Tiga Kaki Hendrajoni

Oleh: Erizal

Siapakah kira-kira pengganti Gubernur Mahyeldi nanti? Jawabannya gampang, tapi agak panjang. Kalau tidak Wali Kota dua periode, maka Bupati dua periode. Itu gampangnya. Kalau panjangnya? Wali Kota dua periode itu merujuk pada Mahyeldi yang merupakan Wali Kota Padang dua periode. Sedangkan Bupati dua periode merujuk pada Gamawan Fauzi yang merupakan Bupati Solok dua periode.

Sejak pilkada langsung digelar, khususnya di Sumatera Barat, memang peluang Bupati/Wali Kota dua periode naik ke level provinsi, jauh lebih terbuka lebar dibandingkan yang lain. Irwan Prayitno pernah dari anggota DPR, menjadi Gubernur, bahkan dua periode. Tapi itu setelah ia kalah melawan Gamawan Fauzi. Mulyadi pernah juga hendak mengikuti jejak Irwan Prayitno, tapi ia kalah dengan Mahyeldi, bahkan kalah pula dengan Nasrul Abit.

Lalu siapakah Bupati/Wali Kota dua periode yang berpeluang menggantikan Mahyeldi? Ini pertanyaan gampangnya. Jawaban panjangnya? Ada nama Hendrajoni, Fadly Amran, Eka Putra, Ramlan Nurmatias, Benny Dwifa Yuswir, dan Khairunas. Bisa juga dimasukkan Wakil Gubernur, Vasko Ruseimy, dan anggota DPR seperti Andre Rosiade, Lisda Hendrajoni, Mulyadi, kalau ia masih berminat. Tapi agaknya “trauma” kekalahan Mulyadi belum pulih.

Kemarin, ada nama Arisal Aziz. Balihonya tersebar di mana-mana. Tapi, setelah ia mundur sebagai Ketua DPW PAN, agaknya peluang itu pupus. Kalah sebelum bertanding. Andre Rosiade sudah mengatakan tak akan maju Pilgub Sumbar. Ia menyerahkan pada Vasko Ruseimy. Tapi Vasko Ruseimy punya kendala basis yang serius. Persis seperti Audy Joinaldy dulu. Calon yang datang dari atas memang sulit mengakar ke bawah, meski sudah berusaha keras berkeliaran di bawah.

Lisda Hendrajoni bisa saja maju. Tapi karena Hendrajoni, suaminya, akan maju, ia pasti akan mengalah. Maka, Hendrajoni punya dua kaki pula. Kakinya sendiri, dan kaki istrinya. Dulu orang mengira Lisda tak ada apa-apanya. Jadi anggota DPR hanya karena suaminya Bupati. Tapi setelah Hendrajoni tak jadi Bupati 2021-2025, terbukti suaranya pada Pemilu 2024, meningkat hampir 3 kali lipat. Artinya, Lisda berbeda. Bukan semata-mata karena ada nama Hendrajoni di belakangnya. Ia membangun basis dengan serius.

Dibandingkan Fadly Amran, Eka Putra, Ramlan Nurmatias, Benny Dwifa Yuswir, dan Khairunas, otomatis peluang Hendrajoni lebih terbuka lebar. Sebab, selain punya dua kaki dengan istrinya, Lisda Hendrajoni, Hendrajoni juga punya kaki ketiga. Yakni, Pesisir Selatan. Pesisir Selatan salah satu daerah yang paling solid pemilihnya. Kalau ada putra daerah yang maju ke provinsi, maka biasanya, dukungannya sangatlah besar.

Nasrul Abit sudah membuktikan itu. Menang mendampingi Irwan Prayitno dan hampir menang melawan Mahyeldi. Kenapa hampir menang? Karena sudah berada di luar faktor Nasrul Abit itu sendiri. Sebab, di Pesisir Selatan, Nasrul Abit, sudah menang besar. Kalau saja Wakilnya, Indra Catri, menang kecil saja di Agam, sudah pasti Nasrul Abit menang. Tapi, Agam sendiri saat itu, memang pecah tiga: antara Indra Catri, Mahyeldi, dan Mulyadi. Dan Indra Catri sendiri di posisi ketiga pula, meski sudah menjadi Bupati dua periode di situ.

Selain Pesisir Selatan, ada juga daerah yang karakter pemilihnya relatif solid juga, kalau putra daerahnya maju, yakni Padangpariaman. Muslim Kasim, yang mendampingi Irwan Prayitno pada periode pertama adalah bukti. Setelah Arisal Aziz mengundurkan diri sebagai Ketua DPW PAN, agaknya tak ada lagi tokoh Padangpariaman yang hendak naik ke level provinsi. John Kenedy Azis, baru satu periode sebagai Bupati Padangpariaman. Entah, kalau ia berpikir lain? Tapi gelagatnya belum terlihat.

Berarti, Hendrajoni punya tiga kaki. Kakinya sendiri, kaki istrinya, dan kaki Pesisir Selatan. Lawannya, kalau melihat ke belakang, hanya Fadly Amran, Wali Kota Padang. Eka Putra, Ramlan Nurmatias, Benny Dwifa Yuswir, dan Khairunas, terkendala sejarah yang memang tak mudah dibuat. Bahkan, Yuswir Arifin, Orang tua Benny Dwifa, Bupati Sijunjung dua periode, tak sanggup membuat sejarah itu.

Apakah Fadly Amran berpasangan dengan Hendrajoni berarti Pilgub Sumbar 2029 sudah selesai? Itulah kaki keempat. Namanya takdir. Takdir ini sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, sejak seorang hamba belum dilahirkan. Menerima takdir sebagai Wakil saja, kadang seorang politisi itu sulit menerimanya. Kalau bisa nomor satu, kenapa harus nomor dua? Begitulah.

Saya belum menghitung faktor PKS, yang sudah empat kali Pilgub, berturut-turut keluar sebagai pemenang di Sumbar. Bukan apa-apa. Karena memang, nyaris tak ada kader PKS yang menonjol yang setara dengan Mahyeldi, yang kira-kira bisa menggantikan posisi Mahyeldi, seperti Mahyeldi menggantikan Irwan Prayitno. Ini saya masukan saja sebagai kaki keempat, di mana tak ada seorang pun yang tahu takdir seseorang.

Penulis adalah pengamat politik di Padang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.