Walinagari Pulasan Tanjung Gadang Sijunjung Awardi Datuk Rajo Nan Gadang Pimpin Prosesi Tolak Bala
Walinagari Pulasan Pimpin Tradisi Doa Tolak Bala
JURNAL SUMBAR| Sijunjung –
Masyarakat Nagari Pulasan, Kecamatan Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, hingga kini masih mempertahankan tradisi Tolak Bala, sebuah budaya Minangkabau yang dipercaya dapat mengusir berbagai hama dan gangguan pada tanaman pertanian, seperti padi dan tanaman lainnya. Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Kegiatan Tolak Bala biasanya dilaksanakan di area persawahan. Prosesi diawali dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an di atas pematang sawah, yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan petani.
Beda halnya yang dilakukan di Nagari Pulasan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Di Makam nenek moyang, nan mancancang malatieh Nagari Pulasan atau disebut Tompek Polan.
Prosesi Tradisi Tolak Bala itu dilakukan Ninikmamak nan 40 di tambah duo urang tuo nagari, untuok hajatan meminta pado Allah dimudahkan rizki ditambah Bumi sanang padi manjadi anak buah aman sentosa.
Demikian disampaikan Walinagari Pulasan Awardi Datuk Rajo Nan Gadang kepada Jurnalsumbar, Minggu (30/8/2026) disela-sela kegiatan.
Setelah itu, kegiatan ditutup dengan rangkaian doa bersama yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar tanaman terhindar dari berbagai gangguan yang dapat merusak hasil panen.
Awardi Datuk Rajo Nan Gadang yang juga penguasa Ulayat Nagari Pulasan, menjelaskan bahwa tradisi ini telah menjadi kegiatan rutin masyarakat setiap tahunnya. Selain sebagai bentuk ikhtiar spiritual, kegiatan ini juga memiliki tujuan penting untuk melestarikan budaya Minangkabau sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Menurut Datuak Rajo Nan Gadang, masyarakat Pulasan masih mempercayai bahwa doa dan kegiatan Tolak Bala ini dapat menjadi perantara untuk menjaga tanaman dari berbagai hama seperti tikus, burung, serta binatang lainnya yang kerap merusak sawah.
“Dengan dilaksanakannya tradisi ini, masyarakat berharap musim panen yang akan datang dapat menghasilkan panen yang memuaskan. Melalui kegiatan ini kita berharap tanaman terhindar dari gangguan hama sehingga pada musim panen nanti masyarakat bisa mendapatkan hasil yang baik,” jelas Walinagari.
Diakhir kegiatan, Awardi Datuk Rajo Nan Gadang juga menyampaikan harapannya kepada para anak kemenakan di Pulasan agar terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.
Ia berharap nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur ini dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya. “Kami berharap anak kemenakan yang ada di Pulasan dapat terus melestarikan budaya ini, bahkan mengajarkannya kembali kepada generasi setelah mereka,” tambahnya.
Sebagai penutup kegiatan, Awardi Datuk Rajo Nan Gadang juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Nagari Pulasan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Apresiasi khusus juga diberikan kepada para ibu-ibu yang telah menyiapkan berbagai jenis kue dan hidangan yang diletakkan dilokasi ritual untuk dinikmati oleh para bapak-bapak yang mengikuti kegiatan mengaji itu.
Tradisi Tolak Bala ini tidak hanya menjadi bentuk doa dan harapan bagi para petani, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya Minangkabau terutama di Nagari Pulasan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.*

