Suara Hati Tenaga Pengajar di Masa Pandemi Covid-19

957

oleh.Wanda E.P Romansa, M.Pd

KONDISI penyebaran Covid-19 merupakan kasus yang sudah ditetapkan sebagai sebuah pandemi. Artinya, penyebaran virus ini menyeluruh dan menjadi hal yang dihadapi oleh semua negara di atas permukaan bumi.

Banyak dimensi kehidupan yang akhirnya harus beradaptasi dengan kondisi ini. Ekonomi, pola hidup, kesehatan, dan terutama yang menjadi sangat hangat dibicarakan kali ini adalah pendidikan. Proses pembelajaran dimasa pandemi ini menjadi pembahasan dimana-mana.

Baik itu sisi efektivitas, efisiensi, ketercapaian kompetensi dari pembelajaran, dan sebagainya. Yang banyak juga menjadi sasaran adalah mereka pihak sekolah dan perguruan tinggi, terutama guru dan dosen. Banyak sindiran demi sindiran melalui video – video pendek dimedia sosial serta narasi – narasi yang memojokkan bahkan sinis dengan tugas serta proses pembelajara dan perkuliahan yang diberikan dan dilaksanakan.

Perlu rasanya saya menginformasikan bahwa, Ini adalah kondisi yang sama – sama tidak kita inginkan. Kami juga sedang berusaha dengan maksimal untuk melaksanakan kewajiban kami melayani generasi penerus kita untuk mendapatkan haknya yakni pendidikan, sesuai dengan Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 31. Kami para tenaga pengajar, dengan kondisi ini memiliki banyak persoalan juga, tetapi sebagai sebuah pengabdian, ini tetap harus diselesaikan dan dikerjakan.

Kondisi ini bahkan membuat tenaga pengajar memiliki pekerjaan yang akhirnya tak berbatas waktu. Tenaga pengajar jadi bekerja sepanjang hari, banyak siswa kita yang kadangkala dalam proses pembelajaran daring yang tidak memahaminya dalam pembelajaran daring akhirnya tetap harus dipandu, dan bahkan sampai dengan malam hari. Siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran daring disiang hari akhirnya juga mengkomunikasikannya dimalam hari. Apakah tenaga pengajar ini akan menolak dan mengatakan besok siang saja? Tidak mungkin.

Kami juga akhirnya merubah kembali Rencana Pembelajaran dan perangkat-perangkat pembelajaran yang semula sudah ditata dan disiapkan sedemikian rupa dan akhirnya disesuaikan dengan kondisi pembelajaran daring ini.

Para tenaga pengajar juga akhirnya menyiapkan materi – materi ajar yang disesuaikan dengan kondisi ini.

Belum lagi para tenaga pengajar yang kerap kali mendapatkan siswanya yang tidak peduli saja dengan proses pembelajarannya dan harus mencari cara agar siswa tetap mengikuti pembelajaran. Banyak, sangat banyak sekali persoalan.

Untuk kita ketahui juga, pembelajaran anak – anak dalam masa pandemi ini tidak hanya dilakukan dengan daring saja, tetapi juga ada istilah luring juga. Apa itu luring? Secara sederhana luring bisa diartikan sebagai proses pembelajaran yang dilaksanakan seperti biasa.

Jadi adalah sebuah kesalahan besar ketika banyak beredarnya hari ini sinisme mengenai ketidakmampuan membeli paket data bahkan tidak memiliki HP sebagai sarana pembelajaran daring. Karena siswa yang tidak bisa melaksanakan proses daring sesungguhnya tetap dilayani disekolah ataupun kampus dengan proses tatap muka seperti biasa walaupun tentunya dengan ketentuan – ketentuan protokol kesehatan dan manajemen pengelolaan peserta didik yang harus dimodifikasi. Siswa tetap dapat datang kesekolah seperti biasa.

Jadi, jangan terlalu sempit melihat kondisi ini bahwa begitu memberatkan bagi masyarakat orang tua siswa, hingga bahkan seolah menyudutkan para tenaga pengajar.

Bahkan, dibeberapa sekolah dikarenakan kondisi, harus juga melakukan kunjungan rumah, membentuk kelompok – kelompok belajar kecil. Artinya dalam satu pembelajaran saja, tenaga pengajar bisa jadi melakukan 3 proses yang berbeda, yakni mengajarkan siswa dalam proses daring, kemudian melayani siswa kita yang memilih untuk dilaksanakan dengan proses luring, dan kunjungan rumah bagi siswa yang tidak dapat melakukan proses pembelajaran daring dan luring disekolah, yang semula bisa saja dilakukan dalam 1 kali pertemuan didalam kelas.

Kita juga melihat sangat banyak bentuk protes terhadap biaya yang dikeluarkan dalam proses pembelajaran daring. Mari kita bantu menghitung secara sederhana. Katakanlah paket internet secara sederhana paling mahalnya ada yang didapat dengan harga lebih kurang 100 ribu dan mendapatkan 15 Gb selama 1 bulan, bahkan bisa jadi lebih murah. Hanya itu yang harus dikeluarkan. Coba bandingkan dengan biaya anak – anak kesekolah.

Sebut saja uang belanja 1 hari 5 ribu, dikali 26 hari dalam 1 bulan, jadi 130 rbu. Itu jika uang belanjanya 5 rbu. Hitung saja jika lebih. Transportasi anak jika jarak kesekolah mengharuskan pakai transportasi. Dan banyak biaya lainnya. Tidak etis pula rasanya saya bantu menghitung pembelian baju sekolah, alat – alat tulis dan yang lainnya bukan? Jadi apakah sebenarnya lebih mahal jika ia harus dibandingkan? Seharusnya tidak.

Pada kondisi ini seharusnya kita dalam kondisi saling menguatkan dan bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan demi persoalan. Dan pastinya bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Sekali lagi, tidak ada satupun diantara kita yang mengkehendaki persoalan ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan untuk kita semua dalam menghadapi setiap masalah. Penulis adalah seorang guru, yang juga orang tua siswa.