Cerita Ketua Penguji UKW Wartawan Utama dari LSPR, Akhmad Edhy Aruman

215

RUANG REDAKSI

Suatu sore, pak Pemred yg sangar sambil tangan bersidekap di dada menunggu di depan pintu newsroom.

Dia menanyai setiap wartawan yg baru pulang hunting : “Kamu dapat berita apa?”

Satu persatu. Dan itu momen yang mengerikan buat anak bawang kayak kami. Rata-rata kami sarjana. Masih kepala 2, dan masih bersemangat. Tetapi dicegat begitu ya tetap saja bikin gugup.

“Berita pembunuhan bos.”

“Siapa sumbernya?”

“Tetangga korban bos.”

“Siapa lagi?”

“Petugas kamar mayat bos.”

“Bagus. Diiin, ini ada HL utk halaman Metro, kasih tiga kolom. Buatin infografis,” teriaknya keras.

Fakhrudin tergopoh-gopoh mencatat. Dia asisten sekretaris redaksi, merangkap kepala bagian infografis.

“Berikutnya. Kamu dapat berita apa?” sorotnya tajam ke antrian berikutnya.

“Anu bos, peresmian jalan di utara kota.”

“Hmmm, ini berita bau wangi. Siapa sumbernya?”

“Kahumas bos. Maaf, pak Wali no comment.”

“Berita lain?”

“Zonk bos.”

“Kamu gak usah masuk kantor saja hari ini. Kamu bukan wartawan,” tegas si bos.

Si wartawan pun balik kanan lunglai.

Begitulah gambaran tahun 1995 di sebuah kantor redaksi.