ini Kata Asisten Deputi Revolusi Mental Kementeri PMK RI

131
Penyerahan Cendramata

JURNAL SUMBAR | Batusangkar – Dihadapan puluhan peserta kegiatan Penguatan Gugus Tugas Revolusi Mental tingkat Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Asisten Deputi Revolusi mental kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Alfredo Sani Fenat merasa optimis dengan semangat Pemkab Sijunjung yang mampu mensosialiasikan kepada masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Afredo Sani saat memberikan sambutan dalam kegiatan Penguatan Gugus Tugas Revolusi Mental tingkat Kabupaten Sijunjung, yang berlangsung pada Rabu (18/11/2020) di Emersia Hotel Batusangkar.

Pembukaan kegiatan Penguatan Gugus Tugas Revolusi Mental tingkat Kabupaten Sijunjung itu dibuka Bupati Yuswir Arifin dan diikuti unsur OPD terkait, Tokoh Masyarakat, Budayawan, Pendidik dan juga melibatkan media.

Dalam kegiatan itu juga dihadiri unsur Forkofimda, seperti Ketua DPRD Sijunjung, Bambang Surya Irawan Wakapolres Kompol Andi Sentosa, SH, Letkol Inf Endik Hendrasandi, dan dari Kejari Sijunjung juga hadir termasuk Kaban Lesbanglunmas Sumbar serta Asisten Deputi Eevolusi Mental, Kemenko PMK, Redemtus Alfredo Sani Fenat dan Kaban Kesbanglinmas Sumbar, Mazwir juga hadir.

Menariknya kegiatan tersebut diramu Kepala Kantor Kesbanglinmas Sijunjung, David Ronaldo, S.SPT. Secara gemblang David juga menyampaikan kegiatan tersebur terselenggara atas kerjasama dengan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI.

Seperti dijelaskan Asisten Deputi Eevolusi Mental, Kemenko PMK, Redemtus Alfredo Sani Fenat, bahwa evolusi mental merupakan bentuk proses transformasi pembentukan karakter bangsa melalui pembangunan keluarga. Didalam revolusi mental ditegaskan bahwa karakter dan kesejahteraan bangsa dapat tercipta diawali dari lingkup masyarakat terkecil yaitu keluarga.

Keluarga memiliki peran besar dalam proses pembentukan karakter setiap individu yang nantinya merupakan cikal bakal bagian dari bangsa Indonesia. Di sinilah tugas dan peran orangtua sangat mendominasi keberhasilan pembentukan karakter tersebut.

“Orangtua yang berhasil  dan  Revolusi Mental diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa. Nilai-nilai luhur ini diharapkan dapat menjadi karakter yang menjadi landasan untuk memperkuat kebersamaan dan persatuan, toleransi, tenggang rasa, gotong royong, etos kerja dan menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis,”jelasnya.

Ditambahkannya, terjadinya dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, politik dan kemajuan kehidupan dalam teknologi sehingga nilai-nilai kehidupan yang selama ini menjunjung tinggi adat istiadat, nilai moral dan gotong royong telah bergeser pada nilai yang progmatis, egoistis dan individual.

Panitia juga sibuk atur kegiatan

Untuk mendukung geraka nasional revolusi mental tersebut maka  rencana aksi gerakan gugus tugas yang akan dilakukan  di kabupaten Sijunjung meliputi, Gerakan nasional revolusi mental Sijunjung melayani, Gerakan nasional revolusi mental Sijunjung bersih, gerakan nasional revolusi mental Sijunjung tertib,gerakan nasional revolusi mental Sijunjung, gerakan nasional revolusi mental Sijunjung bersatu dan intinya bertujuan untuk pemahaman dan kesadaran seluruh masyarakat akan pentingnya revolusi mental, Mengevaluasi mental dan kepribadian masyarat dalam berbagai bidang di dalam sendi sendi berkehidupan, Pemerintah kabupaten Sijunjung melalui kantor kesbangpol akan mempercepat pelaksanaan kegiatan gerakan revolusi mental di Kabupaten Sijunjung.

Disebutkan David, Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dicanangkan oleh Pemerintah tersebut telah dilakukan oleh berbagai provinsi di Indonesia melalui berbagai aksi. Sijunjung sendiri sejak 2018 kegiatan tersebut diusulkan.

Bupati Sijunjung, Drs. H. Yuswir Arifin Dt Inda Marajo,MM, menyebutkan, untuk tingkat kabupaten dan kota, Kabupaten Sijunjung pertama kali melaksanakan kegiatan GNRM yang telah memiliki gugus tugas.

Menurut Yuswir, dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong.”

“Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.”

Itulah adalah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.

Revolusi di jaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, perang melawan penjajah dan sekutunya, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, 70 tahun setelah bangsa kita merdeka, sesungguhnya perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir. Kita semua masih harus melakukan revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa.

Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Kenapa membangun jiwa bangsa yang merdeka itu penting? Membangun jalan, irigasi, pelabuhan, bandara, atau pembangkit energi juga penting. Namun seperti kata Bung Karno, membangun suatu negara, tak hanya sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya membangun jiwa bangsa. Ya, dengan kata lain, modal utama membangun suatu negara, adalah membangun jiwa bangsa.

Inilah ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo. Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Jiwa merdeka disebut Presiden Jokowi sebagai positivisme.

Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Para pemimpin dan aparat negara akan jadi pelopor untuk menggerakkan revolusi mental, dimulai dari masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L). Sebagai pelopor gerakan revolusi mental, pemerintah lewat K/L harus melakukan tiga hal utama yaitu; bersinergi, membangun manajemen isu, dan terakhir penguatan kapasitas aparat negara.

Gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada banyak prestasi yang diraih berkat semangat integritas, kerja keras, dan gotong royong dari aparat negara dan juga masyarakat.

Bahkan di Sijunjung sendiri sudah melaksanakan kegiatan penguatan Gugus Tugas Revolusi mental menghadirkan sebanyak 4.000 guru dengan menghadirkan Kak Seto.

Kegiatan juga dilaksamakan penyerahan cendramata dari Asisten Deputi Eevolusi Mental, Kemenko PMK, Redemtus Alfredo Sani Fenat kepada Bupati Yuswir Arifin.ius