Debat Calon Bupati Pessel Masih Kurang Fokus, Paslon 03 Lebih Menguasai

265

JURNAL SUMBAR | Padang — Acara debat Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Pesisir Selatan, yang disiarkan langsung oleh media televisi TVRI Sumbar, Rabu (11/11/2020) yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB masih kurang tajam dan moderator tak berhasil mengeksplorasi masalah yang dikemukakan.

Pada awalnya debat, Cabup Hendrajoni menyampaikan visi dan misinya, Pessel memiliki potensi pertanian dan perikanan. Karena itu, perlu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus dan sektor pariwisata tetap menjadi fokus.

Dengan demikian, Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan meningkat. Tingkat hunian hotel menjadi tinggi. Memberi pelatihan pada generasi muda. Mencarikan pemasaran produk lokal.

“Makanya perlu terobosan-terobosan. Itu upaya yang akan kita lakukan untuk mengangkat resesi,” sebut pria yang merupakan petahana Bupati Pessel itu ketika menanggapi pertanyaan dari Paslon 02 Rusma Yul Anwar dan Rudi Hariansyah,

Acara yang menghadirkan 3 Paslon Bupati dan Wakil Bupati Pessel yang ikut debat pada hari ini yaitu, Paslon 01 Hendrajoni-Hamdanus, Paslon 02 Rusma Yul Anwar-Rudi Hariansyah, dan Paslon 03 Dedi Ramanto Putera-Arfianof Rajap, dan dipimpim oleh moderator Didi Rahmadi, di Studio TVRI Sumbar.

Sementara itu menyoal perkembangan kasus Covid-19 di daerah tersebut, ketika menanggapi jawaban atas pertanyaan moderator pada Paslon, penanganan strategis melalui edukasi meningkatkan kepatuhan masyarakat.

Hendrjoni mengatakan, dari berbagai upaya yang telah dilakukan sebelumnya seperti, memperketat perbatasan, ketersediaan alat medis di rumah sakit, dan ruang isolasi di Rusunawa dan tes swab, selama penanganan Covid-19 di Pesisir Selatan.

Sedangkan Paslon 02 Rusma Yul Anwar dan Rudi Hariansyah menekankan pada penurunkan angka kasus Covid-19 i daerah tersebut perlu beberapa penekanan dan penanganan sistem yang baik dari pemerintah.

Pertama, ia akan melakukan blogging terhadap suatu daerah dengan cara meningkatkan pengawasan di beberapa wilayah perbatasan.

Sebab, secara ntrennya kasus yang terjadi di Pessel adalah kasus berdasarkan penularan dari luar wilayah Pessel sendiri.

“Jadi, intinya kita menghambat dan mempersempit ruang terjadinya penyebaran Covid-19 di daerah atau di wilayah kita,” ucapnya dengan tegas

Kedua lanjut Rudi, melakukan tracking di tingkat Puskesmas dan Pustu di Nagari melalui tenaga medis yang ada.

“Nah, dengan hal serius itulah, yang kita lakukan dalam memutus mata rantai dan mencegah klaster baru yang tumbuh di Pessel sendiri,” ujarnya.

Kemudian, tanggapan dari Paslon 03 Dedi Ramanto Putera-Arfianof Rajab yang dijawab oleh Arfianof Rajab mengatakan, lebih menekankan masih minimnya sosialisasi bahaya Covid itu sendiri.

“Intinya, pelayanan pemerintah dalam mengedukasi masyarakat terkait bahaya Covid-19 ini, dan informasi lainnya terkait wabah Covid-19 ini masih kurang,” katanya.

Untuk masalah sektor ekonomi yang akan menuju resesi mulai mengancam perekonomian nasional dan internasional.

Pemerintah daerah harus menyikapi, sehingga tidak berdampak luas pada kinerja ekonomi lokal. Penggunaan anggaran harus sesuai dengan potensi dan keunggulan daerah.

“Dengan begitu, kami optimis dampak resesi dapat kita minimalisir,” ungkap Calon Bupati Rusma Yul Anwar terkait pernyataan Calon Bupati Dedi Rahmanto Putera soal antisipasi dampak ekonomi saat pandemi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sesuai potensi otomatis dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga kini, penopang utama pertumbuhan Pessel masih dilakoni sektor primer.

Dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Pessel masih ditopang sektor primer diantaranya pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Kontribusinya lebih dari 30 persen per tahun.

“Nah, ini yang akan kita prioritaskan. Bukan pariwisata dan bikin gorong-gorong. Sementara kini perjalanan saja dibatasi di tengah pandemi ini,” jelas pria yang kini juga menjabat sebagai Wakil Bupati itu.

Meningkatkan kegiatan hilirisasi bagi komoditi unggulan daerah. Hal itu melalui pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga menyerap banyak tenaga kerja.

Sebab, sebagian besar karakteristik dunia usaha di daerah berjuluk Negeri Sejuta Pesona itu adalah UMKM skala rumah tangga. Populasinya lebih dari 95 persen.

Mendorong penggunaan anggaran daerah berpihak pada pelaku usaha lokal. “Jadi, uangnya berputar di daerah kita dan membantu menjaga daya beli masyarakat,” tuturnya.

Pantauan Jurnal Sumbar, hanya Paslon 03 yang bisa menyampaikan visinya lebih luas, misinya lebih jelas dan menyeluruh. (Agusmardi)